Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 6


__ADS_3

"Mbak Anette!" panggil Anita pada saat melihat ke arah gadis yang ada disamping bapaknya, dan perlahan Anita melepaskan pelukannya.


"Hallo apa kabar saudara kembarku!" balas sapa Anette dan keduanya saling berpelukan dengan eratnya.


"Alhamdulillah saya baik mbak!" ucap Anita dengan mengulas senyumnya.


"Wah, kamu mau mendahuluiku menikah ya!" seru sekaligus goda Anette pada Anita.


"Ma'af ya mbak, habisnya kami sudah kenalan lama. Dan kami saling menyukai sejak kami masih kecil, sebelum mas Damar ke kota menimba ilmu kuliah di jurusan kedokteran." jelas Anita sembari melepas pelukannya dan mengulas senyumnya.


"Hei, namanya Damar ya?" tanya Anette yang penasaran.


"Eh, iya.'' jawab Anita yang tersipu malu.


"Hm, kuliah di jurusan kedokteran. Dia berarti pintar dan yang jelas dia calon orang kaya!" gumam dalam hati Anette yang timbul niat jahatnya .


"Aku penasaran dengan wajah calon adik ipar ku!" ucap Anette seraya mengulas senyumnya.


Tiba-tiba ibu Sunarti memanggil kedua gadis itu.


"Hei para gadis! nggak baik berdiri di depan pintu. ayo kita makan sama-sama!" seru Bu Sunarti.


"Eh, iya Bu." sahut Anita dan Anette yang bersamaan.


Kemudian keduanya melangkahkan kaki keruang makan. Dan semuanya pun makan malam secara bersamaan seperti keluarga utuh yang Sunarti dan Anita harapkan.


Nampak kebahagiaan dikeluarga kecil itu, dan andai saja terus terjadi di keluarga itu. Namun itu hanya mimpi, dihati Sunarti yang mterus berusaha menguatkan dirinya walaupun hatinya telah mati rasa pada suaminya.


Sunarti berusaha tersenyum dan bahagia dihadapan kedua putrinya, agar orang yang disayangi merasakan kegembiraan di hidup mereka.


Beberapa hari kemudian, Anita sudah dipingit. Dan dia tak boleh keluar rumah walaupun hanya menjemur pakaian atau sekedar menyapu halaman rumah.


Karena itu dia di dalam kamar untuk melakukan perawatan sebelum pernikahan. Selain berpuasa, Anita menjalani rangkaian macam-macam lulur dan juga meminum ramuan herbal untuk kesegaran tubuh dan aura kecantikannya sebagai ratu sehari semalam.


Sementara itu Anette merasa kebosanan yang luar biasa, akhirnya dia memutuskan untuk jalan-jalan. Tapi sebelumnya dia berpamitan dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Bapak, ibu! Anette jalan-jalan keliling desa dulu ya! Anette bosan dirumah terus." ucap Anette pada kedua orang tuanya yang sedang mengingat dan menulis siapa saja Yang akan diundang dalam hajatan mereka nanti.


"Iya, hati-hati ya!" jawab Suroso dan juga Sunarti yang bersamaan.


"Oke!" jawab Anette dengan menunjukkan kedua jari jempolnya.


Setelah itu Anette yang memakai celana jins berkaos lengan panjang dan memakai syal yang kemudian dia pakai sebagai kerudung untuk menutupi wajahnya itu melangkahkan kakinya keluar dari rumah orang tuanya dan berkeliling desa dengan berjalan kaki.


Begitu banyak kegiatan para penduduk sekitar yang dia perhatikan. mulai dari depan rumah warga yang sibuk mengeluarkan padi untuk dijemur. Sampai di persawahan dimana ada yang membajak sawah dan ada yang menanam padi.


Anette melihat para petani yang sedang bersendau gurau dan juga burung bangau putih yang hadir di saat sawah dibajak untuk mencari cacing atau ikan-ikan yang kecil.


Tiba-tiba dia berhenti pada saat seorang laki-laki yang melintas dan dengan ramah menyapa para warga yang kebetulan berpapasan dengannya.


Paras tampan dan mempesona menggerakkan hati Anette, dan ada hasratnya untuk berkenalan dan memiliki laki-laki itu.


"Dokter Damar! besok kan mau nikah, kenapa masih bertugas saja?" tanya salah seorang bapak-bapak yang menuntun sepeda kayuhnya yang dibelakangnya ada setumpuk rumput hijau, yang nantinya untuk pakan ternaknya di rumahnya.


"Iya pak, namanya juga tugas! harus tetap di jalani dalam kondisi apapun." ucap seorang laki-laki yang ternyata adalah dokter Damar dengan mengulas senyumnya.


Kemudian Anette membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya kembali ke rumah kedua orang tuanya.


"Wajahku kan sama dengan wajah Anita, dan aku adalah kakaknya. Tak boleh dia mendahuluiku menikah!" seru dalam hati Anette yang terus berjalan seraya berpikir untuk menyusun rencana, agar pernikahan Anita bisa gagal.


Sesampainya dirumah, keadaan rumah sudah ramai. Banyak warga yang berbondong-bondong membantu keluarga Bu Sunarti yang hendak melaksanakan hajatan, menikahkan putri mereka.


"Anita eh Anette ya?"


"Benarkah ini Anette?"


Anette melangkahkan kaki menuju ke kamar Anita yang menghiraukan beberapa warga yang menyapanya. Dia terus saja melangkah dan sampailah dia di depan kamar Anita.


Tanpa mengetuk pintu, Anette langsung masuk begitu saja ke kamar Anita dan menemui Anita yang sedang tidur dengan wajah dan tubuh yang sedang perawatan dengan menggunakan lulur.


"Anita!" panggil Anette dengan cara berbisik.

__ADS_1


"Eh, mbak Anette! ada apa mbak?" tanya Anita yang dengan suara seperti ditahan, karena sedang memakai masker.


"Kamu tahu kan sejak kecil aku selalu di rumah sakit?" tanya Anette yang menatap Anita dengan tatapan sedih.


"I-iya, memangnya kenapa mbak?" jawab sekali Anita yang penasaran, seraya membersihkan masker yang menempel di wajahnya.


"Kamu sebagai adik harus mengalah, biar aku yang menjadi pengantin wanitanya!" bisik Anette di telinga Anita.


"A..apa, tidak mbak! ini soal hati, hatiku dan hati mas Damar yang sudah ada komitmen bersama-sama. Tidak bisa mbak!" seru Anita dengan menggelengkan kepalanya.


"Oh, begitu ya! apa kamu tak kasihan sama aku? aku yang sejak kecil berada diruangan rumah sakit yang selalu bau obat, yang sejak kecil tak pernah melihat dunia luar!" racau Anette yang membuat Anita merasa iba pada saat mengingat begitu banyak selang rumah sakit yang menempel ditubuh mungil Anette waktu itu.


Anita dalam situasi dilema, diantara saudara kembarnya yang menginginkan pernikahannya dia gantikan dan juga hatinya yang memilih dokter Damar yang akan menjadi suaminya.


"Mbak, ini masalah hati. Aku dan mas Damar sudah saling cinta mbak!" seru Anita yang tetap ingin mempertahankan cintanya.


"Baiklah kalau begitu!" seru Anette yang bangkit dari tempatnya duduk dan membalikkan badannya mengarah menuju ke pintu.


Dia mengeluarkan sapu tangan dan juga satu botol kecil obat bius yang kemudian dia tumpahkan diatas sapu tangan itu.


"Kau memang saudaraku, tapi aku mencintai calon suamimu! Ma'afkan aku bila aku rampas kekasih hatimu, saudari kembarku!" gumam dalam hati Anette yang kemudian membalikkan badannya dan menghampiri Anita.


"Eh, kok balik lag....hulppp...!" ucap Anita yang belum selesai bicara, sapu tangan yang sudah diberi obat bius oleh Anette itu menempel di mulut Anita. Seketika itu juga Anita lemas tak berdaya, ambruk diatas tempat tidurnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2