
"Dan mulai hari ini, inilah kamar kamu Anita!" ucap Cintya sembari mengulas senyumnya dan meletakkan koper Anita.
"Terima kasih mama." ucap Anita yang memandang Cintya.
"Sekarang kamu istirahat dan mandi juga bisa, kamar mandinya lewat pintu yang ada di sudut kamar ini." ucap Cintya seraya menunjuk ke arah pintu kamar mandi yang dimaksudkannya.
"I..iya ma!" jawab Anita yang masih takjub dengan suasana di kamar Anette. Dan apa lagi ada kamar mandi di dalamnya.
Cintya kemudian keluar dari kamar tersebut dan membiarkan Anita menyesuaikan dirinya dengan keadaannya yang baru. Maklumlah Anita yang dari desa dan kini ke kota , jelaslah kalau butuh waktu untuknya untuk menyesuaikan kondisinya.
Anita membuka lemari pakaian Anette, dan dia pun terkejut dengan pakaian yang serba glamor dan tentunya hampir semua pakaian Anette itu tanpa lengan atau you can see.
"Wah, apa aku sanggup seperti Anette? ah, tidak-tidak! aku akan tetap menjadi diriku apa adanya!" gumam dalam hati Anita yang kemudian mencari ruang di lemari itu untuk ditempati pakaian-pakaiannya.
Setelah selesai meletakkan pakaian-pakaiannya, Anita mengambil peralatan mandinya handuk dan juga baju gantinya.
Gadis itu kemudian masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya untuk mandi dan lanjut berwudlu untuk mengerjakan sholat Ashar.
Beberapa menit kemudian selesai sholat Ashar, Anita menyempatkan dirinya melihat-lihat isi kamar Anette dengan di mulai melihat-lihat foto-foto yang ada dalam pigura dan menempel di dinding kamar tersebut.
"Banyak juga teman-teman kak Anette, dan sepertinya sekolah kak Anette sekolah yang bergengsi. Beda dengan aku yang hanya sekolah gratisan, dengan sekolah terbuka yang hanya beberapa kali pertemuan saja." gumam Anita yang terus melihat-lihat ke arah yang lainnya.
Gadis itu menuju ke arah meja belajar Anette dan kembali melihat-lihat benda-benda milik Anette.
Tiba-tiba Anita melihat sebuah foto yang dirobek-robek di tempat sampah. Gadis itu mengambilnya dan kemudian merangkainya.
Nampaklah wajah laki-laki yang lumayan tampan dan rambutnya sebahu dengan mata berwarna biru, sepertinya dia berasal dari luar negeri.
"Siapa laki-laki ini ya? kenapa fotonya dirobek-robek oleh kak Anette?" gumam dalam hati Anita yang penasaran.
Tak terasa Adzan Maghrib pun berkumandang, Anita segera berwudlu dan kemudian menunaikan sholat Maghrib di kamar Anette itu.
Beberapa menit kemudian, Anita telah selesai sholat Maghrib, dan tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk.
"Tokk....tokk....tokk....!"
__ADS_1
"Assalamu'alaikum nona!" ucap salam dari luar pintu kamar Anette yang kini menjadi kamar Anita.
"Wa'alaikumsalam....!" balas Anita yang kemudian membuka pintu kamarnya.
"Klek...klek....ceklek...!"
Setelah pintu terbuka, nampaklah seorang pembantu di rumah besar dan mewah itu seraya menundukkan kepalanya.
"Ada apa bi?" tanya Anita dengan ramah.
"Nona ditunggu oleh tuan dan nyonya di ruang makan, sekarang juga." jawab Pembantu itu dengan sopan.
"Oh, baiklah. Saya akan segera ke sana. Terima kasih informasinya." ucap Anita sembari mengulas senyumnya.
Pembantu itu melangkahkan kakinya meninggalkan Anita, sementara Anita menutup pintunya kemudian menghampiri meja rias dan dia menyisir rambutnya yang berantakan.
Setelah selesai Anita melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dan melangkahkan kaki perlahan-lahan menuju ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan itu, ternyata papa dan mama tirinya sudah berada di ruang makan dan sedang menanti kedatangan Anita.
"Tidak apa-apa kok Anita, kita juga sedang berbincang-bincang. Ayo lekas duduk dan ambil makanan sesuai selera kamu. Jangan sungkan-sungkan!" seru Cintya sembari mengulas senyumnya.
"Iya ma, papa dan mama lebih dulu yang ambil. Saya nanti saja setelah papa dan mama mengambil makanan." balas Anita dengan sopan.
Hal inilah yang membuat Cintya sangat menyukai Anita, yang jelas-jelas berbanding terbalik dengan Anette. Walaupun anak tiri, karena dia selalu memanjakan Anette, sehingga Anette tak mengerti rasa hormat dan rasa sayang pada keluarga.
Cintya kemudian mengambilkan nasi berserta sayur dan lauk-pauk untuk suaminya, papa Anita. Setelah selesai, dia mengambil nasi berserta sayur dan lauk-pauk untuk dirinya sendiri.
Melihat kedua orang tuanya yang telah mengambil nasi dan lauk-pauknya, kemudian Anita mengambil nasi, lauk-pauk dan juga sayur untuk dirinya.
Mereka pun makan bersama-sama diselingi pembicaraan-pembicaraan yang ringan-ringan.
"Papa, mama! katanya Anita punya adik laki-laki, siapa namanya trus dimana dia ma, papa?" tanya Anita setelah menelan nasinya yang sebelumnya dia kunyah.
"Adik kamu namanya Raindra dan saat ini belajar di pondok pesantren. Jadi kalau pulangnya nggak ada libur dari tempatnya menimba ilmu." jelas Cintya yang telah menyelesaikan makannnya demikian pula dengan Anita dan juga Pak Suroso.
__ADS_1
"Ma, besok pagi ajak Anita jalan-jalan, ke mall atau ke kampus-kampus yang jurusannya diinginkan oleh Anita."'ucap Pak Suroso sembari menatap istri keduanya dan juga putrinya.
"Baiklah, lagi pula mama lama nggak keluar rumah." balas Cintya yang menatap pak Suroso dan juga Anita.
"Nah, begitu kan lebih baik." ucap pak Suroso sembari mengulas senyumnya.
"Anita, kamu mau kuliah ambil jurusan apa?" tanya Cintya yang penasaran.
"Sejak kecil, saya ingin menjadi seorang dokter, karena setiap kali melihat kak Anette yang selalu sakit dan tak bisa diajak main dan sekolah bareng. Tapi apalah daya karena jadi dokter kan butuh biaya yang tinggi, dan juga kepintaran yang diatas rata-rata. Sedangkan Anita tak punya itu semuanya." jawab Anita sembari menundukkan kepalanya.
"Anita kalau masalah biaya kamu jangan khawatir, yang jadi masalah saat ini adalah semangat kamu untuk belajar. Kami tak khawatir mengeluarkan uang banyak, asalkan kamu juga bisa mengenyam pendidikan yang bisa membuat masa depan kamu lebih baik. Apakah kamu paham sayang?" ucap Cintya dengan lemah lembut, dan tentu saja membuat Anita terkejut sekaligus kagum.
Karena Cintya sama sekali tak menggambarkan kesan ibu tiri jahat dan juga wanita yang sebelumnya mengalami depresi. Kata-katanya selalu bijak dan tentunya dengan lemah-lembut, membuat yang mendengarkannya jadi terpesona.
"Iya ma." ucap Anita.
Kemudian mereka melanjutkan perbincangan di ruang keluarga seraya melihat televisi dan memakan buah maupun camilan.
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, Anita minta ijin undur diri. Karena dia sudah mengantuk dan juga belum mengerjakan sholat Isya'.
"Mama dan papa, Anita ke kamar ya, Anita sudah mengantuk dan sebelumnya mau sholat Isya' lebih dulu." ucap Anita seraya bangkit dari duduknya.
"Iya, kamu juga harus persiapkan apa yang harus dibawa besok ya!" seru pak Suroso yang mengingatkan.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1