
"Iya, kamu juga harus persiapkan apa yang harus dibawa besok ya!" seru pak Suroso yang mengingatkan.
"Baik papa." ucap Anita yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamarnya, demikian pula pak Suroso dan juga Cintya yang menuju ke kamar mereka.
Malam semakin larut dan mereka beranjak ke peraduan dan masuk ke mimpi masing-masing.
****
Keesokan harinya....
Setelah bangun tidur dan menunaikan sholat Subuh, Anita segera mandi dan mengganti pakaiannya serta merias secara tipis wajahnya yang cantik dan sedikit manis itu.
Anita mengambil tas dan juga berkas-berkasnya untuk mendaftarkan dirinya kuliah nanti.
Setelah selesai, Anita bergegas keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya ke ruang makan. Sebelum sampai ke ruang makan, terlihat papanya sedang bersendau-gurau dengan mama tirinya, yang jarang sekali dia melihatnya saat bersama dengan ibu kandungnya, ibu Sunarti.
Ada perasaan kesal dan kecewa, namun harus dia tepis karena ibunya sudah sanggup mengikhlaskannya. Anita pun menghela napasnya untuk sedikit mengurangi bebannya, dan dia melangkahkan kakinya kembali ke ruang makan dimana bibi pembantu sudah menyiapkan menu sarapan untuk semua penghuni rumah mewah itu.
"Selamat pagi bi!" sapa Anita yang menghampiri kursi di samping bibi pembantu yang sedang menuangkan susu di setiap gelas yang berada di meja makan itu.
"Eh, neng Anita. Selamat pagi juga!" balas bibi pembantu itu yang sedikit kaget.
Setelah mengambil kursi dan duduk diatasnya, Anita mengambil gelas yang berisi susu putih dan meminumnya.
"Bi saya boleh tanya?" tanya Anita secara bisik-bisik.
"Mau tanya apa neng? kalau bibi bisa jawab, ya bibi akan menjawabnya." jawab bibi pembantu itu sembari mengulas senyumnya.
"He..he...! kalau Anita boleh tahu, siapa sih nama ibu?" tanya Anita yang membalas dengan mengulas senyumnya juga.
"Daryanti nama bibi, tapi nyonya dan neng Anette sering memanggil dua huruf dari belakang. He..he..he..!" jawab bibi pembantu yang ternyata namanya Daryanti.
"Bibi Ti, apakah benar begitu bi?" tanya Anita yang mencoba menebak karena penasaran.
"Iya begitu neng Anita." jawab bibi Ti yang meletakkan piring satu persatu ke meja yang biasa ditempati kedua majikannya.
Tak berapa lama Pak Suroso dan Cintya datang menghampiri Anita di ruang makan.
__ADS_1
"Lama ya nunggu kami?" tanya Pak Suroso pada Anita.
"Lumayanlah pa!" jawab Anita sembari mengulas senyumnya.
"Ayo lekas ambil makanannya Anita!" seru Cintya sembari duduk, demikian pula dengan pak Suroso.
"Biar mama lebih duluan, Anita belakangan ma.'' sahut Anita dan hal itu membuat Cintya mengulas senyumnya.
Dia paham dengan anak sambungnya ini, yang lebih sopan dari saudara kembarnya. Usia mereka terpaut lima belas tahun.
Cintya kemudian mengambilkan nasi berserta sayur dan lauk-pauk untuk suaminya, papa Anita. Setelah selesai, dia mengambil nasi berserta sayur dan lauk-pauk untuk dirinya sendiri.
Melihat kedua orang tuanya yang telah mengambil nasi dan lauk-pauknya, kemudian Anita mengambil nasi, lauk-pauk dan juga sayur untuk dirinya.
Mereka pun sarapan bersama-sama, diselingi pembicaraan-pembicaraan yang ringan-ringan dan akhir ya mereka menyelesaikan sarapan pagi ini.
"Ma, nanti mama carikan kampus terbaik buat Anita, mama kan yang lebih tahu mana kampus yang paling baik di kota ini. Dan kalau ada apa-apa bilang ke papa ya!" seru pak Sunaryo sembari menggenggam punggung tangan istri keduanya.
"Iya pa! papa jangan khawatir. Mama akan laksanakan perintah papa." ucap Cintya dengan mengulas senyumnya.
"Jangan lupa ajaklah mang Ujang sebagai sopir, papa nggak mau kalau mama capek nantinya dan mama akan sakit. Mama nggak mau kan ke rumah sakit lagi?" ucap Pak Suroso di dengan lemah lembut.
"Iya, pa. Mama mengerti." ucap Cintya yang tak berapa lama mendapat kecupan di keningnya dari pak Suroso.
Anita sempat mengalihkan pandangannya dengan menundukkan kepalanya, kemudian mengambil gelasnya yang sudah habis isinya dan dia mengisinya dengan sisa susu di dalam teko.
Tidak sampai penuh Anita mengisi gelas tersebut, dia kemudian meminum susu tersebut.
"Anita, papa bekerja dulu ya! kamu jalan sama mama Cintya, papa harap kamu jangan usil seperti Anette!" seru Pak Suroso yang kemudian menatap Anita.
Gadis itu yang telah meletakkan gelasnya, kemudian menganggukkan kepalany tanda mengerti dengan maksud papanya.
"Iya pa!" jawab Anita.
"Bagus, papa berangkat kerja dulu!" ucap pak Suroso yang kemudian Anita mencium punggung tangan papanya.
Pak Suroso melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama rumahnya untuk keluar dari rumah mewahnya, dan Cintya mengikuti suaminya dengan membawa tas kerja yang biasa dibawa oleh pak Suroso bekerja.
__ADS_1
Anita menghela napasnya dan hendak membawa piring dan gelas bekas dia makan ke tempat pencucian piring yang ada di dapur.
"E....neng Anita, anda mau apa?" tanya bibi Ti yang menghampiri Anita.
"Ini mau mencuci piring bi Ti!" balas Anita seraya menunjukkan piring dan gelasnya.
"Eh, biar bibi saja yang mencucinya. Neng Anita kan mau mendaftar kuliah, nanti kotor lho pakaiannya!" seru bibi Ti yang sangat cemas.
"Tapi bi, saya biasa dirumah seperti itu!" balas seru Anita.
"Sudahlah neng, sebaiknya neng Anita lekas menghampiri nyonya. Neng mau saya dipecat?" ucap Anita yang kemudian diam dan berpikir.
"Eh, apa sampai segitunya ya? mama dan papa akan memecat bibi Ti karena membiarkan aku mencuci piring bekas akanku sendiri?" gumam dalam hati Anita.
"Anita!" panggil seorang wanita yang menghampiri gadis yang masih terbengong itu.
"Eh, mama Cintya!" seru Anita yang terkejut dan kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah Cintya.
"Memang benar para pembantu dan karyawan yang lainnya akan mama pecat, jika mereka tak melakukan hal yang benar. Jadi cuci piring adalah salah satu tugas para pembantu, jadi kamu harus biasakan diri hidup disini sebagai putri mama. Yang artinya kamu adalah majikan mereka! apakah kamu mengerti Anita?" ucap Cintya yang mencoba menjelaskan pada Anita.
Namun hal itu sangat bertolak belakang dengan hatinya yang telah sejak kecil di didik mandiri oleh ibunya, dan tiba-tiba di rumah mama tirinya dia diperlakukan bak putri raja.
Walaupun jiwanya memberontak, tapi Anita tetap menahan diri. Dia masih menghormati Cintya sebagai orang tua.
"Iya ma, Anita mengerti." ucap Anita dengan pasrah.
"Ayo kita berangkat sekarang! lagi pula mang Ujang sudah selesai memanasi mobil. Jadi mau tunggu apa lagi!" ajak Cintya yang tanpa menunggu Anita menjawabnya, sudah membalikkan badan dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang makan.
"I...iya ma!" jawab Anita dengan setengah berlari mengejar Cintya dan berusaha berjalan beriringan dengan mama tirinya itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...