Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 62


__ADS_3

"Beberapa hari kita meninggalkan kampung halaman kita, seperti bertahun-tahun rasanya!" seru Anita yang terus menebarkan pandangannya ke luar mobil seraya mengulas senyumnya.


"Iya." jawab dokter Damar yang kemudian membelokkan arah mobil yang dikendarainya masuk ke halaman rumah Ibu Sunarti, ibu kandung Anita.


"Nah kita sudah sampai!" seru dokter Damar pada saat menghentikan laju mobilnya tepat didepan teras rumah Anita.


"Iya mas! Alhamdulillah kita sampai dengan selamat!" seru Anita yang kemudian melepas sabuk pengamannya dan kemudian mengambil tas ransel yang berisikan pakaian dan benda-benda milik Anita lainnya.


"Assalamu'alaikum...!" ucap salam Anita yang keluar dari mobil dan melangkahkan kaki menuju ke teras rumah.


"Wa'alaikumsalam..!" balasan dari dalam rumah yang tentu saja sangat Anita hapal suara itu.


"Ibu....!" panggil Anita yang kemudian menghamburkan diri mememlik ibunya.


"A...Anita!" balas panggil Bu Sunarti yang terkejut pada saat melihat putrinya yang saat ini memeluknya.


"Ibu, Anita kangen!" racau Anita seolah menumpahkan seluruh perasaannya yang selama ini dialami oleh Anita.


"Iya, ibu juga kangen padamu. Kenapa kamu pulang? bukannya kamu kuliah disana?" tanya ibu Sunarti yang penasaran dengan putrinya.


"Iya Bu, ada hal penting. Makanya Anita pulang dan sama mas Damar Bu!" jawab Anita seraya melepaskan pelukannya.


"Nak Damar?" tanya ibu Sunarti yang sangat terkejut.


"Iya, itu dia anaknya Bu!" jawab Anita seraya membalikkan badannya serta menunjuk ke arah dokter Damar.


"Kau ini ya...!" seru ibu Sunarti dengan wajah memerahnya.


"Plakk....!"


Satu tamparan mengenai pipi sebelah kiri Anita.


"I...ibu! kenapa ibu menamparku?" seru sekaligus tanya Anita seraya mengusap pipinya yang memerah.


"Kenapa kamu bisa pulang dengan suami kakak kamu! Apa nggak ada laki-laki lain saja, hah...!" benta ibu Sunarti yang tanpa sadar suaranya menjadi pusat perhatian para tetangga.


"Ibu, tunggu dulu biar Damar jelaskan Bu!" seru Damar yang maju selangkah.


"Jelasin apa,hah? kau ini juga, sudah menikah kenapa masih dekati Anita!" seru Ibu Sunarti yang kini kedua matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


"Bu, sebaiknya kita masuk dulu! Nggak enak dilihat para tetangga!" seru Anita yang kemudian menggandeng tangan ibunya dan menuntunnya masuk ke rumah, dan dokter Damar mengikuti dari belakang.


Sesampainya di ruang tamu, Anita duduk sejajar dengan ibunya dan dokter Damar berada didepan mereka dengan terhalang meja yang berada ditengah kursi yang tertata rapi di ruang tamu itu.


"Ibu, dengarkanlah hal yang sebenarnya dari mulut mas Damar ya!" pinta Anita lirih dan Bu Sunarti mulai berkurang emosinya.


"Sebetulnya ada apa ini?" tanya ibu Sunarti yang raut wajahnya nampak pucat, kekawatirannya telah menguasai dirinya. Karena yang ada dipikirannya kali ini kalau dokter Damar telah menikah dengan Anette saudara kembar Anita.


"Ibu, yang menikah dengan saudara kembar Anita itu adalah kakak saya Danar yang sejak kecil dibesarkan oleh nenek, ibu dari ibu di Bali. Jadi saya sama sekali belum menikah!" jelas dokter Damar dengan yakin.


"Be..benar begitu Anita?" tanya Bu Sunarti yang masih belum percaya.


"Benar Bu, mas Damar ternyata ada panggilan tugas ke kota, tepat malam sebelum menikah. Jadi dengan terpaksa pengantin pria diganti oleh kakaknya mas Damar yang baru datang dari Bali." jawab Anita seraya mengusap punggung tangan ibunya.


Terus kenapa kalian bisa saling bertemu?" tanya ibu Sunarti yang penasaran.


Anita dan dokter Damar kemudian menceritakan dari awal kedatangan mereka ke kota sampai berada kembali ke kampung halaman mereka saat ini.


"Oh, jadi begitu ya? Jahat sekali si Haikal itu!" gerutu ibu Sunarti dengan kesal.


"Iya begitulah Bu, dan kami pulang ke kampung ini untuk memberitahukan pernikahan kami." ucap Anita.


"Iya Bu, sebentar ya mas! Anita mau buat minum dulu!" seru Anita yang meminta ijin pada calon suaminya.


"Iya, cepetan sedikit! mas nanti rindu!" goda dokter Damar seraya mengulas senyumnya.


"Ah, mas Damar! jangan bercanda di depan ibu!" bisik Anita seraya mengedipkan mata sebelah kirinya.


"Oh, ma'af!" ucap Damar yang menyadari akan ucapan refleknya yang menggoda Anita, karena dia menyadari kesepian yang dirasakan oleh ibu Sunarti selama ini yang jauh dari suami dan kedua putrinya.


"Sudah, ibu nggak apa-apa! Ibu sudah terbiasa. Lekas buat minumannya Anita!" seru ibu Sunarti yang menutupi perasaannya yang sebenarnya.


"Iya Bu." jawab Anita yang bergegas melangkahkan kaki menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuk mereka bertiga.


Dokter Damar melanjutkan ceritanya, dan ibu Sunarti menyimaknya.


Beberapa menit kemudian Anita datang dengan membawa nampan yang diatasnya ada tiga gelas dan satu teko berikut dengan toples yang berisi makanan ringan.


"Nah, akhirnya sudah datang. Mari nak Damar diminum dan dimakan jajananya." ucap ibu Sunarti dengan ramah.

__ADS_1


"Iya Bu, terima kasih!" ucap dokter Damar, dia segera ambil makanan ringan dan sesekali meminum minuman yang dibuat Anita.


Mereka bertiga melanjutkan obrolan, sampai waktu menjelang Maghrib dan dokter Damar undur diri dari rumah ibu Sunarti.


Setelah berpamitan dengan Anita dan juga ibu Sunarti, dia melangkahkan kaki menuju ke mobil yang dia bawa tadi dan kemudian menyalakan mobil tersebut.


Mobil yang dikemudikan oleh dokter Damar itu melaju menuju ke rumah orang tua dokter Damar yaitu pak Sasmita.


Sesampainya di rumah, dokter Damar segera masuk dan disambut oleh kedua orang tuanya, setelah berbincang sejenak dokter Damar segera membersihkan dirinya dan kemudian mengganti pakaiannya.


Adzan sholat Maghrib terdengar dari toa masjid terdekat, dokter Damar dan ayahnya melangkahkan kaki menuju ke masjid untuk menunaikan sholat Maghrib berjamaah di Masjid.


Selama di perjalanan ke Masjid, banyak yang menyapa dokter Damar. Selain say hello ada yang menanyakan kabar dan sampai pernikahan. Karena banyak yang belum tahu kalau yang menikah kemarin adalah Danar dan Anette.


Beberapa menit kemudian mereka telah selesai sholat Maghrib dan kembali pulang.


Sesampainya dirumah, ibu dokter Damar menyambut mereka dan kemudian mengajak kedua laki-laki beda usia itu untuk makan malam bersama.


Mereka bertiga melangkahkan kaki ke ruang makan, dan diruang makan itu telah tersaji banyak makanan diatas meja makan.


"Ayo Damar, kita makan. Sudah berapa hari kita tak makan bersama seperti ini ya! he...he...!" ucap pak Sasmita yang terkekeh.


"Iya pak, Damar juga sangat kesepian saat sebelum bertemu dengan keluarga Anita di kota." ucap Damar seraya mengulas senyumnya.


"Sudah makan dulu, nanti kamu harus ceritakan semuanya, saat kamu di kota!" seru Ibu Sasmita yang telah mengambilkan nasi untuk pak Sasmita.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


...      ...

__ADS_1


__ADS_2