
"Sudah makan dulu, nanti kamu harus ceritakan semuanya, saat kamu di kota!" seru Ibu Sasmita yang telah mengambilkan nasi untuk pak Sasmita.
"Iya Bu!" ucap dokter Damar yang kemudian mereka makan dengan lahapnya.
Setelah makan, dokter Damar menceritakan tentang apa yang telah terjadi dari kepergiannya dari kampung, sampai dia pulang ke rumahnya saat ini.
"Sepertinya kamu dan nak Anita memang sudah berjodoh, buktinya lemanamu kalian melangkah, akhirnya bertemu juga. Jadi memang seharusnya kalian cepat untuk menikah!" usul ibu Sasmita.
"Aku juga setuju Bu!" ucap pak Sasmita sembari mengulas senyumnya dan menatap ke arah dokter Damar.
Tak terasa Adzan sholat isya berkumandang, kedua laki-laki itu kembali melangkahkan kaki menuju ke masjid untuk menunaikan sholat Isya'.
Beberapa menit kemudian mereka telah menyelesaikan sholat Isya' dan kembali melangkahkan kaki pulang ke rumah.
Sesampainya dirumah, mereka kembali berbincang-bincang tentang yang akan mereka lakukan esok hari.
Malam semakin larut, akhirnya mereka satu persatu masuk ke kamar mereka dan mulai mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka.
cxx****
Keesokan harinya dokter Damar mengajak Anita mengurus segala keperluan mereka untuk kelancaran pernikahan mereka.
Setelah semuanya beres, keduanya pamit pada orang tua masing-masing untuk kembali ke kota untuk menyelesaikan urusan di kota.
Untuk dokter Damar yang masih bekerja dan Anita juga masih kuliah.
Perjalanan kembali ke kota saat ini terasa lebih cepat sampai, mungkin karena beban mereka yang telah berkurang.
Dan akhirnya mereka telah sampai pada sore harinya, setelah membersihkan diri dan sholat Maghrib berjama'ah, mereka makan bersama.
Setelah makan dokter Damar dan Anita melaporkan apa yang telah mereka lakukan saat berada di kampung halaman.
"Alhamdulillah sejauh ini semuanya sudah lancar, kini kalian selesaikan pekerjaan dan belajar kalian untuk persiapan libur cuti pernikahan kalian berdua." saran nyonya Cintya.
"Iya ma." jawab Anita dan dokter Damar yang bersamaan.
Setelah perbincangan selesai, mereka sholat isya'berjamwaah dan setelah itu mereka melangkahkan kaki ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Tuan Suroso dan nyonya Cintya melangkahkan kaki ke kamar mereka, Anita menuju ke kamarnya dan dokter Damar menuju ke kamar tamu yang biasa dia pakai untuk beristirahat.
Malam semakin larut dan rumah semakin sunyi dan senyap.
****
Keesokan harinya, setelah bangun tidur, sholat subuh dan membersihkan diri, mereka semuanya berkumpul di ruang makan untuk sarapan.
__ADS_1
Setelah semuanya berkumpul, mereka sarapan dengan makanan yang sudah dihidangkan oleh bibi Ti.
Kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke luar, betapa terkejutnya mereka pada saat tahu tentang keberadaan mang Ujang yang sudah stand by disamping mobil.
"Mang Ujang?" panggil Anita dan yang lainnya yang memang kaget melihat kemunculan mang Ujang si sopir pribadi keluarga tuan Suroso
"Selamat pagi tuan dan nyonya." sapa mang Ujang dengan ramah.
"Selamat pagi juga mang Ujang!" balas tuan Suroso yang mewakili keluarganya.
"Mang Ujang kapan baliknya?" tanya nyonya Cintya yang penasaran.
"Semalam nyonya, ma'af saya tak membangunkan nyonya dan tuan. Bibi Tibyang membukakan pintu buat saya." jawab mang Ujang dengan sopan.
"Oh, begitu ya! bagaimana dengan istri dan bayi kamu?" tanya nyonya Cintya yang menanyakan keluarga mang Ujang.
"Alhamdulillah anak saya lahir dengan sehat demikian pula dengan ibunya nyonya." ucap mang Ujang.
"Wah, Alhamdulillah. Laki-laki apa perempuan mang?" tanya Anita yang ikut nimbrung.
"Laki-laki neng!" jawab mang Ujang.
"Kebetulan dan pas sekali mang Ujang balik ke sini. Ada tambahan tugas penting yang harus mang Ujang lakukan!" seru Tuan Suroso.
"Tugas apa ya Tuan?" tanya mang Ujang pada majikannya.
"Saya masih belum mengerti, tuan?" tanya mang Ujang yang memang masih kebingungan.
"Mang, nanti Anita ceritakan saat diperjalanan. Sekarang ayo kita berangkat, keburu siang!" seru Anita yang mengingatkan.
"Iya ayo kita lakukan aktifitas masing-masing!" seru dokter Damar.
"Iya." ucap Anita, dan semuanya menuju ke mobil masing-masing.
Tuan Suroso dan dokter Damar yang masuk ke mobil masing-masing, kemudian melaju ke arah berlawanan dengan kampus Anita.
Nyonya Cintya untuk sementara ikut dengan Anita ke kampus, dan selama dalam perjalanan, Anita sibuk menjelaskan alasan papanya memberi tugas ekstra pada mang Ujang.
"Wah, ternyata mas Haikal itu psikopat atau Toxic eh entah apa itu pokoknya dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Hm....! nggak bisa didiamkan neng laki-laki seperti itu. Takutnya disaat kita lengah, dia akan berbuat macam-macam!" ucap mang Ujang yang berpendapat sesuai yang dia ketahui.
"Wuih, bisa berpendapat pula kau mang Ujang! he..he...he..!" ucap nyonya Cintya sambil terkekeh.
"Iya, begini-begini saya juga pernah sekolah nyonya!" seru mang Ujang seraya mengulas senyumnya.
"Saya tahu mang! tapi yang jelas kita harus saling berkomunikasi, handpone jangan sampai terlepas dari genggaman kalian!" seru nyonya Cintya dengan serius.
__ADS_1
"Baik nyonya!" balas Mang Ujang yang kembali menatap ke arah jalan raya.
"Iya ma!" jawab Anita seraya menganggukkan kepalanya.
Tak berapa lama mobil telah masuk ke tempat parkir kampus dimana Anita menimba ilmu. Setelah mang ujang menghentikan laju mobil tersebut, Anita dan nyonya Cintya segera melepaskan sabuk pengaman mereka.
"Mang Ujang, ponsel dinyalain ya! pokoknya standby terus!" pesan nyonya Cintya pada sopirnya.
"Iya Nyonya!" balas Mang Ujang.
"Ayo Anita!" ajak nyonya Cintya yang sudah keluar dari mobil dan demikian pula dengan Anita.
"Iya ma!" balas Anita dengan berseru.Dan keduanya melangkahkan kaki menyusuri lorong-lorong kampus.
"Anita, untuk sementara kamu sendirian dulu, mama mau jalan ke ruang dosen, untuk memberitahukan tentang kasus kamu ini." ucap nyonya Cintya yang menatap Anita dengan sedikit mengulas senyumannya yang khas itu.
"Baik ma!" balas Anita yang kemudian mereka berpisah, nyonya Cintya yang melangkahkan kaki menuju ke ruang dosen.
Sementara itu Anita melangkahkan kakinya menuju ke gedung Fakultas dimana dia menimba ilmu.
Selama dalam perjalanannya menuju ke gedung fakultas kedokteran itu, banyak orang yang menatap Anita dan mereka saling berbisik.
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya dalam hati Anita,tapi gadis itu berusaha untuk tetap tenang dan seolah tak melihat mereka.
"Anita!" panggil seseorang dari arah samping kanannya.
Anita mencari sumber suara, dan dia melihat sosok Dilla yang setengah berlari menghampirinya.
"Dilla...!" panggil Anita yang menghentikan langkahnya.
"Anita, kemana saja kamu?" tanya Dilla yang penasaran.
"Oh, ma'af aku tidak memberitahukan padamu dulu, kalau aku baru saja pulang kampung." jawab Anita yang memang dia baru saja pulang dari kampung.
"Wah enak ya, bisa pulang kampung. Aku mau pulang kampung, tapi dimana? ha...ha...ha..!" celoteh Dilla sambil tertawa.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...
... ...