
"Hei, kau membantu dia Haikal!" seru Yuni yang tiba di belakang Haikal bersama dengan Lisa dan beberapa teman Haikal.
"Bukan membantu, tapi aku tak suka dengan cara kalian yang main curang seperti tadi!" seru Haikal yang menatap Yuni dengan tajam.
"Sudah-sudah! aku sudah mengalahkan kalian! jadi lepaskan Dilla, atau kalian sendiri yang telah mencoreng nama geng kalian!" seru Anita yang membuat Lisa, Yuni, Rini dan Lala saling pandang.
"Lala, Rini! lepaskan si udik! Dia benar, jangan karena emosi kita mencoreng nama besar Lisa and the geng!" seru Lisa yang mempertimbangkan apa perkataan dari Anita.
Dengan terpaksa Lala dan Rini melepaskan Dilla, keduanya kemudian menghampiri Lisa dan Yuni. Sedangkan Dilla menghampiri Anita.
"Anita!"
Terdengar suara wanita yang sangat familiar di telinga Anita, dimana sedang memanggil namanya.
"Mama Cintya!" balas Anita pada saat tahu mama tirinya lah yang memanggilnya, yang sedang menghampirinya bersama dengan mang Ujang.
Semua orang pun terpesona dengan kecantikan mama Cintya, dimana seorang wanita paruh baya yang tetap terlihat muda, bahkan seperti kakak beradik dengan Anita.
"Kamu sedang ada acara apa? kok rame-rame begitu?" tanya Cintya yang penasaran.
"Ah, tidak apa-apa kok ma. Hanya masalah anak muda saja. Iya kan Dilla! He...he...he ....!" jawab Anita yang mengulas senyumnya sembari berkedip memberi tanda pada saat menoleh ke arah Dilla.
"I..iya tante!" balas Dilla dengan sedikit gugup, karena terkejut dengan respon Anita yang secara mendadak itu.
"Ayo pulang Anita!" ajak mama Cintya yang tak ingin berlama-lama di kampus Anita.
"Iya ma, Dilla kamu ikut ya!" balas Anita sekaligus mengajak Dilla.
"Tapi aku mau langsung ke tempat kerjaku!" seru Dilla yang menatap ke arah Anita dan Mama Cintya.
"Tidak apa-apa, kami antarkan sekalian! ayo berangkat!" ajak mama Cintya dengan menggandeng tangan kanan Dilla dan kemudian menggandeng tangan kiri Anita.
"Ma'af ya kami pulang duluan!" seru Anita yang mengulas senyumnya seraya menatap ke arah Haikal dan Lisa and the geng.
Semuanya hanya terbengong saja melihat kepergian Anita dan Dilla bersama wanita cantik yang membuat mereka terpesona itu.
__ADS_1
Anita, mama tirinya, mang Ujang dan Dilla melangkahkan kaki menuju ke mobil mewah yang masih terparkir di sekitar tempat parkir itu.
Setelah mereka berempat masuk ke dalam mobil, mang Ujang mengemudikan mobil itu perlahan keluar dari area parkir dan meninggalkan kampus favorit itu dengan menyusuri jalan raya.
"Tempat kerja kamu dimana Dilla?" tanya mama Cintya yang posisi duduknya berada di depan , di samping mang Ujang yang sedang mengemudi.
"Di rumah sakit umum Tante, saya bekerja sebagai cleaning service di rumah sakit itu." jawab Dilla yang berada di belakang mang Ujang.
"Cleaning servise?" tanya Anita yang menatap Dilla dengan rasa penasaran.
"Iya, memangnya ada apa? saya kalau pulang sekolah langsung ke rumah sakit umum dan bekerja jadi tukang bersih-bersih disana." jawab Dilla yang menatap Anita dan Mama Cintya satu persatu. Dimana Anita dan Mama Cintya yang juga menatap Dilla dengan rasa heran.
"Aku dulu juga seorang cleaning servis di puskesmas. Kemudian aku kemari dan meninggalkan pekerjaanku itu." ucap Anita perlahan dan yang lainnya menyimak dengan penasaran, apalagi mama Cintya.
"Tapi kamu disini tidak mama ijinkan untuk bekerja Anita." ucap mama Anita yang melirik ke arah Anita.
"Baru saja Anita kepikiran mau minta ijin sama mama untuk bekerja lagi, eh sudah diwanti-wanti sama mama! he...he...he...!" seru Anita sembari mengulas senyumnya.
"Kamu disinikan jadi anak mama, semua kebutuhan kamu akan mama penuhi. Asalkan kamu jangan pergi dari rumah mama!" ucap mama Anita perlahan, tapi Anita masih bisa mendengarkannya.
"Mama!" panggil lirih Anita yang sedikit terharu dengan niat baik mama tirinya itu.
"Iya, tentu saja. Teman Anita kan bekerja disana! benar begitu nak?" jawab mama Cintya seraya menatap Dilla.
"I..iya benar Tante." ucap Dilla yang menjawab pertanyaan Mama Cintya.
"Kenapa kamu bisa bekerja disana Dil?" tanya Anita yang penasaran.
"Ini karena ibu saya yang koma karena kecelakaan yang menimpanya pada saat berangkat bekerja. Saya sendiri pada waktu itu sedang bekerja sebagai buruh cuci di komplek perumahan di samping rumahku." jelas Dilla yang saat ini kedua matanya berkaca-kaca, teringat akan masa lalunya.
"Innalillahi wa Innalillahi roji'uun...! dan ibu kamu masih koma?" tanya mama Cintya yang menatap ke arah Dilla.
"Iya, dan saya meminta pekerjaan dirumah sakit umum itu supaya bisa menjaga dan membiayai biaya pengobatan ibu. Dan berkat bantuan seorang dokter baru di rumah sakit itu, saya bisa bekerja sebagai cleaning servis di rumah sakit umum itu." jelas Dilla.
"Oh, jadi begitu ya." ucap Anita yang mulai paham dengan posisi Dilla.
__ADS_1
"Iya." balas Dilla seraya menganggukkan kepalanya
"Kita sudah sampai di rumah sakit umum. Saya menepi disini saja ya!'" seru Mang Ujang pada saat mobil sudah menepi di samping rumah sakit umum itu.
"Terima kasih ya, sudah mengantarkan saya sampai disini!" seru Dilla yang melihat keluar jendela mobil dan melihat banyak mobil yang terparkir berjajar di depan rumah sakit sampai di luar rumah sakit umum itu.
"Iya, jangan sungkan-sungkan ya! karena kita sekarang ini sudah menjadi sahabat. Jadi kalau ada apa-apa kita bisa saling bantu." ucap Anita sembari mengulas senyumnya.
"Terima kasih Anita, terima kasih Tante." ucap Dilla sembari mencium punggung tangan kanan mama tiri Anita.
"Iya sama-sama nak Dilla. Kamu yang semangat bekerja dan menjaga ibu kamu ya." ucap mama Cintya
Dilla kemudian keluar dari dalam mobil dan melambaikan tangannya ke arah Anita dan juga Mama Cintya.
Anita dan Mama Cintya pun ikut melambaikan tangan mereka, kemudian mang Ujang mengemudikan mobil meninggalkan Dilla.
Setelah mobil yang membawanya itu hilang dari pandangannya, Dilla berbalik dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah sakit umum tempatnya bekerja.
Sedangkan mobil yang membawa Anita dan mama tiri gadis itu terus melaju menyusuri jalan raya yang mengarah ke rumah kediaman yang selama ini.
"Alhamdulillah! akhirnya kita sampai juga di rumah!" seru Anita sembari keluar dari dalam mobil dan diikuti oleh mama tirinya.
"Iya, ayo kita masuk ke rumah!" seru mama Anita, yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke teras rumah.
Beberapa menit kemudian mereka masuk ke teras rumah besar itu .
"Ma, ada yang ingin Anita tanyakan sama mama." ucap Anita lirih tapi masih bisa dapat di dengar oleh mama tirinya yang ada di sampingnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...