Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 51


__ADS_3

Dengan posisi duduk bersandar diatas sofa, kedua mata Anita melihat ke layar ponselnya. Kedua mata gadis itu terus bergerak naik turun, mengikuti gambar yang nampak dalam ponsel yang ada dihadapan gadis itu.


Beberapa menit kemudian bibi Ti datang bersama seseorang laki-laki yang tadi mengetuk pintu.


"Neng Anita, ada yang ingin bertemu." ucap bibi Ti yang sudah berada dihadapan Anita.


"Si..apa bi...." ucap Anita yang belum sempat menyelesaikan ucapannya, melihat dengan raut wajah terkejut ke arah laki-laki yang bersama bibi Ti dan sangat dikenal oleh Anita.


"Anita!" panggil laki-laki itu dan kedua mata mereka saling menatap.


"Ma...s Da...mar!" balas panggil Anita yang sangat terkejut dan terus menatap dokter Damar.


"Akhirnya aku bisa menemukan rumah kamu." ucap dokter Damar yang melangkahkan kaki menghampiri Anita.


"Saya permisi neng dan tuan." ucap bibi Ti yang undur diri.


"Oh, iya bi. Buatkan lemon tea buat kami ya bi!" pinta Anita.


"Iya Neng." balas Bibi Ti yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke dapur.


"Anita, aku sangat merindukan kamu." ucap dokter Damar yang menggenggam jemari tangan Anita.


"Mas, Anita juga demikian." balas Anita yang menatap dokter Damar secara intens.


"Andai kita sudah suami istri, aku ingin memelukmu dengan erat!" gumam dalam hati dokter Damar.


"Mas, aku ingin mendapatkan pelukan darimu! sayang kita belum jadi suami istri!" kata dalam hati Anita.


"Duduk mas!" ucap Anita yang mempersilahkan dokter Damar untuk duduk. Dan mereka segera duduk diatas sofa secara berdampingan.


"Mas Damar mau tanya, tolong dijawab dengan sejujurnya." ucap dokter Damar yang menatap Anita dengan raut wajah berubah menjadi raut wajah yang penasaran.


"Memangnya mas Damar mau tanya apa?" tanya Anita yang mengernyitkan kedua alisnya.


"Apa benar yang mas Damar lihat dan dengarkan tadi saat di rumah sakit? Kamu ada hubungan dengan Haikal?"' tanya dokter Damar yang terus menatap kedua mata Anita, seakan ingin mendapatkan jawaban yang jujur dari kekasihnya itu.


"Anita juga terkejut akan hal itu mas! Anita dekat dengan Haikal selain teman satu kampus, juga karena pertandingan basket itu. Setelah itu Anita merasa ikut prihatin akan kematian Yuni yang merupakan kekasih Haikal. Tak disangka malah nenek Haikal menjodohkan kami." ucap Anita yang memang jujur apa adanya.


"Terus kamu bagaimana menyikapinya?" tanya dokter Damar yang penasaran.


"Almarhumah Yuni sebelum meninggal berpesan pada ku.." ucap Anita yang diam sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Mengenai apa An?" tanya dokter Damar yang penasaran.


Anita menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.


"Dia menginginkan aku selalu mendampingi Haikal!" jawab Anita lirih.


"Oh, itu ya!" ucap dokter Damar semakin menggenggam jemari tangan Anita seraya mengulas senyumnya.


Anita bingung dengan apa yang membuat kekasihnya itu tersenyum.


"Maksud mas Damar apa?" tanya Anita.


"Jangan sampai ada yang merampas Cinta ku, Cinta kita! Kita harus yakin kalau cinta kita ini kuat dan murni. Tak akan ada penghalang dan kita hadapi semua rintangan yang berusaha menggoyahkan cinta kita. Kamu mau kan kita perjuangkan cinta kita!" ucap dokter Damar lirih namun seperti sebuah energi yang mengalir dalam diri Anita.


"Hm....hm.....!"


Terdengar suara deheman seorang wanita dari tangga yang dimana yang punya suara deheman itu, sedang menuruni tangga.


"Mama!" panggil Anita yang seketika itu juga raut wajahnya menjadi memerah karena tersipu malu jika mamanya sampai tahu dirinya sedang berduaan dengan dokter Damar.


"Mama?" tanya dokter Damar yang menatap wanita yang masih saja cantik diusianya yang telah lanjut itu


"Iya, mama tiriku mas!" jawab Anita.


"Apa sih! cantikan ibuku!" gerutu Anita seraya mencubit lengan dokter Damar.


"Auw...! kebiasaan yang aku rindukan!" ucap dokter Damar yang masih saja menggoda Anita.


"Mas Damar!" seru Anita yang geregetan.


"Kalian ini ya! dari atas sudah terlihat sekali aura-aura pink-nya! siapa dia Anita? teman apa pacar?" tanya mama Cintya yang penasaran yang menatap Anita dan dokter Damar secara bergantian.


"Kami hampir menikah nyonya, dan akhirnya kami bisa bertemu kembali! Saya Damar, dokter Damar Sasmita." ucap dokter Damar seraya mengulurkan tangannya pada mama tiri Anita yang sudah berada diantara dia dan Anita.


"Cintya mama tiri Anita." balas Mama Cintya seraya menerima uluran tangan dokter Damar dan kemudian mereka saling melepaskan jabat tangan itu.


"Jadi Mas Damar ini dulu calon suami Anita ma. Dan ternyata kami saling tertukar ma!" ucap Anita yang mencoba menjelaskan.


Baru saja mama Cintya hendak bertanya pada Anita, bibi Ti datang dengan membawa minuman pesanan Anita dan juga makanan kecilnya.


"Eh, nyonya sudah bangun!" ucap bibi Ti seraya meletakkan makanan dan minuman diatas meja didepan Anita dan dokter Damar.

__ADS_1


"Buatkan aku sekalian ya Bi!" perintah mama Cintya.


"Baik nyonya!" balas Bibi Ti yang hendak Membalikkan tubuhnya kembali ke dapur.


"Tokk...tokk...tokk....!"


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


"Bi, buka pintunya! mungkin itu papa!" seru Mama Cintya yang menduga-duga orang yang mengetuk pintu depan


"I...iya nyonya!" ucap Bibi Ti yang bergegas melangkahkan kaki menuju ke pintu utama rumah besar dan mewah itu.


"Silahkan di minum nak Damar! Jangan sungkan-sungkan! anggap saja seperti rumah sendiri!" seru mama Cintya yang memberi isyarat serta mengulas senyumnya.


"Iya nyonya, terima kasih." ucap dokter damar seraya mengulas senyumnya, dan dia tetap diam saja tak mengambil minuman maupun makanan yang disajikan oleh bibi Ti.


"Lho, ayo dimakan dan diminum hidangannya nak Damar!" seru mama Cintya yang membuka toples tempat makanan yang berupa keripik kentang dan juga biji Ketapang.


"Pesanan Mama belum dibuatkan sama bibi Ti, jadi mas Damar nggak akan makan atau minum jika mama tidak ikut makan." ucap Anita yang memberitahukan.


"Oh, begitu ya? apa kalian masih terbiasa dengan kebiasaan di desa?" tanya mama Cintya yang penasaran.


"Iya nyonya. Adat kebiasaan yang mendahulukan dan menghormati orang yang lebih tua." jelas dokter Damar yang mengulas senyumnya.


"Kamu ini kayak paket komplit saja! he..he..he..!" ucap mama Cintya seraya terkekeh.


"Paket komplit?" ucap Anita dan dokter Damar yang bersamaan dan kemudian mereka saling menatap dengan penuh tanda tanya.


"Iya, paket komplit! seorang dokter pasti kan kamu itu pemuda yang pintar, cerdas, sopan santun, tampan lagi dan juga berbakti pada orang tua! Siapa sih yang nggak Suga menanti seperti kamu! ha ..ha...ha...!" jelas mama Cintya seraya tertawa lebar.


"Wah, ramai sekali! sedang bahas apa sih kalian?" tanya seorang laki-laki setengah baya yang baru saja masuk ke rumah diikuti oleh bibi Ti yang berjalan di belakang laki-laki itu seraya menundukkan kepalanya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


...          ...


__ADS_2