Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 11


__ADS_3

Tak berapa lama Dokter Damar sudah sampai di rumahnya dan disambut oleh ibu dan ayahnya.


"Anakku Damar! tebak siapa yang datang?" tanya Bu Sasmito dengan wajah sumringahnya.


"Eh, siapa ya? sepertinya kedatangan seseorang ini bisa mengubah suasana hati ibu?" ucap Dokter Damar yang penasaran.


"Ayo tebaklah!" seru pak Sasmito yang juga mengulas senyumnya.


"Apakah mas Danar Bu, ayah?" tebak dokter Damar seraya melangkahkan kaki masuk ke rumah bersama kedua orang tuanya.


Sesampainya di ruang tamu, dokter Damar nampak sangat terkejut saat melihat sesosok laki-laki yang duduk bersandar di sofa seraya memainkan ponselnya.


"Dan tebakan kamu benar Damar, dialah kakak kamu yang pergi dari rumah sejak kecil!" seru ibu Sasmito sembari mengulas senyumnya.


"Kak Danar!" panggil dokter Damar yang melihat sesosok laki-laki yang berwajah sama dengan dokter Damar, namun dia berambut sebahu dan kulitnya sedikit kecoklatan.


"Da...damar!" balas panggil laki-laki yang tadi dipanggil Danar oleh dokter Damar.


Keduanya pun saling menghampiri dan kemudian saling berpelukan.


Dokter Damar dan Danar adalah saudara kandung beda setahun yang terpisah karena keadaan. Waktu itu keluarga pak Sasmita sangat kekurangan dan ditambah istrinya yang sering sakit-sakitan saat hamil Dokter Damar.


Oleh karena itu Danar yang merupakan anak pertama mereka di rawat oleh kakek dan nenek ibu Sasmita di kota Bali.


Danar tumbuh menjadi pemuda gagah dan cuek, serta selalu berpetualangan dan pekerja keras. Dia sekolah dan bekerja sebagai pedagang, terkadang sebagai guide.


Karena usahanya yang cukup keras dan ulet, Danar sudah mempunyai beberapa hotel di Bali. Dan saat ini dia mengunjungi kedua orang tuanya, karena mendengar kabar kalau adiknya Damar akan menikah.


Selama ini mereka hanya saling berhubungan lewat ponsel, dan Dokter Damar sering bercerita tentang hubungannya dengan Anita pada kakaknya itu.


Dokter Damar juga sering membagikan momen-momen dia bersama Anita di story bahkan pada saat menghubungi Danar. Siapa sangka Danar menaruh hati pada Anita di setiap damar membagikan momen kebersamaannya.


Namun semua itu dia pendam mengingat Anita adalah calon istri adiknya.


Dokter Damar dan Danar saling bercerita mulai dari hal yang ringan-ringan hingga ke hal yang menyangkut pernikahan.

__ADS_1


Tak berapa lama Dokter Damar mendapat telepon dari puskesmas pusat, yang menugaskan dokter Damar membantu dalam mengatasi wabah penyakit di kota yang saat ini sedang dilanda banjir.


"Kenapa mendadak sekali? apakah tidak bisa ditunda?" tanya Bu Sasmita yang sangat cemas dan kebingungan menghadapi situasi dilema seperti ini.


"Damar, pikirkan baik-baik, kamu pilih Anita apa profesimu sebagai dokter!" seru pak Sasmita yang membuat pilihan.


"Sulit sekali, tapi mau bagaimana lagi. Menyelamatkan orang adalah tanggung jawab saya, dan saya akan berusaha ikhlas menerimanya.


"Jadi kamu tetap mau pergi?" tanya Danar yang penasaran.


"Apa boleh buat, karena ini menyangkut kemanusiaan. Banyak nyawa yang dipertaruhkan. Jadi saya tetap akan mengikuti tugas tersebut." jelas dokter Damar dengan hati yang sebenarnya bergejolak.


"Lantas bagaimana dengan Anita dan keluarganya? mereka pastinya sekarang ini sudah menyebar tamu undangan dan juga malam ini sedang ada pesta dirumah mereka?" tanya ibunda Dokter Damar yang kebingungan dan khawatir.


Semuanya diam dan saling pandang dengan pikiran masing-masing.


"Ah, Damar! Bagaimana kalau aku akan gantikan posisi Damar sebagai pengantin pria. Biarlah tak jadi omongan dari keluarga Anita dan juga para tetangga!" seru Dan ar yang memberi usul.


Kedua orang tua Danar dan Damar memandang ke arah Damar, untuk mengetahui isi hati putra mereka.


Besok dia tak akan menikah dengan kekasihnya, dan bila benar nanti kakaknya Danar yang akan menggantikan posisinya sebagai pengantin pria, secara otomatis kekasihnya itu menjadi kakak iparnya.


"Apakah aku sanggup bila melihat semua nantinya? ah biarlah Anita hidup bahagia dengan mas Danar di Bali nanti!" gumam dalam hati Damar yang kemudian dia menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.


"Baiklah aku setuju!" ucap Damar yang berusaha untuk tetap tegar.


"Apa kamu yakin Damar?" tanya Bu Sasmita yang belum yakin sepenuhnya.


"Iya, saya yakin Bu. Dan malam ini juga Damar akan berangkat ke kota bersama rombongan dokter-dokter yang terpilih di kantor kabupaten." ucap Dokter Damar dengan yakin, agar tak ada rasa khawatir di hati ibunya.


"Kalau memang benar kamu sudah yakin dan tak ada penyesalan di kemudian hari, sebaiknya kamu lekas berkemas-kemas." ucap pak Sasmita yang berusaha tegar dihadapan keluarganya.


"Nampaknya ayah perlu memangkas rambut Danar!" usul Bu Sasmita seraya menatap putranya Danar.


"Ah, benar Yah! mas Danar harus make over dadakan, kan mau jadi pengantin!" ucap Damar yang berusaha mengulas senyum dengan ikhlas

__ADS_1


"Tapi aku sangat sayang sekali dengan rambutku ini. Tapi demi Anita dan kalian semuanya, ya apa boleh buat! baiklah aku setuju!" ucap Danar yang berusaha memantapkan hatinya.


"Baiklah kalau begitu Damar pamit mau berkemas-kemas." ucap Damar seraya menatap ayah, ibu dan kakaknya Danar.


"Iya, dan aku mau memangkas rambut kakak kaku ini!" ucap pak Sasmita dan mereka pun mengerjakan pekerjaan masing-masing.


Sementara Bu Sasmita mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan esok harinya


Pak Sasmita mengubah tatanan Danar yang semula rambutnya sebahu, saat ini sudah cepak dan mirip dengan Damar.


"Wah, kalau begini kamu dan adik kamu sulit dibedakan!" seru pak Sasmita yang menatap wajah putranya yang baru saja memangkas rambutnya itu.


"Iya, kalian kembar! bagai pinang dibelah dua!" seru Bu Sasmita yang menatap satu-persatu anggota keluarganya.


Kemudian mereka dengan segera beristirahat karena pagi-pagi sekali Damar harus segera berangkat ke kota, dan juga dia tak mau melihat pernikahan kekasihnya dengan kakaknya.


Dan benar saja pukul tiga dini hari, Dokter Damar sudah dijemput oleh teman-temannya yang juga ditugaskan ke kota bersama Dokter Damar. Mereka pun meninggalkan rumah dan perlahan-lahan meninggalkan kota kecil di perbatasan propinsi itu.


Sementara Bapak dan ibu Sasmita beserta Danar mulai berkemas-kemas untuk pernikahan. Dan pernikahan itu telah berlangsung, antara Danar dan Anette.


Keesokan harinya rombongan pengantin perempuan diantarkan ke rumah orang tua pengantin laki-laki, yang artinya Anette yang menjadi Anita bersama Danar yang menjadi Damar itu bersama-sama keluarga yang lainnya menuju ke rumah bapak dan ibu Sasmita.


Demikian pula Anita yang ikut dengan ayahnya bertolak ke kota meninggalkan kota kecil tempat kelahirannya. Dia tak mau melihat pernikahan yang seharusnya dia yang menjadi pengantinnya.


Namun harus dia pupus, demi saudara kembarnya. Kini dia memikirkan masa depannya, dimana dia akan bertemu ibu tiri yang selama ini merampas ayahnya dari ibunya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2