
"Hah, masih kamu tanya apa salahnya? hei, dia itu sekolah ke sini itu dengan bea siswa, kamu tahu! itu berarti dia gratisan dan dia itu orang kismin! jadi tak pantaslah bergaul dengan kita! kamu harus paham itu!" seru Lisa dengan kesal, dimana dibelakangnya ada empat orang gadis yang menjadi anggota gengnya.
"Kamu yang salah! Dilla manusia dan kita juga manusia, Dilla makan nasi dan kita juga makan nasi. Jadi kita itu sama dan Dimata Allah Subhana wa ta'alla kita juga sama. Sama-sama dari tanah yang esok juga kembali ke tanah!" seru Anita yang masih menatap Lisa dengan tajam.
Kemudian Anita berlalu meninggalkan Lisa dan the geng-nya.
"Hah...!"
Lisa dan para gengnya tersentak, tak percaya dengan jawaban Anita, yang membela Dilla sampai segitunya.
"Kurang ajar dia!" seru salah satu anggota geng Lisa dengan geram.
"Oh, nampaknya dia perlu kita beri pelajaran! biar dia tahu, siapa itu Lisa and the geng!" seru Lisa dimana gigi bagian atas dan bawah yang menyatu dan mengeluarkan bunyi menggeretak, membuat ngilu bagi yang mendengarkannya.
"Kita minta bantuan Haikal saja, untuk menghajar si Anita itu!" seru anggota geng Lisa, bernama Rini yang ada disamping kiri Lisa.
Empat anggota geng Lisa itu bernama Rini, Lala, Esti dan Yuni. Sementara Haikal adalah teman semasa Sekolah Menengah Pertama Yuni, dimana mereka dulu pernah saling menyukai dan kini mereka sedang berpacaran.
"Iya, aku setuju Lis! kita minta Haikal hajar dia di lapangan basket!" seru Yuni yang memberi usul.
"Benar! setuju, aku juga! bagaimana dengan kalian?" tanya Lala yang menatap Rini dan juga Esti satu persatu.
"Hu..um kami setuju! jawab Rini dan juga Esti yang serempak.
"Nah kami semua sudah setuju! tinggal kamu Lisa!" seru Yuni yang penasaran.
"Oke! kita cari Haikal sekarang juga!" seru Lisa dengan semangat.
"Jangan repot-repot mencarinya! aku ada disini!' seru suara laki-laki yang berada di belakang kelima cewek centil itu.
"Sayang! buat aku jantungan saja!" seru Yuni yang menoleh ke arah belakang dan melihat kekasihnya yang berdiri dengan kaos kebanggaannya dan juga sebuah bola basket.
Demikian juga dengan Lisa dan para gengnya yang menoleh ke arah Haikal, kemudian Yuni melangkahkan kaki menghampiri Haikal kekasihnya itu.
"Sayang, mau kan bantu kami mengerjai Anita si pembangkang itu?" ucap Yuni dengan menggelayut di lengan sebelah kiri Haikal.
"Sorry, kalian sendiri saja yang kerjain dia! aku nggak mau mengerjai seorang perempuan!" seru Haikal yang menatap satu persatu Yuni kekasihnya dan juga the geng-nya.
__ADS_1
"Haikal!" seru Lisa yang tak percaya kalau Haikal membantah keinginan mereka.
"Suuut!" desis Lala pada Yuni, dan Yuni tanggap akan hal itu. Gadis itu menatap kekasihnya dengan mengernyitkan kedua alisnya.
"Sayang! apa kamu tak sayang lagi sama aku?" ucap Yuni yang seakan tak percaya dengan sikap kekasihnya itu.
"Bukannya aku tak sayang pada kamu sayang! persoalan ini hanya kalian yang bisa atasi sendiri. Mana mungkinlah aku yang seorang laki-laki gagah melawan perempuan yang lemah begitu! Turunlah pamor kekasih kamu ini sebagai idola para cewek-cewek di kampus ini!" gerutu Haikal yang dipahami oleh Yuni.
"Oh, sayang! benar juga, kalau begitu biar aku yang akan hadapi dia!" ucap Yuni yang menatap Haikal dan kemudian mengulas senyumnya.
Lisa, Rini, Lala dan Esti saling pandang dan menganggukan kepala mereka.
"Baik kalau begitu kita susun rencana! Rini dan Lala, kalian sebisa mungkin ajak Anita ke lapangan basket! aku dan Yuni akan persiapkan tempat pertandingannya!" usul Lisa seraya memandang anggota the geng-nya satu persatu.
"Ok! kami setuju!" seru Rini dan Lala serempak yang sebelumnya saling tatap dan menganggukkan kepala mereka.
"Tunggu apa lagi! cepat kerjakan!" seru Haikal yang mengulas senyumnya.
"Iya!" jawab Rini dan Lala serempak dan mereka melangkahkan kaki meninggalkan Lisa, Yuni dan juga Haikal.
""Kalau begini, biar aku ajak teman-temanku untuk menyaksikan tontonan yang bakal seru nanti!" seru Haikal yang nampak penuh semangat.
"Iya, ayo kita mulai persiapkan diri kita!" seru Lisa dan mereka saling menganggukan kepala, kemudian melangkahkan kaki sesuai tujuan masing-masing.
Lisa dan Yuni melangkahkan kaki ke lapangan basket, sementara Haikal memanggil teman-temannya yang sedang bersantai di taman untuk menonton perseteruan Yuni dan juga Anita nanti.
Sementara itu Rini dan Lala mencari keberadaan Anita, dimana gadis itu hendak keluar dari ruangan karena mata kuliah dia telah selesai.
"Hei tunggu! mau kemana kamu!" seru Lala yang menghadang langkah Anita.
"Pulanglah!" jawab Anita sedikit sewot dan dia hendak melanjutkan langkahnya, tapi Lala menghalanginya.
"Jangan pulang dulu!" seru Lala seraya merentangkan kedua tangannya menghalangi Anita.
Anita dengan terpaksa berhenti dan menatap tajam ke arah Lala lalu ke arah Rini.
"Mau apa kalian!" seru Anita berlagak garang.
__ADS_1
"Ikutlah dengan kami, ada yang ingin kami sampaikan pada kamu!" balas Rini yang memegang pergelangan tangan Anita.
Anita melihatnya sejenak dan dia menghela napasnya.
"Baiklah, tapi aku minta sebentar saja. Karena mamaku pasti akan mencari ku!" seru Anita dengan sikapnya yang terpaksa mengiyakan.
Kemudian mereka melangkahkan kaki dengan segera menuju ke lapangan bola basket.
"Kita mau kemana?" tanya Anita yang penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri, lebih baik percepat langkah kakimu!" seru Rini yang tanpa menoleh sama sekali ke arah Anita.
Anita hanya bisa menahan rasa keingintahuannya, dan kembali melanjutkan langkah kaki mereka menuju ke lapangan basket.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di depan pintu masuk ke lapangan basket yang ada dihalaman belakang kampus favorit itu.
"Hei, kenapa banyak orang disini?" gumam dalam hati Anita pada saat menebarkan pandangannya ke seluruh lapangan Basket itu.
"Sebaiknya kamu ke tengah dan temui Lisa dan Yuni yang saat ini berada di tengah lapangan basket!" seru Lala seraya menunjuk ke arah tengah lapangan. Dimana ada Yuni dan Lisa diantara beberapa orang laki-laki.
Anita pun melangkahkan kakinya ke tengah lapangan. Sementara itu Dilla yang juga hendak pulang dari kuliahnya, mendengar kabar akan peseteruan di lapangan basket pun mengurungkan niatnya untuk pulang.
Gadis itu melangkahkan kaki menuju ke lapangan basket itu bersama-sama dengan yang lainnya.
Betapa terkejutnya Dilla pada saat tahu siapa yang ada di tengah lapangan basket itu.
"A...Anita!" seru dalam hati Dilla yang membelalakkan kedua matanya.
Dan semua mata tertuju pada sosok dua gadis yang saling berhadapan itu dan mereka adalah Anita dan juga Yuni.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...