Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 46


__ADS_3

Keduanya kemudian mencuci tangan mereka di wastafel, dan kemudian dokter Damar dan Anita melangkahkan kaki menuju ke meja kasir.


Disaat dokter Damar membayar makanan yang mereka makan, Anita mendapat telepon dari Haikal. Dokter Damar sempat melirik ke arah Anita dan ada rasa kesal terlintas dihatinya.


"Haikal, kakaknya Amanda! Apakah dia suka sama Anita?" gumam dalam hati dokter Danar pada saat menerima uang kembali serta struk nota makanan yang telah mereka makan.


Dokter damar kemudian melangkahkan kaki menghampiri Anita yang nampak sudah selesai menelepon.


"Dari siapa An?" tanya dokter Damar saat sudah berada disampin Anita.


"Oh, Haikal mas. Dia mencari Anita, ya Anita bilang kalau saat ini Anita sedang makan sama dokter damar. Eh, dia menutup teleponnya!" jawab Anita dengan polosnya dan dokter Damar tersenyum saat melihat hal itu.


"Anita, kamu masih saja seperti yang dulu. Polos, itulah yang aku cinta dari kamu!" gumam dalam hati dokter Damar.


"Sudah, sekarang balik ke rumah sakit apa pulang ke rumah?" tanya dokter Damar pada Anita.


"Balik ke rumah sakit saja mas, lagi pula Anita kan belum bertemu dengan Yuni. Dan setelah itu Anita ingin menjenguk Amanda, adiknya Haikal mas." jawab Anita dengan mengulas senyum tipisnya.


"Oh, baiklah kalau begitu. Ayo kita ke mobil sekarang juga!" seru dokter Damar yang melangkah lebih dahulu dan Anita mengikutinya dari belakang dan kemudian mereka berjalan beriringan menuju ke tempat parkir.


Sesampainya di tempat parkir, mereka segera masuk dan dokter Damar menyalakan mobilnya. Mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang setelah keluar dari halaman restoran seafood itu, menyusuri jalan raya.


"Anita, Haikal itu menurut kamu bagaimana sih?" tanya Dokter Damar dengan tetap mengemudi.


"Haikal? kenapa mas Damar tanyakan tentang Haikal?" tanya Anita yang menoleh ke arah dokter Damar, namun dokter itu tetap tak bergeming.


Dia terus mengemudi dengan pandangannya tetap ke arah sepanjang jalan raya yang membentang lurus itu.


"Ya ingin tahu saja apa pendapat kamu? kalau aku sebagai seorang laki-laki kan punya pandangan lain. Dan mas Damar ingin tahu saja apa pendapat kamu tentang Haikal. Itu saja." ucap Dokter Damar yang sedikit mengelak, karena dia tak mau kalau Anita tahu kalau saat ini dirinya sedang kesal dengan sosok Haikal.


"Emm...menurut Anita sih dia tampan dan baik hati, sayang pada adiknya dan dia sebenarnya setia pada Yuni." jawab Anita yang menatap ke arah dokter Damar.


Mendengar hal itu, hati dokter Damar masih belum puas, dirinya sesekali melihat ke arah Anita. Untuk mengetahui kejujuran melalui mata Anita.


"Tampan ya? tampan mana sama mas Damar?" goda dokter Damar yang mencoba membuat suasana hatinya rileks jika bisa membuat Anita sedikit kesal.


"Apa sih mas Damar ini! ya jelas tampan Haikal-lah!" seru Anita yang menahan tawanya.

__ADS_1


"Eh, kok bisa?" tanya dokter Damar yang penasaran.


Ternyata bukannya Anita yang kesal akan pertanyaan dokter Damar, kini dokter Damarlah yang dibuat kesal oleh jawaban Anita.


"Ya bisa-lah! karena menurut Anita memang benar Haikal itu tampan, tapi...mas Damar-lah yang paling tampan. Sudah tampan, mapan pula! Pasti Anita banya saingannya!" jelas Anita yang ujung-ujungnya dia sendiri ikut kesal.


"Ha....ha...ha...! bisa saja kamu ya!" ucap dokter Damar dengan gelak tawanya yang begitu riangnya.


"Awaaaas mas!" seru Anita yang hampir saja mobil yang mereka tumpangi menabrak seekor kucing yang lewat.


Hal itu membuat dokter damar sedikit membanting kemudinya dan berhenti.


"Oh, Alhamdulillah...! Semuanya selamat!" ucap syukur dokter Damar dengan menghela napas lega.


"Hampir saja lho mas!" seru Anita yang juga merasa lega dan keduanya saling pandang dan mengulas senyum mereka.


"Yuk, jalan lagi mas!" ajak Anita seraya menepuk pundak sebelah kiri dokter Dimas.


"Iya. Bismillahirohmanirohiim..." balas dokter Damar sekaligus berdoa dan melajukan kembali mobilnya menyusuri jalan raya menuju ke rumah sakit umum yang juga merupakan tempat dinas dokter Damar.


Tak berapa lama mobil itu telah masuk ke halaman rumah sakit dan berhenti di tempat parkir khusus roda empat.


"Anita, kita berpisah disini ya. Saya mau ke tempat kerja mas Damar terlebih dahulu." ucap dokter Damar pada saat mereka melewati beberapa lorong jalan di rumah sakit umum itu.


"Iya mas, selamat bekerja ya." ucap Anita seraya melambaikan tangannya.


"Hm, kamu juga ya!" balas dokter Damar yang mengulas senyumnya dan Anita membalas dengan mengulas senyumnya juga.


Kemudian mereka berpisah dengan tujuan masing-masing. Dokter damar yang masih dalam jam kerja, sementara Anita melangkahkan kaki menuju ke ruang tunggu dimana Haikal dan Lisa And the geng masih berada di tempat itu.


"Assalamu'alaikum...!'' ucap salam Anita pada saat masuk di ruang tunggu itu.


"Wa'alaikumsalam...!" balas Haikal dan yang lainnya.


"Oh, niat jenguk Yuni apa enggak sih? kelayapan, tuh belum apa-apa dah merayu dokter di rumah sakit ini!" gerutu Lisa yang memandang sengit ke arah Anita. Dan Anita hanya dia m tak menggubris apa yang dikatakan Lisa.


Tentu saja Lisa tahu kalau Anita jalan sama dokter Damar, secara hampir semua dokter dan perawat memberitahukan apa yang mereka lihat pada Lisa dengan melalui chat maupun panggilan.

__ADS_1


"Sudah kenyang makannya?" tanya Haikal dengan melirik ke arah Anita.


"Alhamdulillah, oiya kamu sudah makan apa belum? ma'af aku lupa tidak membungkuskan buat kamu!" jawab Anita yang tak enak hati karena kelupaannya.


"Aku sudah makan kok tadi di kantin bergantian sama mereka!" jawab Haikal yang tak menoleh sama sekali dengan Anita.


"Oh, syukurlah!" ucap Anita yang bernapas lega dan kemudian membenarkan posisi duduknya.


"Yuni ingin bicara sama kamu, lekas ke dalam. Sebelum jam besuknya habis!" seru Haikal yang kali ini menatap ke arah Anita.


"Eh, betulkah itu?" tanya Anita yang menekan lagi pendengarannya.


"Iya, cepatlah!" jawab Haikal.


Baru saja Anita hendak beranjak dari duduknya, tiba-tiba seorang suster keluar dari ruang ICU itu dengan tergopoh-gopoh.


"Adakah yang bernama Anita disini?" tanya suster itu dengan menebarkan pandangannya.


"Saya sus!" jawab Anita yang seketika berdiri dan menatap suster itu dengan rasa penasarannya.


"Sebaiknya anda cepat segera ke dalam. Ada yang ingin pasien sampaikan pada anda." ucap suster itu seraya membukakan pintu untuk Anita.


Anita segera membasahi tangannya dengan Handsanitizer yang menempel di dinding samping pintu yang menuju ke ruang ICU itu.


Setelah memakai Handsanitizer di tangannya, Anita bergegas masuk ke ruang ICU.


Dilihatnya Yuni yang menatap menerawang ke langit-langit rumah sakit, dengan perlahan-lahan Anita menghampiri Yuni yang terbaring dengan selang infus di punggung tangannya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


...           ...


__ADS_2