
"Ma, ada yang ingin Anita tanyakan sama mama." ucap Anita lirih tapi masih bisa dapat di dengar oleh mama tirinya yang ada di sampingnya.
Karena saat ini mama Cintya sudah melangkahkan kaki masuk ke rumah melalui pintu utama rumah yang telah dibukakan pintunya oleh salah satu pembantu di rumah besar itu. Dan mereka melangkahkan kaki masuk dan menuju ke ruang tamu.
"Apa yang ingin kamu tanyakan Anita?" tanya Mama Cintya yang menatap Anita dengan rasa penasarannya dan menghentikan langkahnya.
"Mama tadi bilang kalau Anita disinikan jadi anak mama, semua kebutuhan Anita akan mama penuhi. Asalkan Anita jangan pergi dari rumah mama." jawab Anita mengulang ucapan dari mana tirinya.
"Iya benar Anita sayang." ucap mama tiri Anita yang membenarkan ucapan Anita.
"Kalau Anita boleh tahu, kenapa mama bersikap demikian pada Anita? Anita kan hanya anak tiri mama?" tanya Anita yang melanjutkan langkahnya karena mama Cintya juga melangkahkan kaki, dan saat ini mereka sudah berada di ruang tamu di rumah mewah itu.
"Itu karena..." ucap Mama Cintya yang diam sejenak untuk mengolah kembali ucapan yang akan dia sampaikan pada anak tirinya itu.
''Karena apa ma?" tanya Anita yang semakin penasaran. Dan mereka kemudian duduk di sofa ruang tamu.
"Mama selama ini merasa bersalah pada mama kamu, dan mama tahu kalau papa kamu menikah dengan mama karena terpaksa. Itu karena untuk biaya pengobatan saudara kamu. Sebetulnya mama tak harus khawatir ditinggal papa kamu, tapi ini semua karena Raindra diantara kita dan juga mama sangat mencintai papa kamu. Mama sangat khawatir jika papa kembali lagi ke ibu kamu dan meninggalkan mama, dan jika ada kamu yang selalu bersama mama, tentunya papa kamu tak akan pulang kampung atau berpaling mencari wanita lain. Apakah mama salah terlalu over sama papa kamu Anita?" jelas sekaligus tanya mama Cintya yang menatap ke arah Anita.
"Mama, mama sampai sebegitu ya. Padahal yang seharusnya punya pemikiran seperti itu saya. Kalau tak diingatkan sama ibu tentang alasan papa menikah lagi dengan mama, mungkin Anita saat ini tak berada sama mama. Anita tahu perasaan ibu yang selalu ditutupi, ibu menumpahkannya pada saat sholat malam. Dan Anita sempat mendengar keluh kesah ibu, Anita tak tega dengan yang menimpa ibu pada saat itu. Seolah semua ibu luapkan dan ibu tak mau menunjukkan air matanya dihadapan semua orang." ucap Anita yang juga memandang wajah mama tirinya.
"Anita, ibu kamu memang wanita hebat! dia rela mengorbankan cintanya demi putrinya, demikian pula dengan papa kamu. Walaupun sudah bersama mama, tapi papa kamu selalu memikirkan kamu dan ibu kamu di desa " ucap mama Cintya yang kemudian menghela napasnya.
"Iya Ma, dan Anita juga mengalami hal yang sama seperti Ibu. Bahkan ini saudara Anita sendiri yang melakukannya." ucap Anita yang tiba-tiba teringat kembali akan perasaannya yang hendak dia pendam.
"A..Anita sayang, ma'afkan mama. Bukan maksud mama mengingatkan kamu pada apa yang menimpa kamu. Mama benar-benar minta ma'af sayang." ucap mama Cintya yang tak enak hati dan langsung saja dia memeluk Anita dengan erat, Anita pun pasrah dipelukan mama tirinya.
Terdengar suara sesenggukan dari mulut Anita, dan air matanya pun berlinang begitu derasnya. Hingga Anita berkali-kali menyeka air matanya.
"Menangis lah Anita, semoga dengan menangis bisa meredakan rasa sakit di hati kamu." bisik mama Cintya yang merasa iba pada putri tirinya.
__ADS_1
"Tokk...tokk....tokk....!"
Tiba-tiba terdengar suara pintu utama yang diketuk oleh seseorang.
"Biar saya yang buka pintunya nyonya!" seru bibi Ti yang keluar dari dapur dengan langkah setengah berlari menuju ke arah pintu utama rumah itu.
Sementara Mama Cintya dan Anita sedang melepaskan pelukan mereka, jari-jari mama Cintya menyeka air mata Anita.
"Kamu gadis kuat, pasti akan bertemu dengan jodoh kamu!" bisik mama Cintya.
"Iya ma, semoga saja." ucap Anita lirih.
Sementara itu bibi Ti yang membuka pintu dan terlihatlah sesosok laki-lakivsetengah baya yang tak lain adalah pak Suroso yaitu papa Anita
"Assalamu'alaikum...!" ucap salam pak Suroso yang nampak kelelahan, karena sehabis bekerja.
"Tuan, tuan sudah pulangKatanya tugas ke luar kota?" lanjut tanya bibi Ti pada saat meminta membawa tas yang di bawa majikannya itu.
"Iya, diundur besok! Oya apa nyonya ada?" tanya pak Suroso yang menebarkan pandangannya.
"Kami ada disini pa!" seru mama Cintya yang kemudian berdiri dari duduknya dan menatap suaminya.
Demikian pula dengan Anita yang juga berdiri dan menatap ke arah papanya. Mereka pun melangkahkan kaki untuk menyambut kedatangan papa dan suami mereka.
"Wah sedang apa kalian saat ini?'' tanya pak Suroso dengan mengulas senyumnya seolah-olah rasa capek dan pegal karena habis bekerja, hilang begitu saja. Karena melihat istri dan putrinya yang sedang menyambutnya secara bersama-sama di ruang tamu.
"Papa...!" panggil Anita dan Mama Cintya yang bersamaan.
Pak Suroso kemudian mengulurkan tangannya, dan Mama Cintya serta Anita secara bergantian mencium punggung tangan kanan pak Suroso.
__ADS_1
"Papa, katanya mau keluar kota?" tanya Mama Cintya setelah selesai mencium punggung tangan suaminya.
"Besok pagi ma, tapi papa mau kalau mama ikut bersama papa." ucap pak Suroso perlahan seraya menatap istri keduanya itu.
"Saya harus ikut pa? bagaimana dengan Anita?" tanya Mama Cintya seraya menatap Anita.
"Pekerjaan diluar kota ini butuh waktu yang lama, karena papa akan membuka beberapa kantor cabang baru dan semuanya butuh penyesuaian. Karena itulah papa butuh mama, masalah Anita biar bersama Bibi Ti untuk sementara waktu. Kamu mau kan Anita?" jelas sekaligus tanya pak Suroso yang kemudian menatap putrinya.
"Mama jangan khawatir, Anita nggak apa-apa dirumah sama bibi Ti. Lagi pula mang Ujang tetap di rumah kan Pa?" tanya Anita yang berusaha menenangkan hati mama tirinya.
"Iya, tentu saja mang Ujang dirumah. Papa tak tega jika hanya kamu dan bibi Ti saja yang ada di rumah." jawab pak Suroso seraya membelai dengan lembut kepala putrinya.
Hal inilah yang sangat tak mungkin Anita rasakan selama masih berada di kampung.
"Oh, begini ya rasanya dibelai seorang ayah? begitu hangat dan nyamannya, mas Dimas ..! eh kenapa aku malah teringat sama suami saudara kembarnya!" gumam dalam hati Anita yang hatinya sedang tak karuan.
"Kalau begitu mama sedikit tenang." ucap mama Cintya yang memandang Anita dan mengulas senyumnya, saat melihat Anita begitu menikmati belaian tangan suaminya di kepala Anita dengan lembut.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1