
"Lalu kenapa kamu berpelukan dengan Haikal di pinggir jalan Anita?" tanya dokter Dimas yang menatap Anita dengan tajam.
"Itu karena Haikal yang reflek saja, karena saya nasehati untuk kembali pada Yuni. Eh, malah malah kesempatan dalam kesempitan. Mas Dimas coba saja melihat, apa Anita menerima pelukan Haikal apa tidak?" jawab sekaligus tanya Anita.
"Hm, entahlah. Waktu itu aku terlanjur berpikiran negatif sama kamu, aku pikir kalau kamu sedang ada masalah dan pergi dari kakak aku, Danar. Itu saja, jadi aku pergi begitu saja dengan Lisa dan Yuni. Mengingat kondisi Yuni yang sangat shock waktu itu." jelas dokter Dimas yang mengusap wajahnya dengan kasar. Seolah dirinya telah menyesali dengan apa yang dia lakukan kemarin.
"Oiya, keadaan Yuni bagaimana mas?" tanya Anita yang penasaran.
"Setelah melihat kejadian semalam, anak itu dalam keadaan depresi. Dia kalut dan menangis sejadi-jadinya. Dan pada saat mobil berhenti, tiba-tiba Yuni keluar dan terus berlari menuju ke jembatan. Lisa mengejarnya waktu itu, tapi tak berhasil. Yuni terlanjur terjun dan dari semalam, baru saja diketemukan dan sekarang berada di ruang ICU dengan kondisi yang sungguh memperihatinkan." kata dokter Damar.
"Apakah saya boleh menjenguk Yuni, mas?" tanya Anita yang sedikit memohon.
"Sepertinya belum dulu, tunggu psikisnya normal. Karena dia masih dalam keadaan terguncang." jawab dokter Damar.
"Oh, jadi begitu ya." ucap Anita yang menghela napasnya.
"Anita..!" panggil dokter Damar yang terus memandangi Anita, dan hal itu tentu saja membuat Anita gugup.
"Kamu sekarang tinggal dimana?" tanya dokter Damar yang penasaran.
"Anita tinggal bersama papa dan mama tiri Anita. Dan sekarang Anita kuliah satu kampus dengan Haikal, Lisa and the geng juga." jawab Anita yang memang apa adanya.
"Baguslah, kamu bisa melanjutkan studi kamu. Belajar yang rajin ya, jurusan apa yang kamu geluti?" tanya dokter Damar yang begitu perhatiannya pada Anita.
"Kedokteran, dan Anita memilih dokter gigi." jawab Anita sembari mengulas senyumnya.
"Sesuai cita-cita kamu ya, semoga sukses!" seru dokter Damar yang ikut mengulas senyumnya.
"Iya, terima kasih mas." ucap Anita dan dia menarik napasnya, karena hatinya tengah berbunga-bunga. Kerinduannya pada dokter Dimas telah terobati dan bersyukur dokter Dimas yang tidak menikah dengan saudara kembarnya, Anette yang saat ini sedang berbulan madu di pulau Bali.
"Anita...!" panggil dokter Damar, namun Anita masih saja sibuk pada lamunannya.
"Anita...!" panggil dokter Damar sekali lagi.
"Iya, a...ada apa mas?" 'tanya Anita yang menatap dokter Damar dan kini pandangan mereka saling beradu.
"Aku seperti mimpi, kita berdua masih dipertemukan kembali dalam keadaan belum menikah." jawab dokter Damar yang kembali menggenggam jemari Anita.
__ADS_1
"Iya mas, Anita juga tak menyangka kita bisa bertemu kembali." ucap Anita yang mengulas senyumnya.
"Apakah hubungan kita ini bisa terulang kembali?" tanya dokter Damar yang terus menatap Anita.
Dan Anita menganggukkan kepalanya dengan pelan, lalu berkata;
"Seharusnya kita lanjutkan pernikahan kita mas." ucap lirih Anita yang membuat dokter Damar bersemangat.
"Tentu saja, aku tak mau kamu dimiliki orang kalau tidak cepat-cepat aku miliki!" bisik dokter Damar yang timbul keisengannya mencubit hidung Anita yang sedikit mancung ke dalam itu.
"Ih, mas Damar mulai iseng nih!" gerutu Anita yang kemudian memegang hidungnya yang merah, setelah dokter Damar melepaskan cubitannya.
"Tapi kamu suka kan? bahkan kamu pasti kangen dengan cubitan aku ini! he..he..!" goda dokter Damar yang terkekeh menikmati suasana bersama Anita.
"Ih mas Damar dokter apa paranormal? nebak-nebak perasaan orang saja! ha...ha...!" gumam Anita yang wajahnya tersipu-sipu karena dokter Damar telah menebak isi hatinya.
"Kamu sudah makan belum, ayo kita makan! mas Damar yang traktir!" ajak dokter Damar.
"Boleh, ayo mas! sudah lama kita tak makan bersama." ucap Anita yang menanggapi ajakan dokter Damar.
Demikian pula dengan Anita, yang sesekali keduanya saling pandang dan mengulas senyum bahagia mereka berdua. Seolah tak akan ada lagi yang mengganggu hubungan keduanya.
Anita dan dokter Damar terus melangkahkan kaki mereka menyusuri lorong-lorong jalan di rumah sakit itu.
Tak berapa lama mereka telah sampai di tempat parkir, dan keduanya segera masuk ke dalam mobil dokter Damar pada saat sudah berada disamping mobi tersebut.
Setelah keduanya masuk kedalam mobil, dokter Damar dengan segera mengemudi dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya dan mereka melaju menuju ke restoran Seafood. Dimana sejak dulu dokter Damar ingin mengajak Anita ke restoran seafood, karena gadis itu yang pernah bicara kalau dia penasaran dengan rasa kepiting laut.
Karena selama ini Anita hanya merasakan masakan kepiting sungai, pada saat keduanya masih berada di desa.
"Restoran seafood!" seru Anita pada saat keluar dari mobil yang sudah berhenti di tempat parkir.
"Iya, mas Damarkan janji kalau mau mengajak kamu ke restoran seafood, kamu kan mau merasakan rasa kepiting laut!" seru dokter Damar sembari mengulas senyum dan menggandeng tangan Anita, dan keduanya melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran dan keduanya disambut dengan ramah oleh pelayan restoran.
Keduanya segera melangkahkan kaki menuju ke bangku yang telah ditunjukkan oleh si pelayan tadi
Setelah duduk di kursi dengan nyaman, ada seorang pelayan yang menghampiri keduanya.
__ADS_1
Setelah membaca daftar menu, keduanya secara bergantian memberitahukan makanan yang ingin mereka pesan pada pelayan itu. Pelayan itu dengan setia menulis dengan menyimak setiap apa yang diucapkan oleh Anita dan dokter Damar.
"Kira-kira nanti kamu alergi apa tidak ya?" tanya dokter Damar yang sedikit cemas.
"Insyaa Allah tidak, kalaupun Anita alergi kan ada dokter Damar! he...he...he...!" jawab Anita sembari tersenyum manja.
"Bisa saja kamu ini!" seru dokter Damar yang mengulas senyumnya.
Tak berapa lama pelayan restoran itu datang dengan membawa pesanan mereka berdua.
Minuman dan makanan pun disajikan di atas meja di hadapan mereka, Anita pun mencium aroma masakan yang menggugah menambah selera makan mereka.
"Wah, harum sekali mas!" seru Anita yang nampak tak sabar menikmati hidangan dihadapannya.
"Ayo makan!" ajak dokter Damar dan Anita menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berdoa dan setelah mencuci tangan mereka di air yang sudah disediakan oleh pelayan tadi, mereka segera menyantap hidangan dihadapan mereka.
Sesuap demi sesuap, dan sesekali Anita menghisap cangkang kepiting dihadapannya itu.
Dokter Damar tersenyum geli pada saat melihat Anita yang begitu menikmati makanan dihadapannya, tanpa ada rasa sungkan sama sekali. Seperti saat mereka di desa dulu.
Dan tak berapa lama mereka telah selesai makan dan juga sudah menghabiskan minuman mereka.
Keduanya kemudian mencuci tangan mereka di wastafel, dan kemudian dokter Damar dan Anita melangkahkan kaki menuju ke meja kasir.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1