Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 65


__ADS_3

"He..he...he..! habisnya Anita sebetulnya juga ketakutan ma!" seru Anita yang mengulas senyumnya.


"Oiya ma, Anita tadi dapat undangan dari Lisa and the geng," ucap Anita yang melihat ke sekitarnya dimana Lisa and the geng, masih terus memperhatikannya.


"Undangan? undangan untuk apa?" tanya nyonya Cintya yang menatap Anita dengan penasaran.


"Ulang tahun adiknya Haikal, Amanda." jawab Anita dengan berbisik.


"Hah!" seru nyonya Cintya yang sangat terkejut.


"Iya ma, dan anehnya mas Damar tak mendapat undangannya." ucap Anita yang masih dengan berbisik.


"Aneh sekali, bukankah nak Damar yang merawat Amanda pada saat sakit kemarin?" tanya nyonya Cintya yang berusaha mengingat-ingatnya.


"Iya memang benar ma! Anita juga heran." jawab Anita yang menatap mama tirinya.


"Tapi kalian sudah tunangan, jadi kalian bisa berangkat bersama-sama!" bisik nyonya Cintya.


"Benar juga ya ma!" bisik Anita.


Tak terasa waktu istirahat telah selesai, dan Anita dengan diantarkan mama tirinya melangkahkan kaki kembali .entuk ke gedung dimana Anita menimba ilmu.


"Mama, sampai disini saja ya! Anita tak apa-apa kok di dalam." ucap Anita yang berpesan pada mama tirinya.


"Iya, mama tunggu di kursi taman itu ya!" seru Nyonya Cintya seraya menunjuk ke arah kursi yang ada di taman depan gedung dimana Anita kuliah.


"Iya ma." ucap Anita yang kemudian melambaikan tangannya.


"Daa...mama!"


"Daa Anita!" balas Mama tiri Anita yang melihat Anita berjalan meninggalkannya.


Setelah putri tirinya itu masuk ke gedung, nyonya Cintya melangkahkan kakinya ke kursi yang ada di taman.


Sementara itu Anita yang sudah masuk ke dalam gedung, melangkahkan kaki menuju ke tempat duduknya.


"Woi rupanya ada anak TK di kampus ini! ha....ha...!" seru Lala denga tawa lebarnya.


"Ke sekolah diantar mamanya! heh, seperti anak kecil saja!" seru Rini.


Anita tahu yang diomongkan oleh Lala dan Rini itu adalah dirinya, namun dia tak mau ambil pusing. Gadis itu tetap melangkah menuju ke tempat duduknya.


Tak berapa lama dosen yang mengajar mereka telah datang dan proses belajar dan mengajar berjalan dengan lancar.


Dua jam kemudian pelajaran telah selesai dan Anita bergegas berjalan keluar gedung, karena tak mau berurusan lagi dengan Lisa And the Geng.

__ADS_1


"Mama...!" panggil Anita pada saat menghampiri Nyonya Cintya.


"Sudah pulang nak?" tanya nyonya Cintya seraya memasukkan ponsel ke dalam tasnya, nampaknya dia baru saja menelepon seseorang.


"Iya, ma! Ayo kita pulang!" ajak Anita yang kemudian menggandeng mama tirinya.


"Iya, tapi pelan-pelan saja ya!" seru nyonya Cintya.


"He...he..!" Anita mengulas senyumnya.


"Oiya, tadi kapan acara ulang tahunnya?" tanya mama tiri Anita yang langkahnya beriringan dengan Anita.


"Nanti malam ma!" jawab Anita yang sesekali menatap nyonya Cintya.


"Kata papa, mama harus mengajak kamu ke butik, buat beli pakaian dan lain-lain buat make over kamu." ucap nyonya Cintya.


"Apa sih ma, nggak usah ma! kemarin Anita sudah dibelikan banyak baju dan lain-lainnya sama mas Damar. Jadi pakai itu saja! lagi pula ulang tahunnya kan cuma sebentar!" seru Anita.


"Ya sudah kalau begitu kita langsung pulang saja!" balas seru Nyonya Cintya.


"Iya Ma." ucap Anita dan keduanya telah sampai di samping mobil dimana mang Ujang tertidur didalamnya.


"Tek....Tek.....tek....!"


"Mang Ujang, bangun...!"


"O...i...ya nya! ma'af saya tertidur!" ucap mang Ujang yang gelagapan.


Anita dan Nyonya Cintya masuk dan memasang sabuk pengaman mereka, setelah itu mang Ujang menyalakan mobil dan kemudian melaju menyusuri jalan raya yang menuju ke ruang tempat tinggal mereka.


Tak butuh waktu lama mereka telah sampai dan setelah turun dari mobil keduanya menuju ke kamar masing-masing untuk menunaikan sholat Dhuhur dan lanjut mereka beristirahat di kamar masing-masing.


...****...


Beberapa jam kemudian setelah sholat Maghrib, dokter Damar telah sampai di rumah Anita dan siap mengantarkan tunangannya itu pergi ke acara ulang tahun Amanda adik Haikal.


"Jadi kita berangkatnya?" tanya Dokter Damar pada Anita pada saat berada di teras rumah dan Anita sudah menunggunya bersama nyonya Cintya dan tuan Suroso.


"Iya jadilah mas!" seru Anita sembari mengulas senyumnya.


"Sebentar! kau pakai gaun yang kita beli kemarin?" tanya dokter Damar yang menatap penuh kagum pada tunangnya.


"I..iya mas? cocok tidak mas?" tanya Anita yang meminta pendapat pada dokter Damar.


Dokter Damar mengulas senyumnya dan menunjukkan dua jari jempolnya pada Anita.

__ADS_1


"Nak Damar, titip Anita. Jaga dia dan bawa dia pulang, jangan sampai kurang apa pun." pesan mama Cintya seraya menatap dokter Damar dan Anita silih berganti.


"Iya ma, Anita sudah menjadi tanggung jawab saya." ucap dokter Damar seraya menatap Anita dan mengulas senyumnya.


Anita merasa bahagia mendengar hal itu.


"Tunggu sebentar ya!" seru nyonya Cintya yang berjalan setengah berlari menuju ke kamarnya. Dan semuanya saling pandang dengan raut wajah penasaran.


Tak berapa lama nyonya Cintya datang dengan membawa sebuah sweater rajut panjang yang berwarna merah maroon di tangan kanannya.


"Anita! pakai ini! kalau kamu kedinginan." ucap nyonya Cintya yang memberikan sweater itu pada Anita.


"Ini punya...... ibu!" seru Anita yang ingat betul dengan sweater itu, yang sering ibunya pakai pada saat dirinya dan Anette masih kecil. Anita mencium dan memeluk sweater merah maroon itu, yang mungkin saja masih ada kehangatan ibunya yang tertinggal di sewater itu.


"Iya, itu punya ibu kamu, dia memberikannya untuk Anette. Jika sewaktu-waktu Anette kedinginan dan kangen sama ibunya di kampung." ucap nyonya Cintya yang menceritakan tentang sweater itu.


"Makasih ma!" seru Anita yang kemudian memeluk mama tirinya.


"Sudah, nanti make up kamu luntur lho...!" seru nyonya Anita seraya mengulas senyumnya. Anita pun membalas dengan mengulas senyumnya pula.


"Papa, mama! kami berangkat ya!" seru Anita seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya satu persatu. Dokter Damar pun mengikutinya.


"Iya, berhati-hatilah dan selalu waspada!" pesan papanya Anita.


"Iya pa, Assalamu'alaikum...!" ucap salam pamit Anita yang hampir bersamaan dengan dokter Damar.


"Wa'alaikumsalam...!" balas tuan Suroso dan juga nyonya Cintya yang bersamaan.


Anita yang malam ini memakai gaun berwarna hijau toska itu, melangkah dengan anggun memakai high heels dan tas yang warnanya senada dengan rambut digerai dengan girly. Make up yang senada dengan warna kulit dan gaun yang dipakainya, menambah terpancarnya aura kecantikan Anita.


Sementara Dokter Damar memakai hem Oxford dengan warna hijau Toska juga, yang senada dengan gaun Anita, dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam dan sepatu hitam.


Keduanya melangkahkan kaki menuju ke mobil Nyonya Cintya, dan mang Ujang yang memang di tugaskan untuk membantu menjaga Anita.


Setelah Anita dan Dokter Damar masuk lalu duduk di kursi belakang mobil mewah tersebut, mang Ujang melajukan mobil itu perlahan keluar dari halaman kediaman tuan Suroso.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


...      ...


__ADS_2