
Tak butuh waktu lama mereka telah menyelesaikan makan siang di dalam mobil mereka, kemudian bergegas kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke kota.
Di saat mobil itu keluar dari halaman masjid, dokter Damar dan kawan-kawannya melangkahkan kaki mereka keluar dari masjid dan melangkahkan kaki menuju ke mobil mereka yang terparkir di tempat semula.
Setelah masuk ke dalam mobil, mereka melajukan kendaraan keluar dari halaman masjid dan akhirnya perlahan-lahan mobil mewah itu keluar dari masjid itu.
Tanpa mereka sadari mobil yang ditumpangi Anita dan Dokter Damar selalu beriringan, kadang mobil yang ditumpangi Anita berada di depan mobil yang ditumpangi dokter Damar dan kadan sebaliknya.
Dan setelah beberapa jam, mereka telah sampai di perbatasan kota yang mereka tuju yaitu di kota Jakarta.
Mereka terpisah, dokter Damar dan rombongannya menuju ke mess yang disediakan oleh rumah sakit yang akan merekrut mereka. Sementara itu mobil yang membawa Anita dan pak Suroso, perlahan-lahan memasuki perumahan elit yang dimana rumah yang selama ini ditinggali oleh pak Suroso dan Anette berada.
Mobil itu masuk melewati gerbang dan memasuki halaman sebuah rumah yang cukup mewah diantara yang lainnya.
Setelah mobil itu berhenti, mereka segera keluar dari mobil dan melangkahkan kaki ke arah teras depan rumah.
Tak berapa lama mereka disambut oleh para pembantu dan juga seorang wanita yang cantik dan menawan seperti artis Bollywood.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam pak Suroso pada saat melihat wanita cantik yang tak lain adalah Cintya, istri keduanya.
"Wa'alaikumsalam...Papa, ayo masuk pa! Kamu juga Anette!" balas Cintya sembari mengulas senyumnya.
Anita buru-buru mencium punggung tangan wanita yang merampas ayahnya dari ibunya, dia singkirkan rasa kesal dan marahnya pada Cintya. Karena dirinya berusaha menjadi Anette, yang tentu saja dia sama sekali tak tahu kebiasaan Anette karena selama ini mereka jarang berkomunikasi dengan saudara kembarnya itu.
Pak Suroso dan juga Cintya saling pandang, raut wajah keanehan terpampang di wajah Cintya. Karena merasa kalau hal itu tak pernah dia alami selama bersama Anette.
"Mama, katanya mama ingin melihat kembarannya Anette?" tanya pak Suroso yang tiba-tiba.
"I...iya, bukankah dia sedang melangsungkan pernikahan?" jawab sekaligus tanya Cintya pada suaminya.
"Dia tidak menikah, tapi ada didepan mama saat ini!" jawab pak Suroso seraya menatap Anita, spontan saja membuat Anita terkejut dan menoleh ke arah papanya.
__ADS_1
"Pa...pa, pa...pa tahu siapa aku yang sebenarnya?" tanya Anita yang sedikit merasa khawatir jika dimarahi oleh papa dan mama tirinya.
"Papa sudah tahu sejak ibu kamu yang memberitahukan kalau yang menikah itu Anette. Oleh karena itu, ibumu ingin kamu ikut ayah. Agar bisa melanjutkan sekolah dan yang pasti dapat melupakan dokter Damar!" jelas pak Suroso yang menatap raut wajah putrinya yang sedang syahdu itu.
"Ah papa! kenapa tak bilang dari tadi? Anita kan capek harus berakting menjadi Anette! Walaupun kami kembar, ternyata susah juga jadi bukan diri sendiri!" seru Anita yang bernapas lega.
"Pantas saja, mama juga sempat heran tadi. Tumben Anette yang selama ini bersama kita, kok tiba-tiba mencium tangan mama. Hampir saja mama mau bilang kamu kesambet setan mana Anette? eh ternyata memang bukan Anette!" seru Cintya yang langsung memeluk Anita.
Gadis itu tersentak kaget, dia merasakan kehangatan dalam diri mama tirinya itu. Tidak seperti bayangannya selama ini, kalau ibu tiri itu jahat seperti dalam dongeng-dongeng.
"Kalau begitu, ayo Mama antarkan kamu ke kamar Anette! karena sekarang kamu yang akan menempatinya." ucap Cintya yang kemudian melepaskan pelukannya dan membantu menarik koper pakaian Anita.
"I...iya ma!" ucap Anita yang tak enak hati, karena tiba-tiba saja ibu tirinya itu membantunya menarik koper dan mengajaknya ke kamar Anette.
"Papa langsung saja ke kamar pa! mama mau antar putri mama ke kamar Anita!" seru Cintya sembari mengulas senyum pada pak Suroso.
"Baiklah." balas papa Anita yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.
"Baik nyonya!" jawab para pembantu itu serempak dan mereka bergegas melangkahkan kaki menuju ke dapur.
Kemudian Cintya mengajak Anita melangkahkan kakinya menuju ke kamar Anette.
"Anita, nampaknya Anette itu berbanding berbalik dengan kamu ya!" seru Cintya sembari jalan beriringan dengan Anita.
"Menurut ibu Anita memang sedari kecil begitu, Apakah mama Cintya merasa terganggu sama Anette maupun sama saya?" tanya Anita yang menghentikan langkahnya.
"Tidak-tidak sama sekali. Justru mama merasa tak enak hati sama ibu kamu, karena tak bisa mendidik Anette menjadi seperti kamu yang santun dan kamu tampak tabah sekali seperti ibu kamu Anita." jelas Cintya yang memandang Anita dengan mengulas senyumnya.
"Mama jangan seperti itu, karena sifat kami ini memang sejak lahir sudah bertolak belakang. Dan aku rela waktu kecil mainan aku selalu dirampas oleh Anette, aku juga harus rela kalau Anette bisa mendapatkan kasih sayang papa dan mama, sedangkan aku cukup dengan kasih sayang ibu-ku saja di kampung." ucap Anita yang membalas senyuman Cintya.
"Ada satu lagi, aku tahu kalau Anette juga memaksa menikah dengan calon suami kamu ya?" tanya Cintya yang mencoba menebak.
__ADS_1
"Iya ma." jawab Anita seraya menganggukkan kepalanya pelan-pelan.
"Kak Anette mengurungku, dan mengancam aku. Tapi Anita sekarang sudah ikhlas ma. Dan Mama jangan khawatir, Anita bisa lupakan semuanya." ucap Anita yang berusaha tersenyum.
Cintya melihat masih ada guratan kesedihan di kedua mata Anita, wanita itu menarik napasnya dalam-dalam dan melepasnya perlahan-lahan.
"Mama yakin kalau kamu bisa bersemangat lagi, dan semoga kelak kamu mendapat jodoh yang lebih baik lagi dari mantan kamu itu." ucap Cintya seraya menepuk lengan Anita beberapa kali dan kemudian dia melanjutkan langkahnya.
Anita mengulas senyumnya.
"Ucapan mama sama persis dengan ucapan ibu-ku." gumam Anita yang kemudian melangkahkan kaki mengikuti Cintya.
Keduanya telah sampai di depan pintu sebuah kamar yang terdapat tulisan Anette room.
"Nah dikamar inilah kakak kamu selama ini tidur, dan melakukan aktifitas kesukaannya!" ucap Cintya seraya membuka pintu kamar Anette itu.
Kemudian keduanya masuk, dan Anita menebarkan pandangannya ke setiap sudut kamar itu dengan rasa kagumnya.
"Wah, belum pernah aku mendapat maupun tinggal di kamar sebagus ini!" gumam Anita seraya memutarkan tubuhnya, sembari terus melihat ke sekelilingnya.
"Dan mulai hari ini, inilah kamar kamu Anita!" ucap Cintya sembari mengulas senyumnya dan meletakkan koper Anita.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...