
Dan betapa terkejutnya Anita pada saat tahu siapa yang dibonceng Haikal.
"Ada apa Haikal?" tanya Anita yang penasaran.
"Coba lihat chat dari aku!" seru Haikal pada saat elaju beriringan dengan mobil yang dikemudikan mang ujang.
"Apa buka chat?” gumam Anita yang kemudian membuka ponselnya dan mulai membaca chat dari Haikal.
"Bisa ya!" seru Haikal.
''Insyaa Allah!" balas Anita seraya menunjukkan jari jempolnya sembari mengulas senyumnya.
Haikal mengnggukkan kepalanya dan kemudian menghentikan laju sepeda motornya. Pemuda itu kemudian putar balik dan melaju menyusuri jalan raya, dia akan mengantarkan Yuni ke rumahnya setelah itu lanjut pulang ke rumahnya.
Sementara itu Anita masih membaca chat dari Haikal.
"Haikal mengajak aku makan, tapi dia malah jalan sama Yuni? Apa maksud dia?" gumam dalam hati Anita.
"Neng Anita memangnya apa yang dikatakan oleh mas Haikal tadi?" tanya mang Ujang sembari mengemudi.
"Dia mengajak makan di kafe dia mang!' jawab Anita seraya membaca beberapa chat yang masuk ke ponselnya.
"Jam berapa? nanti dimarahi sama tuan dan nyonya neng, kalau malam-malam!" seru Mang Ujang yang mengingatkan.
"Setelah sholat Isya' mang. Nanti mang Ujang ikut saja ya!" ucap Anita sembari mengulas senyumnya.
"Boleh, memangnya kemana neng?" tanya mang Ujang yang penasaran.
"Haikal dan Amanda kafe." jawab Anita yang apa adanya.
"Haikal dan Amanda Kafe?" ya ya mang Ujang memastikan pendengarannya.
"Iya mang, mang Ujang tahu tempat itu?" tanya Anita.
"Iya, saya tahu neng. Tapi sayangnya mang Ujang malam ini nggak bisa mengantar neng Anita. Trus bagaimana neng?" tanya mang Ujang yang khawatir.
"Apa tidak jadi saja yan mang? takut kalau papa marah.'' ucap Anita dengan polosnya ..
"Memang neng Anita ini beda sekali sama neng Anette." ucap mang Ujang sembari mengulas senyumnya.
"Maksud mang Ujang?" tanya Anita yang penasaran.
"Kalau neng Anette yang ada dalam situasi seperti ini, dia pasti malah senang sekali!" jawab mang Ujang yang sekali-kali melihat Anita.
"Itu kan Anette mang! tapi yang ada disini kan Anita!" gumam Anita yang kemudian mengetik di ponselnya.
__ADS_1
Tak berapa lama mobil mewah itu telah masuk ke halaman rumah besar dan mewah, dan kemudian mobil mewah itu terparkir ditempatnya.
"Oh, akhirnya sampai juga!" seru Anita yang kemudian keluar dari mobil dan bergegas melangkahkan kakinya masuk ke rumah, kemudian masuk ke kamarnya setelah menyapa beberapa pembantu yang menyambutnya.
Sesampainya di kamar, Anita segera membersihkan dirinya. Mandi,mengganti pakaian dan segera berwudlu karena dia sudah mendengar kumandang Adzan dari toa yang ada di Masjid di dekat rumahnya.
Selesai wudlu, Anita segera menunaikan sholat Dhuhur di kamarnya.
Beberapa menit kemudian, Anita telah selesai sholat Dhuhur, dan tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk.
"Tokk....tokk....tokk....!"
"Assalamu'alaikum nona!" ucap salam dari luar pintu kamar Anette yang kini menjadi kamar Anita.
"Wa'alaikumsalam....!" balas Anita yang kemudian membuka pintu kamarnya.
"Klek...klek....ceklek...!"
Setelah pintu terbuka, nampaklah seorang pembantu di rumah besar dan mewah itu seraya menundukkan kepalanya.
"Ada apa bi Ti?" tanya Anita dengan ramah.
"Nona Anita, makan siang sudah siap sedia." jawab Pembantu itu dengan sopan.
Pembantu itu melangkahkan kakinya meninggalkan Anita, sementara Anita menutup pintunya kemudian menghampiri meja rias dan dia menyisir rambutnya yang berantakan.
Tiba-tiba Anita ingat akan foto seorang laki-laki yang sengaja dirobek oleh Anette. Setelah mengumpulkan potongan-potongan foto itu, Anita mencoba menempel dan menggabung-gabungkannya.
Terkihatlah sosok laki-laki muda yang lumayan tampan dan rambutnya sebahu dengan mata berwarna biru, sepertinya dia berasal dari luar negeri.
"Siapa laki-laki ini ya? kenapa fotonya dirobek-robek oleh kak Anette?" gumam dalam hati Anita yang penasaran.
"Hm, sebaiknya aku tanyakan saja pada bibi Ti. Siapa tahu bibi Ti mengenal laki-laki ini." ucap dalam hati Anita yang kemudian menyimpan foto itu ke dalam sakunya.
Setelah selesai Anita melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dan melangkahkan kaki perlahan-lahan menuju ke ruang makan.
"Tidak ada mama dan papa sepi ya bi." ucap Anita seraya menarik kursinya dan kemudian dia duduk di kursi itu
"Iya, tapi bibi sudah terbiasa. Apalagi hobby non Anette itu meninggalkan rumah! he..he..he..! non Anette jarang sekali pulang ke rumah." jawab bibi Ti sembari menyediakan minuman jus di samping Anita, dimana gadis itu sedang mengambil makanannya.
Setelah berdoa Anita segera memakan hidangan yang telah dia ambil, dan gadis itu makan dengan lahapnya.
Selesai makan, Anita sengaja masih duduk di kursi ruang makan. Dia kemudian mengeluarkan foto yang tadi dia tempel dan gabung-gabungkan itu.
"Bi, apakah bibi tahu siapa laki-laki ini?" tanya Anita seraya menunjukkan foto yang dia rangkai tadi.
__ADS_1
"Coba lihat non!" seru bibi Ti yang kemudian memperhatikan raut wajah laki-laki yang ada di foto itu.
"Oh, Dia pemuda yang akan dijodohkan sama Non Anette." jawab bibi Ti sembari duduk di dekat Anita.
"Dijodohkan? tapi kenapa disobek seperti ini ya bi? apakah mereka seru jalan bareng begitu?" tanya Anette yang penasaran.
"Bibi kurang tahu pasti, yang jelas non Anette itu orangnya bebas. Dia tak mau dijodoh-jodohkan." jawab Bibi Ti menghela napasnya.
"Lha trus dia profesinya apa bi? dan siapa yang menjodohkannya pada kak Anette?" tanya Anita penuh selidik.
"Yang bibi tahu, dia putra dari adik ipar nyonya. Jadi nyonyalah yang menjodohkannya, nyonya ingin masih terjalin hubungan dengan keluarga mendiang suaminya dulu. jadi beliau berharap Anette bisa menikah dengan tuan Danar." jelas Bibi Ti seraya menyeruput teh manis yang ada di depannya.
"Oh, jadi begitu ya ceritanya!" gumam Anita seraya terus memperhatikan wajah pemuda yang ada dalam foto.
"Eh, kok mirip dengan dia...!" sontak saja Anita terkejut setelah memperhatikan raut wajah Danar dengan jelas.
"Mirip siapa non?" tanya bibi Ti yang penasaran.
"Tidak siapa-siapa bi, mungkin hanya hayalan Anita saja." jawab Anita yang mencoba mengelaknya.
"Apa karena aku akhir-akhir ini teringat sama mas Damar ya?" gumam dalam hati Anita yang terus menatap wajah dalam foto itu.
"Bi, kalau boleh Anita tahu, siapa nama laki-laki ini bi?" tanya Anita yang penasaran.
"Oh, namanya Danar non!" jawab si bibi Ti.
"Apa, Damar?" tanya Anita yang belum begitu jelas.
"Danar non, pakai N bukan M ya. He...he...!" jawab si bibi sembari mengulas senyumnya.
"Oh, Danar ya. Anita kira Damar, he...he....he...!" ucap Anita yang mengulas senyumnya dan rona wajahnya kemerahan karena sedang tersipu malu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1