
"Uhf, akhirnya sampai juga!" gumam mang Ujang yang dengan segera mengambil sweater itu.
"Drrrt....drrrtt....!"
Ponsel mang Ujang berbunyi, dan mang Ujang melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Dokter Damar!" sebut mang Ujang yang segera mengangkat ponsel itu.
Mang Ujang :"Hallo Assalamu'alaikum!"
Dokter Damar :"Wa'alaikumsalam...! mang Ujang, benarkah isi chat kamu itu?"
Mang Ujang :"Benar dok!"
Dokter Damar ;"Kalau begitu bisakah mang Ujang ambil sweater Anita di dalam mobil?"
Mang Ujang ;"Iya dok, ini saya juga sedang ambil sweaternya neng Anita!"
Dokter Damar ;"Lekas bawa kemari, aku dan Anita menunggu di dekat pintu keluar!"
Mang Ujang :"Iya dok, saya segera ke sana! Assalamu'alaikum...!"
Mang Ujang segera berangkat menuju ke ruang pesta itu.
Dan dia melihat kedua orang anak buah Haikal sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya.
"Sepertinya mereka minta bantuan, untuk mempercepat kerja mereka! Aku harus cepat sampai!" gumam mang Ujang dan dia berlari menuju ke ruangan pesta dengan sesekali bertanya pada pelayan hotel.
Tak berapa lama mang Ujang sudah sampai di depan pintu yang masih dijaga oleh dua orang penjaga.
"Ma'af selain tamu undangan dilarang masuk!" seru salah satu penjaga yang menghadang mang Ujang.
"Bos saya ada didalam, dan saya mau memberikan barang yang ketinggalan di mobil!" seru mang Ujang.
"Boleh aku lihat barang apa itu?" tanya penjaga itu yang penasaran.
"Ini, nona majikan saya kedinginan dengan AC disini. Karena dia baru saja sakit dan pulang dari rumah sakit." jawab mang Ujang yang mengarang.
"Oh, baiklah. Silahkan masuk." ucap penjaga itu dan mang Ujang menganggukkan kepalanya, kemudian dia melangkahkan kaki masuk dengan hati yang lega.
Sementara itu Anita dan dokter Damar memang sedang membaur dengan tamu undangan lainnya dan mereka sengaja mencari rombongan tamu-tamu itu supaya bisa menutupi tubuh Anita yang memakai gaun hijau toska itu.
__ADS_1
"Mang Ujang lama sekali! aku jadi gugup mas!" bisik Anita yang sesekali melihat ke arah pintu.
"Sudah, tenang saja! masih dalam perjalanan dianya!" balas bisik dokter Damar.
"Eh, itu mang Ujang!" bisik Anita pada saat melihat mang Ujang yang masuk lewat pintu utama.
"Kamu tunggu disini, aku akan kesana! tetap sembunyikan tubuh kamu!" bisik Dokter Damar yang berpesan.
"Iya mas." jawab Anita dan dokter Damar melangkahkan kaki menghampiri mang Ujang.
"Mang Ujang!" panggil dokter Damar pada saat hampir sampai di posisi mang Ujang.
"Dokter!" panggil mang Ujang yang langsung menyambut dokter Damar dengan memberikan sweater merah maroon itu pada dokter Damar.
"Cepat berikan pada neng Anita dok! orang-orang jahat itu ada diluar!" bisik mang Ujang.
"Okey! sekarang kamu lekas pergi, sebelum ada yang tahu!" balas dokter Damar seraya menepuk lengan mang Ujang.
"Iya dok, permisi!" ucap mang Ujang yang berpamitan dan dokter Damar menganggukkan kepalanya.
Kemudian mang Ujang melangkahkan kakinya keluar dari ruang pesta itu dan dokter Damar melangkahkan kakinya menghampiri Anita yang masih sibuk mengobrol dengan tamu-tamu undangan lainnya.
"Iya mas." jawab Anita yang menerima sweater merah maroon itu dan kemudian memakainya.
"Uff...! sedikit lega!" bisik Anita setelah selesai memakai sweater itu.
Tak berapa lama, datang lima orang laki-laki yang bertubuh kekar dan mereka memakai pakaian serba hitam.
Mereka kemudian berpencar dan mencari seseorang. Beberapa saat kemudian salah satu dari mereka membawa seorang gadis yang memakai gaun dengan warna sama dengan gaun Anita yaitu hijau toska dengan model gaun yang berbeda. Karena gaun itu nampak lebih glamor.
"Eh, Anita! lihat siapa yang dibawa oleh mereka!" bisik dokter Damar yang terus menatap ke arah tiga orang laki-laki berpakaian serba hitam itu yang membawa seorang gadis canti yang memakai gaun berwarna hijau toska.
"Mas, itu Lisa!" bisik Anita pada saat melihat gadis yang dibawa tiga orang laki-laki yang berpakaian serba hitam itu dan dua orang laki-laki yang berpakaian serba hitam lainnya mengikuti mereka dibelakang.
Keenam orang itu pergi meninggalkan ruang acara pesta. Anita dan dokter Damar saling pandang dengan raut wajah cemas.
"Kira-kira apa yang terjadi dengan dia ya?" tanya dokter Damar yang juga khawatir, karena Lisa adalah putri dari direktur utama rumah sakit dimana dia bekerja.
"Entahlah mas, sebaiknya kita cepat keluar dari tempat ini. Dan sebaiknya sama-sama dengan tamu yang akan keluar dari ruangan ini." bisik Anita.
"Benar juga! itu ada rombongan yang mau keluar, ayo lekas kita pergi!" ajak dokter Damar dan Anita menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan tamu-tamu undangan yang lainnya, mereka melangkahkan kaki bergabung dengan tamu-tamu yang lainnya yang akan keluar dari ruangan pesta ulang tahun itu.
Tak berapa lama Anita dan dokter Damar sudah keluar dari ruangan pesta dan mereka melangkahkan kaki menuju pintu keluar dari hotel tersebut dan menuju ke tempat parkir, dimana mang Ujang meninggu dengan cemas disamping mobil mereka.
"Neng Anita....dokter Damar!" panggil mang Ujang pada saat melihat kedua orang anak muda yang telah bertunangan itu.
"Ayo mang kita pergi dari sini!" seru dokter Damar yang bergegas membukakan pintu untuk Anita, dan kemudian dia berjalan memutar lewat belakang mobil dan membuka pintu disisi lain mobil itu, kemudian duduk disamping Anita.
"Iya dok!" jawab mang Ujang yang melangkahkan kaki melewati depan mobil dan membuka pintu dimana ada kemudi mobil itu. Setelah itu dia segera masuk dan menyalakan mobil tersebut.
Mobil itu perlahan-lahan meninggalkan hotel dan menyusuri jalan raya yang menuju ke arah rumah orang tua Anita.
"Alhamdulillah kita bisa keluar juga dari hotel itu!" seru Anita yang bernapas lega.
"Iya, kita masih dalam lindungan-Nya." ucap dokter Damar yang bernapas lega juga.
"Saya sampai deg-degan lho neng! pada waktu di toilet pada saat mendengarkan pembicaraan Haikal dan dua anak buahnya!" ucap mang Ujang dengan tetap mengemudi.
"Terima kasih lho mang Ujang! karena mang Ujang sudah memberitahukan hal penting tadi!" ucap Anita.
"Itu sudah tugas saya neng! yang tak habis saya pikirkan yaitu sikap Haikal sangat lain pada saat neng Anita ditunjuk menggantikan adiknya bermain basket kemarin!" seru mang Ujang seraya menggelengkan kepalanya secara pelan-pelan.
"Aku sendiri juga bingung mang! tapi jangan pikirkan itu, yang penting kita sampai dirumah dulu!" seru Anita.
"Iya mang! kita bahas nanti sama papa dan mama!" ucap dokter Damar yang menambahi.
"Baik." sahut mang Ujang yang kemudian lebih fokus lagi mengemudi.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1