
Mendengar suara jeritan Lisa, Haikal yang semula masih dalam posisi tidur dengan pulasnya, bangun seketika itu juga seraya memegang kepalanya yang terasa sakit.
"A..ada apa sih?" tanya Haikal yang berusaha mengingat sesuatu.
"Ka..kau apakan aku? kau jahat Kal! aku sahabat Yuni, setelah ditinggal Yuni kau tega menyakitiku!" racau Lisa dengan posisi duduk bersandar di sofa dengan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan mereka seperti sedang berebut selimut, karena saat ini kondisi Haikal yang juga tanpa memakai sehelai pakaian sama sekali.
"Aku tak ingat sekali, betu aku kaget sekali! Kenapa ada kamu? bukannya semalam Anita yang bersamaku?" ucap dan tanya Haikal yang masih tak habis pikir.
"Bukan, tapi aku Kal!" seru Lisa yang mulai terdengar suara isakan tangisnya. Kemudian gadis itu mengambil gaunnya yang masih berada di atas sofa.
"Kau pakai gaun warna ini!" seru Haikal yang memegang gaun berwarna hijau toska yang ada ditangan Lisa.
"Iya, ini gaunku!" seru Lisa yang hendak memakai gaun itu.
"Ja...jadi mereka salah bawa orang!" seru Haikal dengan mengepalkan tangannya.
"Apa maksud kamu?" tanya Lisa yang penasaran.
"Sebenarnya aku menyuruh anak buahnya untuk membawa Anita, yang saat ini sudah bertunangan dengan dokter Damar." jawab Haikal lirih, namun Lisa masih bisa mendengarkannya.
"A...apa! Anita bertunangan dengan dokter Damar?" tanya Lisa yang penasaran.
"Iya, dan mereka yang mengatakannya sendiri tadi!" seru Haikal yang memperjelas jawabannya.
"Aaaaaaahh....! kenapa kamu pilih si pembangkang itu dokter! apa kurangku? percuma aku selama ini cari perhatian dengan kamu!" racau Lisa yang kesal.
"Ka...kau suka dengan dokter Damar?" tanya Haikal yang terkejut.
"Iya!" jawab Lisa yang kini air matanya tak terbendung lagi.
"Kita senasib Lisa, jangan menangis! aku akan selalu bersama kamu." ucap Haikal seraya menyeka air mata Lisa yang menetes dipipi halus parempuan dihadapannya itu.
"Aku tak percaya! dua kali aku menyukai laki-laki, dua kali juga aku patah hati! apalagi sekarang ini, kondisiku seperti ini! lebih baik aku mati saja!" racau Lisa yang menjadi-jadi dan kedua tangannya menarik rambutnya dengan kuatnya, seolah tak perdulikan dengan penampilannya.
Lisa yang biasanya selalu peduli dengan penampilan, sekarang ini sudah seperti orang gila' saja.
__ADS_1
Haikal yang melihat hal itu merasa bersalah dan juga iba pada Lisa, sahabat kekasihnya yang telah tiada.
Tiba-tiba saja Haikal memeluk Lisa dengan erat dan Lisa yang tadinya kacau, mendadak diam dipelukan Haikal.
"Lisa, aku telah berbuat salah! aku mau menebus kesalahanku, aku akan mencintaimu setulus hati. Kamu jangan seperti ini ya? Aku tidak hanya bersalah padamu, tapi juga bersalah pada Yuni! Karena aku sudah menyakiti sahabatnya." ucap Haikal yang terus memeluk Lisa dan jantung Haikal yang berdetak itu terdengar ditelinga Lisa.
"Haikal, benarkah kamu akan mencintaiku?" tanya Lisa yang memastikannya sekali lagi.
"Iya, aku akan berusaha mencintaimu." jawab Haikal seraya menganggukkan kepalanya.
"Janji tak akan mengingat dan menyebut nama Anita lagi?" tanya Lisa yang memastikan dihati Haikal tak ada Anita lagi.
Haikal menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan pelan-pelan.
"Sulit sih, tapi aku harus berusaha melupakan dia. Dan aku juga berharap supaya kamu juga melupakan dokter Damar. Bagaimana?" jawab sekaligus tanya Haikal yang kemudian mereka saling tatap mata secara intens.
Kedua bibir mereka perlahan-lahan saling beradu, dan lama kelamaan keduanya saling menikmati gelora yang merasuki mereka.
"Lisa, semalam aku melakukannya saat dalam kondisi mabuk minuman keras, bagaimana kalau kita melakukannya lagi?" ucap Haikal secara berbisik.
Haikal yang terdorong mundur itu mengulas senyum dan kemudian mengusap wajahnya secara kasar.
Sementara itu Lisa memunguti pakaian dalamnya satu persatu dan kemudian dia melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi.
Demikian pula dengan Haikal yang kemudian memunguti pakaiannya dan memakainya. Sambil menunggu Lisa keluar dari kamar mandi, dia membereskan keadaan kamar hote itu yang acak-acakan karena ulahnya.
Tak berapa lama Lisa keluar dari kamar mandi, dan wajahnya kini terlihat lebih segar dan wangi.
"Hmm....! wangi sekali pacar baruku ini!" ucap Haikal pada saat melangkahkan kaki menghampiri Lisa.
"Sudah sana mandi, habis itu kita makan ya! perutku sudah lapar nih!" seru Lisa seraya mengambil tas kecilnya untuk mengambil kosmetiknya.
"Iya, aku juga lapar! tungguin aku ya!" ucap Haikal seraya mengulas senyumnya.
"Iya-iya!" balas Lisa yang juga membalas senyuman Haikal, dan Haikal bergegas masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
...****...
Setengah bulan berlalu, Anita sudah meminta ijin cuti kuliah, demikian pula dengan Dokter Damar yang juga meminta ijin cuti kerja. Anita dan dokter Damar satu mobil dalam perjalanan pulang kampung, sedangkan Tuan Suroso dan Nyonya Cintya juga dalam satu mobil bersama Raindra putra semata wayang mereka.
"Mama, mama yakin mau bertemu dengan dik Sunarti?" tanya tuan Suroso yang memastikan perasaan istri keduanya.
''Iya pa, selama ini saya merasa bersalah sekali dengan mbak Narti. Mbak Narti kan juga ada hak yang sama dengan aku. Selama ada Anita, aku sudah belajar banyak, mbak Narti memang seorang istri dan ibu yang terbaik. Disaat dia dijauhkan dari salah satu putrinya dan suaminya, ternyata mbak sunarti mampu mendidik Anita menjadi gadis yang cantik dan Solehah. Sedangkan aku, mendidik Anette saja tak bisa, dan Raindra saja aku pasrahkan pada pondok pesantren. Yang seharusnya aku harus bisa seperti mbak Narti, ternyata tidak sama sekali." jelas Nyonya Cintya yang sesekali mengusap air matanya.
"Kalian memang wanita istimewa bagiku, papa ingin kalian akur, dan tak ada permusuhan diantara kalian!" ucap tuan Suroso yang sesekali melihat ke arah istri keduanya.
"Pa, apa ibu Narti itu secantik kak Anita dan kak Anette?" tanya Raindra yang sudah menyelesaikan membaca buku-bukunya yang dia pelajari di pondok pesantren.
"Iya tentunya lebih cantik mama kamulah! he...he...!" jawab tuan Suroso seraya melirik ke arah nyonya Cintya.
"Ah, papa! mulai deh!" seru nyonya Cintya yang mencubit lengan suaminya yang duduk di depan kemudi yang ada disampingnya.
"Auw, mama! papa sedang mengemudi nih!" seru tuan Suroso seraya mengulas senyumnya.
"Ha...ha...! mama dan papa persis seperti Kak Anita dan kak Damar!" celetuk Raindra yang tertawa terbahak-bahak.
Tuan Suroso dan Nyonya Cintya saling pandang dan mereka saling balas mengulas senyum masing-masing.
Sementara itu Anita dan dokter Damar, keduanya sudah merasa tak sabar ingin cepat sampai ke kampung halaman mereka. Sampai-sampai Anita mengganti-ganti lagu di radio mobil yang mereka tumpangi.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1
... ...