Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 58


__ADS_3

"Kemana saja asalkan jangan pulang ke rumah lebih dulu!" seru Anita yang jelas saja membuat dokter Damar semakin penasaran.


"Ya sudah, kita jalan-jalan ke tempat keramaian. Bagaimana?" tanya dokter Damar sembari melirik ke arah Anita.


"Hm, boleh juga!" balas Anita yang berusaha membuat dirinya untuk lebih tenang.


"Oiya, apakah ada luka-luka ditubuh kamu?" tanya dokter Damar yang mengkhawatirkan keadaan Anita.


"Ada sih sedikit, lumayan perih dan sakit!" jawab Anita seraya memeriksa bagian tubuhnya yang lecet-lecet karena insiden di gudang penghancuran barang bekas tadi.


Kemudian dokter Damar menunjukkan kotak P3K-nya yang berada di dasbor mobil.


Anita segera mengambil dan membersihkan luka-lukanya lalu mengobatinya.


"Mas Damar juga lebam-lebam wajahnya!" seru Anita pada saat melihat wajah dokter Damar.


"Kalau lebam-lebam begini harus pakai es batu. Ini tadi sempat beli es batu di warung tadi!" ucap dokter Damar seraya menyerahkan es batu pada Anita dan Anita menerimanya, kemudian mengambil sapu tangannya untuk membungkus es batu yang sudah dalam bentuk kecil-kecil itu.


Anita menempel-nempelkan saputangan yang membungkus es batu itu pada luka lebam di wajah dokter Damar yang tetap mengemudi itu.


Kemudian dokter Damar melajukan kendaraannya menuju ke supermarket terbesar dan ternama di kota itu.


Dan Anita selesai mengobati dirinya dan juga luka-luka lebam pada dokter Damar.


"Mas, kita mau apa?" tanya Anita yang penasaran saat melihat begitu cantik dan terang benderangnya lampu-lampu supermarket itu.


"Belanjalah! masak mau berenang!" seru dokter Damar seraya mengulas senyumnya dan melepaskan sabuk pengamannya pada saat dia telah menghentikan laju kendaraannya.


"Mas Damar masak nggak tahu, Anita kan nggak suka kalau masalah belanja-belanja beginian?" ucap Anita yang dengan terpaksa melepas sabuk pengamannya dan ikut keluar dari mobil tersebut.


"Mas tahu itu, tapi mau tak mau kamu harus mau!" ucap dokter Damar yang kemudian menarik tangan Anita dengan kuat dan mereka melangkahkan kaki masuk ke pusat perbelanjaan itu.


"Kok maksa sih mas!" seru Anita diantara langkah kakinya.


"Nanti kamu juga akan tahu!" ucap dokter Damar yang mengulas senyumnya dan terus melangkahkan kakinya menyusuri lantai supermarket itu.


Tak berapa lama mereka telah berhenti di depan toko perhiasan.

__ADS_1


"Eh, mau apa kita mas?" tanya Anita yang penasaran.


"Mas mau melindungi kamu selalu, jadi mempercepat pernikahan kita itulah jalan satu-satunya agar tak ada lagi yang mengganggu kamu dan merampas cintaku lagi. Mas Damar tak mau ada haikal-haikal lagi diantara kita!" bisik dokter Damar yang menatap raut wajah Anita, dan Anita paham akan maksud dari laki-laki dihadapannya itu.


Gadis itu mengulas senyumnya dan dokter Damar pun membalas senyuman Anita yang sangat manis buat dokter Damar.


Keduanya pun masuk dan segera memilih perhiasan yang cocok untuk Anita. Dan rona kebahagiaan pun terpancar dari keduanya, seakan melupakan kejadian beberapa jam yang lalu.


Setelah selesai membeli perhiasan, mereka beralih untuk membeli pakaian yang akan mereka gunakan untuk pernikahan dan acara penting mereka.


"Mas, banyak sekali belanjaan kita, dari perhiasan, pakaian, sampai tas juga sandal dan sepatu!" ucap Anita seraya menunjukkan belanjaan mereka.


"Nggak apa-apa! Ini semua demi pernikahan kita. Mas ingin cepat-cepat menghalalkan kamu!" jawab dokter Damar seraya menarik hidung pesek Anita dan kemudian dia mengulas senyumnya.


"Ih, mas Damar! sakit lho!" gerutu manja Anita yang menambah gemas dokter Damar padanya.


"Tapi suka kan?" goda dokter Damar.


"Suka? sakit iya mas?" seru Anita yang kini hidungnya mulai memerah.


"Ma'af deh! yuk makan, habis itu kita pulang!" ajak dokter Damar yang kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke restoran yang masih buka.


Setelah menemukan tempat duduk yang nyaman, keduanya segera memesan makanan dan minuman yang sesuai keinginan mereka.


" Anita, kalau kamu masih trauma dengan kejadian tadi, sebaiknya kuliah kamu pindah ke kampus lain. Mas sangat khawatir akan keselamatan kamu." ucap dokter Damar yang terus memperhatikan Anita.


"Akupun juga begitu mas, tapi Anita baru saja kuliah dan mama juga sudah bayar semua administrasinya sampai dua semester kedepan. Anita jadi dilema!" balas Anita dengan wajah sendunya.


Tak berapa lama makanan dan minuman yang mereka pesan sudah datang dan keduanya segera menyantap hidangan tersebut.


Mereka kemudian bicara tentang hal yang indah-indah pada saat mereka masih di kampung. Dokter Damar berusaha membuat cerita lucu agar Anita selalu mengembangkan senyumnya dan berharap gadis itu tak akan trauma dengan apa yang terjadi padanya.


Beberapa menit kemudian mereka telah selesai makan dan setelah membayar makanan dan minuman mereka di kasir, keduanya melangkahkan kaki menuju ke mobil dan memasukkan belanjaan mereka ke bagasi belakang mobil.


Kemudian Anita dan dokter Damar masuk dengan posisi seperti semula, dokter Damar tetap di belakang kemudi dan Anita disampingnya.


"Anita, apakah kamu sudah mendingan?" tanya dokter Damar yang menatap Anita pada saat memakai sabuk pengaman dengan rasa penasaran.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah sih mas!" ucap Anita seraya mengulas senyumnya.


"Baguslah kalau begitu mas Damar antar kamu sampai ke rumah." ucap dokter Damar yang sesekali melihat ke arah Anita.


"Iya mas!" balas Anita yang mengulas senyumnya dan dokter Damar pun ikut tersenyum.


Perjalanan mereka lumayan lama, Anita menyalakan radio mobil dan mereka mendengarkan lagu-lagu kesukaan mereka. Sesekali mereka saling sahut ikut menyanyi lagu-lagu yang mereka hapal.


Beberapa menit kemudian Anita tertidur pulas dan dokter Damar melihat Anita yang tertidur itu dan dia pun tersenyum.


"Kamu kelelahan ya, sampai tertidur pulas begitu. he...he...!" ucap dokter Damar yang sesekali melihat ke arah Anita.


Mobil mewah itu terus melaju di jalan raya, dan akhirnya memasuki halaman rumah keluarga tuan Suroso.


Tiba-tiba pandangan dokter Damar tertuju pada sebuah mobil dan juga sebuah sepeda motor yang terparkir di halaman sisi lain di rumah besar itu.


Dokter Damar menghentikan laju mobil tepat didepan teras dan mang Ujang, bibi Ti menyambut mereka.


"Tuan Damar, kenapa sampai malam sekali?" tanya mang Ujang pada saat membukakan pintu mobil dokter Damar.


"Kami ada sedikit masalah tadi!" ucap dokter Damar yang keluar dari mobil dan memberikan kunci mobil pada man Ujang agar mang Ujang memarkirkan mobil ke tempat yang tepat.


"Bibi Ti, tolong ambil barang belanjaan kamu di bagasi, aku akan angkat Anita!" lanjut perintah dokter Damar yang bergegas melangkahkan kakinya menuju ke pintu dimana Anita duduk dengan posisi masih tidur dengan pulasnya.


Setelah membuka pintu, dokter mengangkat tubuh Anita dan membopongnya menuju ke teras lalu masuk ke ruang tamu.


Pada saat di ruang tamu, nampak tuan Suroso dan nyonya Cintya sedang duduk berbincang-bincang dengan beberapa orang.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


...      ...


__ADS_2