
"Oh, iya sih ma! he..he...!" balas Anita yang juga mengulas senyumnya.
"Ok, let's go kita ke supermarket ternama mang Ujang...!" seru ibu Cintya yang intonasinya seperti anak muda saja.
"Mama! Anita terkejut, Anita merasa kalah sama mama! he...he...!" seru Anita dengan tawa khasnya.
Suasana di dalam mobil itu menjadi riang ditambah ibu Cintya yang bersenandung lagu-lagu jaman sekarang, yang tentu saja Anita ikut menyanyikannya, karena sangat hapal dengan lirik lagu yang dinyanyikan oleh mama tirinya.
Tak berapa lama mereka telah sampai di tempat parkir supermarket yang ternama di kota itu. Setelah turun dari mobil, keduanya melangkahkan kaki meninggalkan mang Ujang dan juga mobil mewah yang berhenti di depan tempat parkir itu.
"Kita ke butik dulu untuk mencari baju-baju, sepatu dan juga tas yang nanti kamu butuhkan untuk keperluan kuliah." ucap ibu Cintya yang terus melangkahkan kakinya.
"Ma, kenapa mama repot-repot sih?" tanya Anita yang berjalan mengiringi mama tirinya itu.
"Tidak apa-apa, kamu itu putrinya papa Sura, jadi Putri mama Cintya juga. He...he...!" ucap Ibu Cintya sembari mengulas senyumnya.
Sura adalah nama panggilan pak Suroso di kota.
Kemudian mereka segera mempercepat langkah kaki mereka menuju ke arah butik pakaian yang menjadi langganan ini Cintya.
Anita mencoba beberapa pasang pakaian dan juga sepatu, setelah dirasa cocok kemudian mereka mencari tas dan bahkan kosmetik buat Anita.
Cukup lama juga keduanya belanja, tanpa terasa perut mereka minta diisi.
Keduanya pun mampir ke restoran yang menghidangkan menu masakan sesuai selera mereka. Tak butuh lama mereka makan makanan yang tersaji di restoran itu, kemudian setelah membayar mereka segera melangkahkan kaki menuju ke tempat parkir mobil yang sebelumnya membawa mereka.
Terlihat Mang Ujang menyambut keduanya dengan mengambil alih barang belanjaan yang dibawa oleh Anita dan juga nyonya majikannya.
Setelah memasukkan semua belanjaan ke dalam bagasi mobil, mereka segera masuk ke mobil dengan posisi duduk seperti semula.
Kemudian mang Ujang melajukan mobil majikannya itu perlahan-lahan keluar dari tempat parkir dan perlahan-lahan meninggalkan supermarket itu, menuju kembali ke rumah mewah yang mereka tempati.
__ADS_1
Hari-hari pun berlangsung dengan semestinya, pak Suroso seperti biasa bekerja sebagai direktur utama di dua perusahaan milik keluarga ibu Cintya, yang menggantikan papanya ibu Cintya yang telah meninggal.
Ibu Cintya yaitu mama tiri Anita, tetap dengan perannya sebagai ibu rumah tangga. Karena selama ini dia tidak di perkenankan bekerja oleh suaminya pak Suroso.
Mang Ujang bekerja sebagai sopir keluarga, yang menggantikan pak Suroso sebelum menikah dengan ibu Cintya adalah sopir pribadi keluarga ibu Cintya..
Sementara itu Anita mulai masuk ke universita favorit dengan jurusan kedokteran. Selama kuliah, Anita disambut baik oleh teman-temannya yang rata-rata dari kelas menengah ke atas. Yang kebanyakan dari mereka cantik-cantik dan tampan-tampan serta sombong dan tak mau bergaul dari kalangan menengah ke bawah.
"Apakah mereka akan seperti ini ya, jika tahu kalau aku sebelumnya juga dari kampung. Aku disini kan ikut papa, sedangkan papa juga kalau tidak menikah dengan mama Cintya juga bukan apa-apa. Papa hanya seorang sopir pribadi." gumam dalam hati Anita pada saat melihat seorang temannya yang dibully oleh beberapa teman-teman kampusnya.
Anita menghela napasnya panjang, dia kemudian menuju ke kantin dan membeli dua botol air mineral dan juga beberapa roti. Yang dia bawa ke arah seorang gadis yang sedang menangis di sudut gudang yang berada di kampus tempatnya menimba ilmu.
"Hei, mau minum?" tanya Anita yang kemudian menghampiri gadis itu dan dia pun berjongkok untuk menyelaraskan tubuhnya dengan tubuh gadis itu.
"Eh, iya terima kasih." jawab gadis itu yang semula membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya, dan kini mendongak menatap Anita yang kemudian menerima satu botol air mineral yang disodorkan oleh Anita.
"Mau roti?" tanya Anita sembari menyodorkan roti yang tadi dia beli bersama air mineral itu di kantin kampus.
Kini Anita duduk bersila berhadapan dengan gadis itu, dan mereka pun makan bersama di sudut gudang seraya berkenalan dan berbincang-bincang yang ringan.
"Kalau boleh aku tahu, siapakah nama kamu?" tanya Anita setelah menelan roti yang ada ditangannya.
"Saya Dilla dari jurusan perawat." jawab gadis yang ada dihadapan Anita.
"Hai Dilla, saya Anita dari jurusan kedokteran." sapa Anita dengan mengulas senyumnya.
"Terima kasih, telah membantu saya." ucap Dilla yang tersenyum untuk membalas senyuman Anita.
"Sama-sama. Oiya, kenapa kamu di bully oleh mereka? memangnya kamu punya kesalahan yang fatal bagi mereka?" tanya Anita yang penasaran.
"Entahlah saya kurang tahu pastinya, yang saya tahu karena saya kuliah dengan bea siswa yang hanya membayar setengahbya saja."jawab gadis yang bernama Dilla itu yang telah menghabiskan roti di tangannya
__ADS_1
"Oh, jadi begitu ya." ucap Anita yang mulai paham
"Padahal sebetulnya antara bayar cash dan bea siswa, itu sama saja. Hanya saja saya dibantu pemotongan biaya bulanan dari kampus karena saya telah mengikuti tes bea siswa. Sedangkan mereka kan memang mampu untuk membayar biaya sekolah, karena kedua orang tua mereka yang mampu." ucap Diila yang menghela napasnya.
"Kamu yang sabar ya!" ucap Anita sembari menepuk pundak Dilla.
Kemudian mereka saling berbincang ringan sambil terus makan roti dan minum air mineral itu sampai habis.
Dan sejak itulah terjalin persahabatan diantara mereka dan Anita selalu membantu Dilla pada saat gadis itu dibully oleh teman-temannya yang satu kampus itu.
Hari-hari pun berjalan dengan apa adanya, tak ada Bullyan untuk Diila pada akhir-akhir ini. Hingga tiba-tiba di saat jam pelajaran telah selesai,
"Anita!" panggil seseorang yang bersuara seorang gadis yang sangat Anita kenal.
"Lisa! ada apa Lis?" tanya Anita yang penasaran pada saat dirinya menoleh ke arah gadis yang memanggilnya itu.
"Heh! kenapa sih kamu sering membantu dan membela si Dilla itu?" tanya gadis yang bernama Lisa itu dengan ketus.
"Lho, memangnya apa salahnya?" tanya Anita yang menatap Lisa dengan tatapan tajam
"Hah, masih kamu tanya apa salahnya? hei, dia itu sekolah ke sini itu dengan bea siswa, kamu tahu! itu berarti dia gratisan dan dia itu orang kismin! jadi tak pantaslah bergaul dengan kita! kamu harus paham itu!" seru Lisa dengan kesal, dimana dibelakangnya ada empat orang gadis yang menjadi anggota gengnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...