Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 30


__ADS_3

"Alhamdulillah kabar aku baik-baik saja." balas Dilla dengan mengulas senyumnya.


"Apakah kamu mau langsung bekerja?" tanya Anita yang menebak.


.


"Ya iyalah, jangan bilang kamu juga mau ke sana ya!" balas Dilla yang juga mencoba menebak keinginan Anita.


"He..he..he...! kita jalan bersama saja. Aku juga mau ke rumah sakit umum sekarang ini." ucap Anita.


"Ada urusan apa Anita, kalau boleh aku tahu sih?" tanya Dilla yang penasaran.


"Nanti aku ceritakan!" bisik Anita pada saat melihat Haikal yang datang menghampiri mereka setelah berpisah dengan teman-temannya.


"Anita! Sudah lama menunggunya?" tanya Haikal pada saat menghampiri kedua gadis itu.


"Kami baru saja sampai." balas Anita.


"Lho Dilla ikut?" tanya Haikal yang menatap ke arah Dilla.


"Iya, sekalian sama-sama karena Dilla bekerja di Rumah sakit juga." jawab Anita yang menjelaskan.


"Dilla bekerja? Wah, hebat dong kuliah sambil bekerja!" seru Haikal yang menatap ke arah Dilla dan ada sedikit rasa kagumnya pada gadis itu.


"Ini karena ibu saya yang sudah sakit lama di rumah sakit. Walaupun ada biaya gratis dari pemerintah untuk pengobatan ibu, saya juga kan harus meneruskan kuliah dan juga butuh biaya juga. Mengingat saya anak Yatim, ayahku sudah tiada beberapa tahun yang lalu." jelas Dilla yang apa adanya.


"Oh, jadi begitu ya! tapi jika ada kalian berdua, terus bagaimana kita berangkatnya ke rumah sakit? aku kan hanya bawa sepeda motor?" tanya Haikal yang sedikit cemas.


"Eh, siapa bilang aku mau membonceng kamu Haikal!" seru Anita yang mengulas senyumnya.


"Trus bagaimana kalian ke rumah sakit umumnya? apa perlu saya pesankan taksi online?" tanya Haikal yang masih bingung.


"Kamu lupa ya, aku kan pulang pergi ada sopir! Tuh, mobil papaku yang dikendarai mang Ujang terparkir disana!" jawab Anita yang menunjuk ke arah mobil yang dia kenali.


"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita berangkat sekarang juga!" seru Haikal.


"Iya." jawab Anita dan Dilla yang bersamaan dan mereka pun terpisah, Haikal berjalan mendekati sepeda motornya. Sementara Anita dan Dilla mendekati mobil dimana mang Ujang sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu untu Anita pada saat melihat putri majikannya itu berjalan menuju ke arahnya.


"Neng Anita sudah pulang?" sapa mang Ujang dengan ramah.

__ADS_1


"Iya mang, tapi kita ke rumah sakit umum dulu ya." ucap Anita saat masuk ke dalam mobil bersama Dilla.


"Oh, mengantarkan Neng Dilla ya neng Anita?" tanya mang Ujang yang mencoba menebak.


"Iya itu juga salah satunya mang." ucap Anita yang sedang memakai sabuk pengamannya.


"Trus yang kedua apa neng?" tanya mang Ujang yang mulai menyalakan mobil dan perlahan-lahan meninggalkan tempat dimana mobil yang dikendarainya itu terparkir.


"Aku mau jenguk adik dari teman Anita, itu adiknya Haikal." jawab Anita.


"Memang adiknya Haikal kenapa?" tanya Dilla yang penasaran.


"Adiknya Haikal kecelakaan, dan kabarnya koma sampai sekarang belum sadar juga." jawab Anita.


"Hah, belum sadar?" tanya Dilla yang memperjelas pendengarannya.


"Iya, karena itulah aku ingin menjenguknya. Sekaligus ingin tahu kebenarannya jika memang benar adiknya Haikal sedang koma." ucap Anita.


"Maksud kamu apa Anita? aku belum paham?" tanya Dilla yang menatap ke arah Anita.


"Adiknya Haikal kan ikut lomba basket tingkat kecamatan, dan besok finalnya. Sedangkan adiknya Haikal sampai sekarang belum sadar juga, karena itulah Haikal meminta aku untuk menggantikan posisi adiknya. Agar tak terjadi kekosongan di tim basket adiknya." jelas Anita.


"Kamu naksir ya!" goda Anita sembari mengulas senyumnya.


"Eh, apa sih! aku tuh dah naksir seseorang! eh, ups... keceplosan!" seru Dilla yang menutup mulutnya.


Mang Ujang yang melihat dari kaca spion percakapan kedua gadis itu dan mengulas senyumnya.


Sementara itu Haikal yang naik sepeda motor, mendahului laju mobil yang ditumpangi Anita dan Dilla.


"Nampaknya sudah ada yang ditaksir ya! boleh tahu dong siapa dia! he..he...he...!" ucap Anita seraya memegang tangan Dilla.


"Oh, dia...dia seorang dokter yang sangat tampan dan berwibawa." ucap Dilla sembari mengulas senyumnya.


"Wah, seorang dokter? hebat tuh, bagaimana kamu bisa kenalan dengan dia?" tanya Anita yang penasaran.


"Dia dokter muda pindahan dari desa, dan dialah yang mengajukan saya sebagai cleaning servis di rumah sakit umum itu." jawab Dilla sembari mengulas senyumnya.


"Wah, selain tampan baik hati pula. Calon suami idaman itu! he...he...!" seru Anita yang terus menggoda Dilla.

__ADS_1


"Doakan saja ya Nit, aku bisa berjodoh dengan dokter itu." ucap Dilla yang sangat berharap sekali.


"Iya, aamiin ya Robbal alaamiin." ucap Anita yang mengulas senyumnya.


"Oiya, jika benar Haikal sudah putus sama Yuni, bisa tuh buat kamu Nit! dia kan lumayang juga, selain jago basket, sayang adik dan ketampanannya juga tak kalah sama dokter yang aku taksir! he...he...he...!" ucap Dilla seraya tertawa kecil.


"Hush! aku nggak mau makan punya teman! he...he...he...!" seru Anita.


"Eh, dia kan sudah putus Nit!" seru Dilla yang meyakinkan.


"Iya, tapi masih ada rasa cinta diantara mereka. Mereka putus karena kesalah pahaman!" balas Anita sembari mengulas senyumnya.


"Oh, begitu ya!" ucap Dilla yang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah, jangan pikirkan pasangan! aku sedang nggak mood buat pacaran." ucap Anita yang kemudian mengalihkan pandangannya.


"Eh, apa kamu ada masalah sebelumnya Nit?" tanya Dilla yang tiba-tiba merasa tak enak hati.


Anita hanya diam saja dan pandangannya lurus ke arah luar jendela mobil.


"Apa kamu juga pernah diputuskan cowok kamu Nit? apa cowok kamu selingkuh? atau tak dapat restu orang tua?" pertanyaan beruntun Dilla lontarkan pada Anita.


Namun Anita tetap diam, pandangannya terus keluar jendela dan tiba-tiba air matanya jatuh bercucuran.


Dilla yang tak enak hati itu mengambil tisu dan memberikan tisu itu pada Anita, gadis itu menerima dengan senang hati dan dia mulai menyeka air matanya dan berusaha menstabilkan pernapasannya.


"Rupanya Haikal sudah ada didepan kita ya!" seru Dilla yang mengalihkan pembicaraannya, tiba-tiba melihat ke depan dan melihat keberadaan Haikal yang naik sepeda motor, sudah berada di depan mereka.


Anita sempat melihat hal itu, tapi kembali air matanya jatuh bercucuran. Gadis itu teringat akan dokter Dimas yang saat masih menjadi kekasihnya. Dimana Anita selalu diboncengkan oleh dokter Damar dengan sepeda motor kesayangan setiap berangkat maupun pulang dari bekerja.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2