
Sementara itu Anita dan dokter Damar, keduanya sudah merasa tak sabar ingin cepat sampai ke kampung halaman mereka. Sampai-sampai Anita mengganti-ganti lagu di radio mobil yang mereka tumpangi.
"Tenang dik Anita, lebih baik kamu tidur biar hatimu tenang." ucap dokter Damar yang mengulas senyum melihat tingkah Anita.
"Iya, mas! Tapi dari tadi Anita merasa aneh!" tanya Anita yang menatap dokter Damar.
"Tentang apa?" tanya dokter Damar yang penasaran.
"Ini, saya barusan dapat chat dari Lisa. Tumben saja si Lisa chat Anita!" jawab Anita yang membuka ponselnya dan membaca chat dari Lisa.
"Iya trus kenapa?" tanya dokter Damar yang penasaran.
"Katanya besok dia juga akan menikah!" jawab Anita seraya menatap Dokter Damar.
"Oya? sama siapa?" tanya dokter Damar yang mengernyitkan alisnya dengan sesekali melihat ke arah Anita.
"Katanya sih sama Haikal!" jawab Anita yang membaca kembali chat dari Lisa.
"A...pa! Haikal?" seru dokter Damar yang kemudian menepikan laju mobilnya dan berhenti ditepi jalan.
"Iya, Haikal!" jawab Anita yang menatap dokter Damar.
"Kok bisa?" tanya dokter Damar yang penasaran.
"Ini karena katanya anak buah Haikal salah tangkap." jawab Anita.
"Apa mas Damar ingat saat ulang tahun Amanda kemarin?" lanjut tanya Anita.
"Iya, apa gara-gara gaun hijau toska itu?" jawab dan tanya dokter Damar yang penasaran.
"Bisa jadi mas! kata mang Ujang kan yang menyuruh orang yang pakai baju hitam-hitam itu kan Haikal? dan pastinya menyangka Lisa itu adalah aku. Benar tidak mas?" tanya Anita yang menatap Haikal.
"Menurut aku sih, sepertinya begitu!" ucap dokter Damar yang menganggukkan kepalanya.
"Sudahlah mas! yuk jalan lagi, ketinggalan jauh lho sama papa dan mama!" seru Anita yang mengingatkan dokter Damar.
"Oiya! kamu sebaiknya tidur saja, masih jauh lho tujuan kita!" seru dokter Damar seraya menyalakan kembali mesin mobilnya dan kemudian kembali melaju menyusuri jalan raya menuju ke kampung halaman mereka.
Beberapa jam kemudian mereka telah sampai di kampung halaman dan sudah masuk ke halaman rumah ibu Sunarti.
__ADS_1
Ibu Sunarti dan Sunaryo menyambut mereka dengan ramah.
"Ibu...!" panggil Anita yang berlari dan memeluk ibunya dengan erat, dan ibu Sunarti membalas dengan kecupan di kening putrinya.
"Kamu sehat nak?" tanya ibu Sunarti yang menanyakan keadaan putrinya.
"Alhamdulillah sehat Bu!" jawab Anita seraya mengulas senyum saat melepas pelukannya.
"Ibu." panggil dokter Damar seraya mencium punggung tangan calon mertuanya.
"Wuah...! calon mantuku!" seru ibu Sunarti seraya mengulas senyumnya.
"Bu...!" panggil tuan Suroso yang ada disamping dokter Damar.
"Pak, apa kabar?" tanya ibu Sunarti seraya mencium punggung tangan kanan suaminya. Kemudian mereka saling berpelukan untuk melepas rindu mereka. Tak berapa lama mereka melepas pelukan dan saling mengulas senyum.
"Mbak Narti!" panggil nyonya Cintya yang menatap ibu Sunarti dan kemudian mencium punggung tangan ibu Sunarti.
"Ci...ntya!" panggil Ibu Sunarti yang merasakan seperti pada saat pertama kalinya mereka saling berkenalan.
Ibu Sunarti langsung memeluk nyonya Cintya dan nyonya Cintya sangat terkejut, dia membalas pelukan ibu Sunarti.
Ada tangis haru diantara mereka dan yang melihat kejadian itu.
"Iya mbak! aku juga minta ma'af jika selama ini Cintya membuat mbak marah dan mbak tak bisa bertemu dengan suami kita. Ma'afkan aku ya mbak!" ucap nyonya Cintya denga suara serak dan ibu Sunarti menganggukkan kepalanya.
"Oiya mbak! ini putra saya sama suami kita." ucap nyonya Cintya yang memperkenalkan putranya pada ibu Sunarti.
"Tampan sekali? siapa namanya?" tanya Ibu Sunarti pada saat Raindra mencium punggung tangan ibu Sunarti.
"Raindra Bu." jawab Raindra dengan ramah dan kemudian memeluk ibu Sunarti. Dan Ibu Sunarti terkejut akan perilaku anak tirinya itu.
"Ternyata hangat ya pelukannya ibunya kak Anita dan kak Anette!" gumam Raindra seraya mengula senyumnya dan membuat semuanya tertawa.
"Ayo, kita masuk dan makan bersama!" ajak paman Sunaryo yang sedari tadi berbincang-bincang dengan pak Suroso.
"Iya ayo kita masuk! ibu sudah masak banyak, kalian harus habiskan ya!" seru ibu Sunarti seraya tertawa kecil.
Dan semuanya satu persatu masuk dan ada yang membersihkan diri masing-masing dan ada yang sedang sholat. Namun setelah itu mereka semuanya kumpul jadi satu diruang makan dan makan ala kadarnya masakan desa.
__ADS_1
"Anita, apa mbak Anette memberi kabar kapan pulangnya?" tanya ibu Sunarti yang terasa masih ada yang kurang saat keluarganya berkumpul saat ini.
"Ma'af Bu, kata mas Danar mereka tak bisa pulang. Karena saat ini Anette sedang hamil muda, jadi terpaksa tidak bisa hadir." jawab dokter Damar.
"Hamil? kita akan punya cucu mbak, pa!" seru nyonya Cintya yang mengulas senyum bahagia.
"iya benar! rasanya tak sabar juga lihat Anita hamil juga! ha...ha ..!" seru tuan Suroso yang menggoda putrinya. Dan Anita tersipu malu karenanya.
"Papa...! nikah aja belum?" gumam Anita yang kedua pipinya memerah seperti udang rebus.
"Alhamdulillah Anette hamil, kita doakan semoga mereka sehat semuanya dan lancar saat lahiran kelak!" ucap ibu Sunarti.
"Aamiin ya Robbal alaamiin...!" jawab semuanya seraya mengusap wajah masing-masing.
...****...
Hari berganti hari, tibalah hari yang dinantikan setelah segala sesuatunya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Dimana Anita dan dokter Damar akan bersanding sebagai Ratu dan Raja sehari.
Tamu undangan satu persatu berdatangan dan demikian pula para tetangga yang dengan riangnya membantu memeriahkan dan melancarkan hajatan di rumah ibu Sunarti.
Demikian pula dengan Anita yang beberapa hari yang lalu, Anita sudah dipingit. Gadis itu tak boleh keluar rumah walaupun hanya menjemur pakaian atau sekedar menyapu halaman rumah.
Karena itu dia di dalam kamar untuk melakukan perawatan sebelum pernikahan. Selain berpuasa, Anita menjalani rangkaian macam-macam lulur dan juga meminum ramuan herbal untuk kesegaran tubuh dan aura kecantikannya sebagai ratu sehari semalam.
"Ya Allah berikanlah kelancaran dalam pernikahanku kali ini. Semoga tak ada lagi yang mengganggu pernikahan aku dengan mas Damar. Aamiin ya Robbal alaamiin." doa dalam hati Anita.
Setelah kedua pengantin dirias, Anita yang memakai baju kebaya berwarna putih, dan dokter Damar memakai stelan jas warna hitam dengan peci juga hitam. Keduanya melangkahkan kaki ke kursi dan meja yang sudah disediakan, tinggal menunggu kedatangan penghulu yang baru saja datang.
"Nanti yang memandu saya. Yang menikahkan beliau Bapak Suroso karena wali nikah. Beliau menghendaki menikahkan sendiri," kata penghulu itu seraya menatap satu persatu orang yang ada dihadapannya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...
... ...