
"Iya, kamu memang pelakor!" seru Rini dan Lala yang berkacak pinggang dan secara bersamaan.
"Gila kalian! otak disekolahin, mulut juga tuh disekolahin!" seru Anita yang membalas dengan mendorong Lala, Rini, Lisa dan Yuni secara bergantian.
"Kau, berani ya sama kami!" seru Lisa dengan geram yang sudah memposisikan kembali dirinya untuk berdiri dan kali ini semakin tersirat kemarahan di wajahnya.
"Apa kekalahan di lapangan basket kemarin masih kurang ya?" seru Anita yang tak memperlihatkan raut ketakutannya sama sekali.
"Kau...!" seru Yuni dan yang lainnya yang terkejut.
"Minggir! jangan buat selera makanku hilang! aku mau makan!" seru Anita dengan menyibak tubuh Lala dan Rini yang menghalanginya untuk lewat.
Anita pun melangkahkan kakinya melewati Lala dan juga Rini.
"Kamu tak boleh makan sebelum kamu jelaskan kenapa kamu bisa bersama Haikal tadi;
'Oya, apa sekalian kita lomba makan? apa benar!" seru Anita yang melirik ke arah Anita.
"Apa!" seru Lala dan Rini yang bersamaan.
"Baiklah kali ini kami mengalah kalau lomba makan, karena kami sedang diet. Lisa and the geng selalu mengutamakan penampilan." ucap Lisa yang akhirnya mengalah.
"Ya sudah, kenapa masih saja ada disini?" tanya Anita seraya menatap Lisa dan yang lainnya dengan tajam.
Kemudian Anita melangkahkan kaki dengan menyibak Lala dan Rini yang berdiri menghalanginya.
Para anggota Lisa and the geng hanya bisa saling pandang saja melihat Anita yang begitu saja melewati mereka dan mereka tak bisa menghalanginya.
"Kurang ajar dia! dia tahu kelemahan kita!" seru Yuni yang sangat kecewa.
"Sudahlah, lain kali kita balas dia!" seru Lisa yang menepuk bahu Yuni dan melangkahkan kaki meninggalkan kelas dan diikuti yang lainnya.
Beberapa menit kemudian, setelah makan di kantin kampus Anita melangkahkan kaki melewati lapangan basket.
Nampak Haikal dan teman-temannya sedang bermain basket, banyak pasang mata yang menyaksikan permainan basket Haikal dan juga teman-temannya.
Tiba-tiba ada rasa kagum dari dalam diri Anita, ada bayang-bayang Dimas pada saat melihat Haikal.
__ADS_1
"Aduh, kenapa bayangan mas Dimas selalu ada di pelupuk mataku?’' gumam dalam hati Anita yang kemudian menghela napasnya.
"Mas Dimas, kamu sudah bahagia bersama Anette! kenapa juga masih membayangiku?" gerutu dalam hati Anette, yang kemudian melangkahkan kaki meninggalkan lapangan Basket.
Tanpa Anita sadari, Haikal sempat melihat ke arah gadis itu.
"Anita, ada apa dengan gadis itu?" gumam dalam hati Haikal yang kemudian kembali bermain basket dengan teman-temannya.
Sedangkan di posisi yang lain, Lisa and the geng melihat kejadian itu.
"Yuni, sekarang waktunya kamu memberi perhatian pada Haikal. Kamu tak mau kan kehilangan Haikal!" saran Lisa pada Yuni yang ada disampingnya.
"Tapi dia sudah memutuskan aku bos!" seru Yuni yang sedikit ragu-ragu.
"Kamu ingin Haikal tetap jadi milik kamu atau tidak!" seru Lisa yang menatap Yuni dengan tajam dan hal itu membuat Yuni sedikit gemetar jika melihat Lisa sudah dalam keadaan serius seperti itu.
Jadi mau tak mau Yuni akan mengikuti saran Lisa, gadis itu pun menghela napasnya panjang dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.
Setelah mengumpulkan keberaniannya, Yuni melangkahkan kaki menuju ke tempat dimana tas Haikal berada. Dan dia masih ingat bentuk tas Haikal dan dimana Haikal biasa meletakkan tasnya.
"Oh, itu dia tasnya!" seru dalam hati Yuni yang melangkahkan kaki mendekati tas mantan kekasihnya itu.
"Haikal!" panggil Yuni seraya menyerahkan handuk dan air mineral tersebut.
"Ngapain kamu disini!" seru Haikal yang sangat terkejut dengan keberadaan Yuni. Walaupun masih ada rasa sayang, tapi jika Haikal teringat akan adiknya, maka amarahlah yang ada di dalam dadanya saat ini.
"Haikal! Kenapa kamu marah padaku? apa alasannya kamu memutuskan aku? tak ingatkah berapa lama kita berpacaran?". pertanyaan demi pertanyaan yang Yuni lontarkan, dengan kedua mata berkaca-kaca.
Namun Haikal tetap acuh, dia mengambil handuk dan air mineralnya yang ada di tangan Yuni tanpa sepatah kata pun dia keluarkan.
Setelah minum dan mengelap keringatnya, Haikal melangkahkan kakinya menuju ke tasnya dan selanjutnya melangkahkan kaki menuju ke ruang ganti.
"Haikal.....Haikal jawab Haikal!" seru Yuni yang didiamkan begitu saja oleh Haikal. Laki-laki itu terus melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi laki-laki.
Yuni mengejar Haikal sampai ke depan pintu kamar mandi.
"Hei cewek! pergi sana, apa kamu mau jadi santapan kami!" seru salah satu teman Haikal yang hendak berganti pakaian seperti halnya Haikal yang telah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Oh, enak saja!" seru Yuni yang kemudian melangkahkan kaki meninggalkan kamar mandi dan dia menghampiri Lisa and the geng.
"Bagaimana?" tanya Lisa yang mewakili Lala dan Rini yang penasaran.
"Masih saja acuh!" jawab Yuni dengan perasaan kecewa.
"Nampaknya bukan gadis pembangkang itu yang menjadi persoalan Haikal memutuskan hubungan dengan kamu Yuni." ucap Rini yang mencoba berpendapat.
"Maksud kamu apa?" tanya Yuni yang penasaran.
"Kalau memang si pembangkan itu yang jadi kekasihnya Haikal saat ini, tentunya dia selalu ada disamping Haikal seperti apa yang kamu lakukan. Tapi kenyataannya dia hanya lewat saja, itu berarti mereka belum jadian." ucap Rini yang memberi kesimpulan.
"Betul juga apa yang dikatakan Rini, tapi masalah apa ya sehingga terlihat sekali kalau Haikal itu sedang sangat marah pada kita terutama sama Yuni." ucap Lisa yang kedua alisnya berkernyit dan saat ini mereka terus menduga-duga permasalahan Haikal yang menjauhi mereka.
Tanpa sadar waktu telah berlalu, dan jam istirahat telah habis. Semua mahasiswa dan mahasiswi kembali ke ruangan masing-masing, termasuk Lisa and the geng yang melangkahkan kaki dengan gontai menuju ke ruangan kelas mereka masing-masing.
Beberapa jam kemudian, sudah waktunya pulang sekolah. Ada pesan masuk di ponsel Anita, dan pesan itu dari Haikal yang memintanya bertemu di tempat parkir.
Setelah membaca chat dari Haikal, Anita bergegas melangkahkan kaki keluar dari ruangan jelasnya. Dan tanpa dia sadari Lisa dan the geng mengikuti Anita dengan mengendap-endap.
Sementara itu Anita yang melangkahkan kaki menuju ke tempat parkir, tanpa sengaja berpapasan dengan Dilla.
"Anita!" panggil Dilla seraya melambaikan tangannya.
"Hei Dilla! wah seharian tadi kita tak bertemu, apa kabar kamu sekarang ini?" tanya Anita yang mengulas senyum melihat Dilla yang melangkahkan kaki dengan setengah berlari menuju ke arah Anira yang menunggu kedatangannya.
"Alhamdulillah kabar aku baik-baik saja." balas Dilla dengan mengulas senyumnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...