
Gadis itu menerimanya dengan menatap kedua mata Damar yang. begitu lembut, membuat jantungnya berdetak dengan hebatnya.
Semua mata memandang momen itu tanpa berkedip, karena tak mau melewatkan momen langka itu.
Jantung Anita semakin tak menentu, demikian pula dengan Damar. Terus memandang bola mata Anita dan Anita seolah tak bisa lepas dari tatapan pemuda dihadapannya itu.
Flash back off ;
"Allahu Akbar... Allahu Akbar...!"
Tiba-tiba terdengar kumandang adzan di toa masjid yang membangunkan Anita dari lamunannya.
"Astaghfirullah....!"
"Kenapa aku selalu mengingatmu mas Damar, aku rindu sekali pada kamu!" racau Anita seraya menyeka air mata yang jatuh dipipinya.
Beberapa detik kemudian Anita bangkit dari duduknya dan dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk berwudlu.
Selesai berwudlu, Anita melangkahkan kaki mengambil mukena dan kemudian menunaikan ibadah sholat Maghrib di kamarnya.
Beberapa menit kemudian dia telas selesai sholat Maghrib, dan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Tokk....tokk....tokk....!"
"Assalamu'alaikum nona!" ucap salam dari luar pintu kamar Anette yang kini menjadi kamar Anita.
"Wa'alaikumsalam....!" balas Anita yang kemudian membuka pintu kamarnya.
"Klek...klek....ceklek...!"
Setelah pintu terbuka, nampaklah seorang pembantu di rumah besar dan mewah itu seraya menundukkan kepalanya.
"Ada apa bibi Ti?" tanya Anita dengan ramah.
"Nona ditunggu oleh tuan dan nyonya di ruang makan, sekarang juga." jawab Pembantu yang dengan panggilan bibi Ti itu dengan sopan.
"Oh, baiklah. Saya akan segera ke sana. Terima kasih informasinya, bi." ucap Anita sembari mengulas senyumnya.
Pembantu itu melangkahkan kakinya meninggalkan Anita, sementara Anita menutup pintunya kemudian menghampiri meja rias dan dia menyisir rambutnya yang berantakan.
Setelah selesai Anita melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dan melangkahkan kaki perlahan-lahan menuju ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan itu, ternyata papa dan mama tirinya sudah berada di ruang makan dan sedang menanti kedatangan Anita.
__ADS_1
"Ma'af jika saya membuat papa dan mama menunggu." ucap Anita dengan sopan.
"Tidak apa-apa kok Anita, kita juga sedang berbincang-bincang. Ayo lekas duduk dan ambil makanan sesuai selera kamu. Jangan sungkan-sungkan!" seru Cintya sembari mengulas senyumnya.
"Iya ma, papa dan mama lebih dulu yang ambil. Saya nanti saja setelah papa dan mama mengambil makanan." balas Anita dengan sopan.
Cintya kemudian mengambilkan nasi berserta sayur dan lauk-pauk untuk suaminya, papa Anita. Setelah selesai, dia mengambil nasi berserta sayur dan lauk-pauk untuk dirinya sendiri.
Melihat kedua orang tuanya yang telah mengambil nasi dan lauk-pauknya, kemudian Anita mengambil nasi, lauk-pauk dan juga sayur untuk dirinya.
Mereka pun makan bersama-sama diselingi pembicaraan-pembicaraan yang ringan-ringan, setelah selesai makan pembicaraan mereka dilanjutkan ke ruang keluarga seraya melihat televisi dan memakan buah maupun camilan.
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, Anita minta ijin undur diri. Karena dia sudah mengantuk dan juga belum mengerjakan sholat Isya'.
"Mama dan papa, Anita ke kamar ya, Anita sudah mengantuk dan sebelumnya mau sholat Isya' lebih dulu." ucap Anita seraya bangkit dari duduknya.
"Anita putri papa, besok kita sama-sama berangkatnya diantar sama mang Ujang. Setelah mengantarkan kamu ke kampus, nanti mang Ujang lanjut mengantarkan kami ke bandara. Setelah itu mang Ujang balik lagi untuk menjemput kamu di kampus." saran papanya Anita.
"Iya pa, Anita mengerti. Selamat malam." ucap Anita seraya menganggukkan kepalanya dan dia melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Malam semakin larut dan mereka beranjak ke peraduan dan masuk ke mimpi masing-masing.
****
Setelah bangun tidur dan menunaikan sholat Subuh, Anita segera mandi dan mengganti pakaiannya serta merias secara tipis wajahnya yang cantik dan sedikit manis itu.
Anita mengambil tas dan juga beberapa buku untuk mata kuliah nanti.
Setelah selesai, Anita bergegas keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya ke ruang makan. Sebelum sampai ke ruang makan, terlihat papanya sedang bersendau-gurau dengan mama tirinya.
Anita pun menghela napasnya untuk sedikit mengurangi bebannya, dan dia melangkahkan kakinya kembali ke ruang makan dimana bibi Ti pembantu di keluarga itu sudah menyiapkan menu sarapan untuk semua penghuni rumah mewah itu.
"Selamat pagi bibi Ti !" sapa Anita yang menghampiri kursi di samping bibi pembantu yang sedang menuangkan susu di setiap gelas yang berada di meja makan itu.
"Eh, neng Anita. Selamat pagi juga!" balas bibi pembantu itu yang sedikit kaget.
Setelah mengambil kursi dan duduk diatasnya, Anita mengambil gelas yang berisi susu putih dan meminumnya.
"Bi saya boleh tanya?" tanya Anita secara bisik-bisik.
"Mau tanya apa neng? kalau bibi bisa jawab, ya bibi akan menjawabnya." jawab bibi pembantu itu sembari mengulas senyumnya.
"He..he...! kalau Anita boleh tahu, apakah mama begitu baik sama kak Anette?" tanya Anita yang membalas dengan mengulas senyumnya juga.
__ADS_1
"Iya, tapi terkadang keras juga. Karena neng Anita ini beda dengan neng Anette. Neng Anette selalu ingin menang sendiri, sedangkan neng Anita selalu mengalah. Dan neng Anette kerjaannya selalu membentak bibi, ya katanya kurang inilah, itulah, ke asinanlah dan lain-lain." jawab bibi Ti sembari tetap bekerja.
"Jadi beda kalau sama Anita ya bi?" tanya Anita yang memastikan.
"Ya jelas beda neng!" jawab Bibi Ti sembari mengulas senyumnya.
"Bibi Ti, apakah benar begitu bi?" tanya Anita yang mencoba menebak karena penasaran.
"Iya memang begitu neng Anita. Neng Anita kalem dan neng Anette yang suka emosional karena mau menang sendiri." jawab bibi Ti yang meletakkan piring satu persatu ke meja yang biasa ditempati kedua majikannya.
Tak berapa lama Pak Suroso dan Cintya datang menghampiri Anita di ruang makan.
"Lama ya nunggu kami?" tanya Pak Suroso pada Anita.
"Lumayanlah pa!" jawab Anita sembari mengulas senyumnya.
"Ayo lekas ambil makanannya Anita!" seru Cintya sembari duduk, demikian pula dengan pak Suroso.
"Biar mama lebih duluan, Anita belakangan ma.'' sahut Anita dan hal itu membuat Cintya mengulas senyumnya.
Cintya kemudian mengambilkan nasi berserta sayur dan lauk-pauk untuk suaminya, papa Anita. Setelah selesai, dia mengambil nasi berserta sayur dan lauk-pauk untuk dirinya sendiri.
Melihat kedua orang tuanya yang telah mengambil nasi dan lauk-pauknya, kemudian Anita mengambil nasi, lauk-pauk dan juga sayur untuk dirinya.
Mereka pun sarapan bersama-sama, diselingi pembicaraan-pembicaraan yang ringan-ringan dan akhir ya mereka menyelesaikan sarapan pagi ini.
Setelah selesai sarapan, mereka melangkahkan kaki menuju keluar rumah, dimana mang Ujang telah meletakkan koper yang akan dibawa oleh kedua majikannya ke dalam mobil.
Bibi Ti dan para pembantu yang lainnya juga ikut mengantarkan majikan mereka keluar rumah.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
.
__ADS_1