Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 64


__ADS_3

"Wah enak ya, bisa pulang kampung. Aku mau pulang kampung , tapi dimana? ha...ha...ha..!" celoteh Dilla sambil tertawa.


"Mungkin kalau kamu sudah bersuami, kamu bisa pulang kampungnya suami! he..he...he...!" ucap Anita sambil terkekeh.


Keduanya pun melangkahkan kaki menyusuri lorong yang menuju ke setiap gedung dimana adanya proses belajar dan mengajar.


"Anita!"


Tiba-tiba ada sosok laki-laki yang memanggil Anita dari belakang. Gadis itu menoleh, dan alangkah terkejutnya dia.


Anita berusaha lari dengan mengajak Dilla, dan Dilla sangat terkejut dengan apa yang Anita lakukan. Namun Dilla tetap mengikuti apa yang Anita lakukan.


Mereka terus berlari dan laki-laki itu yang tak lain adalah Haikal, terus mengejar mereka.


"Hah, Dilla lari...!" seru Anita yang menarik tangan Dilla.


"Anita....tunggu...!" seru Haikal dengan tangan kanannya yang berusaha meraih lengan Anita, namun Anita terlanjur menjauh.


Haikal terus mengejar dan berusaha untuk mendahului Anita dan Dilla.


"Anita....Anita....! Tunggu Anita...!" seru Haikal yang sudah berada dihadapan Anita.


"Mau apa lagi kau! pergi...!" bentak Anita yang membuat sebagian mahasiswa dan mahasiswi yang berada disekitar mereka, menoleh dan menyaksikan apa yang telah terjadi.


"Baik, aku pergi! Tapi kamu mau kan ma'afin aku?" tanya Haikal yang memohon.


"Nggak! aku nggak akan mema'afkan kamu!" seru Anita ketus.


"Anita, aku mohon Anita!" seru Haikal yang kemudian duduk berlutut dengan menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Anita, kenapa ini? apa yang telah terjadi?" tanya Dilla yang penasaran.


"Ceritanya panjang Dil, sebaiknya jangan hiraukan dia!" seru Anita yang mengajak Dilla mencari jalan lain.


"Anita, kita pisah sampai disini. Tapi kamu hutang cerita sama aku ya!" seru Dilla yang kemudian melambaikan tangannya.


"Iya, daaa Dilla!" balas Anita yang juga melambaikan tangannya.


Setelah Dilla pergi, Anita mempercepat langkahnya sampai ke depan gedung fakultas kedokteran. Anita masuk dan di dalam sudah ada Lisa And the geng yang sedang duduk dan seperti memegang lembaran undangan.


Anita melangkahkan kaki dan berusaha untuk tak melihat ke arah mereka, dan terus melangkah menuju ke tempat duduknya.


"Ada undangan buat kamu!" seru Lala yang memberikan secarik kertas undangan berwarna pink pada Anita.


"Undangan apa?" tanya Anita yang penasaran.


"Baca saja sendiri!" seru Rini dengan ketusnya.


"Ulang tahun siapa? Amanda?" tanya Anita pada saat membaca surat undangan itu.

__ADS_1


"Iya ini ulang tahun Amanda! kasihan pas ulang tahun nggak ada orang tua, nggak ada Yuni yang biasa membuat surprice untuknya...!" ucap Lisa dengan wajah sedihnya.


"Eh, tumben Lisa bersikap sedih seperti itu?" tanya dalam hati Anita yang penasaran.


"Oh, apa mas Damar juga dapat undangannya?" tanya Anita yang penasaran.


"Mas Damar?" tanya Lisa yang menatap Anita dengan penasaran.


"Dokter Damar maksud aku, bukan kah beliau yang merawat Amanda selama ini?" tanya Anita yang menatap lisa dan yang lainnya satu persatu.


"Saya tidak tahu, tapi sepertinya tidak ada undangan untuk dokter Damar!" jawab Rini yang menduga-duga.


"Oh, jadi begitu ya?' ' ucap Anita yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke tempat duduk ya dan dia mengambil ponselnya dan mulai menelepon dokter Damar.


Lisa and the geng memperhatikan Anita yang sedang menelepon itu dengan seksama.


"Eh, lihat apa yang ada di jari gadis pembangkang itu! seperti cincin tunangan ya?" bisik Lala pada kedua sahabatnya dengan curiga.


"Mana?" tanya Rini yang ikut memperhatikan apa yang Lala ucapkan.


"Itu!" bisik Lala, Lisa dan Rini pun memperhatikannya Mereka pun sangat terkejut.


"Aku akan hampiri dia!" seru Lisa yang penasaran dan dia melangkahkan kakinya menghampiri Anita yang baru saja selesai menelepon.


"Hai, sejak kapan kamu pakai cincin begituan?" tanya Lisa yang meraih jemari Anita yang sebelah kiri.


"Kamu tunangan?" tanya Lisa yang semakin penasaran.


"Iya, aku sudah tunangan kemarin!" jawab Anita dengan tegas.


"Sama siapa?" tanya Lisa yang semakin penasaran.


"Dih, ngapain aku kasih tahu kamu dan kalian? nggak ada untungnya juga!" seru Anita dengan cuek dan tak menggubris Lisa lagi.


"Dasar gadis pembangkang!" seru Lisa.


"Brakk...!"


Dengan kesal ya Lisa menggebrak meja yang ada di depan Anita.


"Eh, marah-marah saja! tapi jangan main gebrak-gebrak meja depan orang! kau kira kupingku tuli!" seru Anita dengan mengulas senyum yang membuat Lisa semakin kesal.


"Bodoh amat!" seru Lisa yang meninggalkan Anita dan melangkahkan kakinya menuju ke tempat duduknya, karena dosen yang mengajar mereka telah datang.


Proses belajar mengajar itu berlangsung dengan lancar dan cepat.


Waktu istirahat telah tiba, Anita bergegas melangkahkan kaki keluar gedung dan menuju ke kantin kampus, dimana mama tirinya sedang menunggunya di salah satu bangku yang ada di sudut.


"Mama....!" panggil Anita seraya melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Anita...!" balas wanita setengah baya yang masih terlihat muda itu yang juga melambaikan tangannya.


Anita bergegas menghampiri ibu tirinya, dan duduk didepannya.


"Mama sudah pesan makanan?" tanya Anita yang hanya melihat satu gelas yang sudah kosong.


"Hanya orange juss saja. Pesan saja sana, ibu pesankan soto saja. Kayaknya segar makan soto siang hari ini!" pinta nyonya Cintya sembari mengulas senyumnya.


"Ok, sama minumnya ya ma?" tanya Anita yang melihat gelas di depan mamanya itu yang sudah kosong.


"Iya, pesankan sama dengan ini ya!" seru nyonya Cintya yang menunjuk ke arah gelas kosong dihadapannya.


"Baik ma!" jawab Anita yang kemudian bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju ke gerobak soto yang berjajar dengan gerobak lainnya.


Setelah memesan dia mangkok soto dan dua gelas orange jus, Anita melangkahkan kaki kembali menghampiri mama tirinya.


Anita sempat melihat Haikal bersama mahasiswa-mahasiswa yang selama ini menjadi teman akrabnya, disisi lain Anita juga melihat Lisa And the geng yang memperhatikan setiap langkahnya.


"Cuek aja! jangan pedulikan mereka Anita!" seru dalam hati Anita yang terus melangkahkan kaki dan akhirnya sampai dihadapan mama tirinya.


Gadis itu kemudian duduk di posisinya semula, dan mereka saling berbincang-bincang.


"Ma, tadi Haikal menghadangku dan dia sampai mohon-mohon minta aku mema'afkannya." ucap Anita yang menatap mama tirinya.


"Oya? trus apa yang kamu lakukan?" tanya nyonya Cintya yang penasaran.


"Ya enggaklah ma! Anita takut kalau itu hanya sandiwara, Anita takut kejahatan kemarin terulang disaat Anita tanpa pengawasan mama, mang Ujang, papa dan mas Damar!" seru Anita yang menjelaskan.


"Bagus, trus apa reaksinya?" tanya mama Cintya yang mengernyitkan kedua alisnya.


"Aku lari ma! he...he...!" jawab Anita seraya mengulas senyumnya.


"Kau ini ya! situasi tegang begini, masih bisa tertawa!" seru mama Cintya yang gemas pada sikap Anita.


"He..he...he..! habisnya Anita sebetulnya juga ketakutan ma!" seru Anita yang mengulas senyumnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


...      ...

__ADS_1


__ADS_2