
"Aneh, tadi galak. Sekarang kayak merasa bersalah begitu?" gumam dalam hati Anita yang penuh selidik dengan perubahan sikap Haikal.
"Kamu itu kenapa Kal?" tanya Anita yang penasaran.
"Ada yang ingin aku katakan dan tanyakan pada kamu Anita, apakah ada waktu sebentar?" jawab sekaligus tanya Haikal dengan ramah.
Anita mengernyitkan kedua alisnya, dan dia semakin penasaran dengan apa yang diinginkan oleh laki-laki yang ada dihadapannya itu.
"Apakah ada hal penting?" tanya Anita sedikit ragu dan berusaha meyakinkan dirinya kalau akan baik-baik saja.
"Iya, aku mau minta waktu kamu untuk menggantikan adikku tampil dipertandingan basket yang tinggal final di tingkat kecamatan besok?" tanya Haikal yang penuh harap.
"Menggantikan adik kamu?" tanya Anita yang penasaran.
"Iya, padahal pertandingan final besok adalah impian terbesar adikku, tapi dua hari yang lalu dia mengalami kecelakaan. Dan semalam aku melihat bukti cctv dari kepolisian, aku sangat terkejut akan hal itu. Adikku ditabrak dari belakang dengan sengaja, oleh para gadis yang salah satunya gadis yang hendak aku jadikan istri nanti." jelas Haikal lirih, namun membuat Anita sedikit terkejut.
"Hah, maksud kamu adik kamu ditabrak Lisa dan the geng begitu?" tanya Anita yang mencoba menebak.
"Iya benar, kamu bersedia kan bantu aku, demi adikku yang saat ini masih koma di rumah sakit umum." jelas Haikal yang dengan raut wajah memelas.
"Tapi sebelumnya bolehkah aku bertemu dengan adik kamu?" tanya Anita yang hatinya mulai tergerak, karena melihat kejujuran di bola mata Haikal.
"Tentu...tentu saja, kita akan bertemu dengan adikku nanti sepulang kuliah. Kita ke rumah sakit." jawab Haikal dengan bersungguh-sungguh.
"Sebelum aku bertemu dengan adik kamu, aku belum bisa memutuskannya." ucap Anita yang menatap Haikal dan kedua mata saling bertatapan.
Ada perasaan berbeda dari hati Haikal saat menatap Anita, perasaan yang berbeda jika bersama Yuni,
"Apa ini, apakah secepat itu aku mendapatkan pengganti Yuni?" gumam dalam hati Haikal yang jantungnya berdebar-debar semakin kencang.
Sementara itu Anita juga merasakan getaran yang hampir sama jika dia bersama dokter Dimas.
"Apakah pemuda ini yang akan menjadi pengganti mas Dimas dihatiku? oh tidak, diakan kekasih Yuni? aku bukan wanita perampas cinta, aku tak mau jadi duri diantara mereka!" gumam dalam hati Anita yang kemudian mengalihkan pandangannya.
Namun baru saja dia mengalihkan pandangannya, tiba-tiba Yuni dan Lisa and the geng sudah berdiri disampingnya dengan raut wajah memerah. Terlihat jelas kalau ada kemarahan tersirat diwajah Yuni dan kawan-kawannya.
__ADS_1
"Yu...Yuni!" panggil Anita yang terdengar jelas oleh Haikal dan dia sedikit terkejut karenanya. Laki-laki itu mengarahkan pandangannya pada sesosok gadis yang namanya disebutkan oleh Anita.
"Kau! mau apa kemari!" seru Haikal dengan geram.
"Oh, rupanya ada dia yang menjadi duri diantara kita!" seru Yuni yang mendorong Anita dengan geramnya.
Anita sempat terhuyun-huyun mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri, namun akhirnya dia bisa menguasai tubuhnya.
"Apa maksud kamu dia duri diantara kita!" seru Haikal yang menjadikan dirinya tameng ketika Yuni hendak kembali mendorong Anita.
"Sudah jelaskan, kita putus gara-gara dia! karena sebelum ketemu dia kemarin, hubungan kita baik-baik saja!" seru Yuni dengan nada tinggi.
"Iya memang kita kemarin baik-baik saja, tapi bukan karena dia aku memutuskan hubungan kita!" bantah Haikal yang menatap Yuni dengan tajam.
"Apa maksud kamu bukan karena gadis pembangkang ini, Haikal?" tanya Yuni yang penasaran dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki yang dia cintai itu.
"Itu karena tingkah kalian!" seru Haikal dengan geram, ingin dia berlaku lebih marah lagi pada Lisa and the geng. Apalah daya masih ada rasa cinta dihati Haikal untuk gadis yang bernama Yuni dihadapannya.
Tanpa berkata apa-apa, kembali Haikal menarik tangan Anita dan dengan tergesa-gesa Haikal mengajak Anita meninggalkan taman dimana Yuni dan teman-temannya masih terbengong karena ucapan Haikal.
Sementara itu Haikal yang melangkah menjauhi taman bersama Anita, kini sudah berada di depan fakultas kedokteran dimana Anita menimba ilmu.
"Mana ponsel kamu!" seru Haikal pada Anita, dan gadis itu sangatlah terkejut.
"Hah, buat apa?" tanya Anita yang penasaran.
"Kita kan harus saling berkomunikasi, bagaimana aku bisa menghubungi kamu kalau aku tak tahu nomor ponsel kamu!" jelas Haikal.
"Oh, ini!" ucap Anita yang sudah paham dengan maksud Haikal, dan dia pun mengambil ponselnya di dalam tasnya. Kemudian menyerahkan pada Haikal.
Laki-laki itu menerima ponsel Anita dan mulailah mengetik nomor ponselnya, kemudian dia memanggil nomor ponselnya melalui ponsel Anita. Maka tersimpan lah nomor Anita di ponsel Haikal.
"Ingat kita akan bertemu kembali setelah jam pelajaran usai." pesan Haikal.
"Iya, Insyaa Allah aku akan ingat hal itu " balas Anita yang menerima ponselnya kembali pada saat Haikal menyerahkan ponsel tersebut padanya.
__ADS_1
"Kalau begitu sampai jumpa nanti, Assalamu'alaikum!" ucap salam pamit Haikal yang mulai melangkah mundur seraya melambaikan tangannya.
"Wa'alaikumsalam!" balas Anita yang juga melambaikan tangannya, membalas lambaian tangan Haikal.
Haikal mengulas senyumnya dan kemudian membalikkan badannya dan melangkah kembali menuju ke fakultas Desain grafis dimana dia menimba ilmu.
Sedangkan Anita membalikkan badannya dan melangkahkan kaki masuk ke ruangannya, dimana jam pelajaran hendak dimulai.
Pada saat Anita sudah masuk dan duduk di tempatnya, Lisa and the geng masuk dan baru saja hendak menghampiri Anita, seorang dosen wanita yang berkacamata masuk ke kelas. Tentu saja membuat para mahasiswa dan mahasiswi yang tadinya riuh dan santai, seketika diam dan mulai serius menatap ke arah ibu dosen yang berkacamata itu.
Lisa and the geng yang semula hendak menghampiri Anita pun mengurungkan niat mereka dan mereka duduk di kursi mereka masing-masing.
Pelajaran pun berlangsung seperti biasanya, dan juga ada tanya jawab antara Bu dosen dengan para mahasiswa dan mahasiswinya.
Tak terasa waktunya istirahat tiba, Anita memasukkan laptop, buku-buku dan alat-alat tulisnya. Tiba-tiba ada yang mendatanginya, yang tak lain Lisa and the geng.
"Hei pembangkang!" seru Lisa yang mewakili para anggotanya, mendorong Anita yang semula hendak berdiri untuk melangkah keluar dari tempat duduknya, seketika duduk kembali dengan keras karena dorongan dari Lisa.
"Hei mau apa kalian!" balas seru Anita yang menatap satu persatu anggota Lisa the geng itu dengan tajam.
"Mau apa? kau yang mau apa! dasar pelakor!" seru Yuni yang menunjuk ke arah Anita.
"A...apa kau bilang! aku pelakor!" seru Anita yang tak percaya sebutan itu diberikan Lisa and the geng untuknya.
"Iya, kamu memang pelakor!" seru Rini dan Lala yang berkacak pinggang dan secara bersamaan.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...