Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 32


__ADS_3

"Assalamu'alaikum...!" ucap salam pamit Anita seraya mengusap punggung tangan Amanda yang tidak ada selang infusnya.


Kemudian Anita melangkahkan kakinya keluar dari ruang ICU itu dan dia menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan. Ada rasa mengganjal dalam dadanya, rasa haru dan iba yang menguasai hatinya.


Setelah merasa lebih nyaman, Anita melangkahkan kaki menuju ke arah Haikal yang berdiri di depan kaca jendela dengan kedua matanya yang berkaca-kaca melihat ke arah adiknya.


Rasa cinta kasih seorang kakak pada seorang adik sangatlah terpancar jelas di raut wajah Haikal.


"Haikal, bisa kita bicara sekarang?" tanya Anita yang memberanikan diri untuk menepuk dua kali secara perlahan punggung pemuda itu.


"Oh, iya.'' balas Haikal yang kemudian membalikkan tubuhnya dan keduanya melangkahkan kaki menuju ke tempat duduk yang berjajar di depan ruang ICU.


"Tadi kamu sempat bilang kalau Amanda ditabrak secara sengaja oleh Lisa And the geng, apakah kamu ada buktinya?" tanya Anita yang penasaran.


"Coba kamu lihat ini!" seru Haikal yang membuka ponselnya dan dia menunjukkan video rekaman cctv dari tempat kejadian.


Waktu itu sore hari jam lima sore, Amanda yang pulang dari latihan basketnya. Seperti biasa dia menggunakan skateboard sebagai kendaraannya kemana pun dia pergi dari rumah.


Amanda berhenti di persimpangan jalan dan dia berada di samping lampu lalu lintas. Lampu hijau telah berganti merah, dan Amanda yang kebetulan sendirian menyebrang melewati zebra cross.


Pada waktu Amanda hampir mendekati trotoar, ada sebuah mobil mewah yang ada disamping Amanda, dimana sebelumnya berhenti tiba-tiba melaju dan seketika menyeruduk Amanda dari samping dan Amanda terpelanting di trotoar dengan kepala dan kaki bersimbah darah.


Dan terlihat jelas kalau mobil itu adalah mobil kepunyaan Lisa, karena warna dan plat nomornya pun sama.


"Astaghfirullahaladziim....!"


Anita tersentak kaget pada saat melihat kejadian dimana Amanda ditabrak dan jatuh terguling-guling di trotoar.


"Ya Allah, tega sekali!" seru Anita yang kedua matanya berkaca-kaca dan suaranya pun parau setelah melihat kejadian itu.


"Kamu lihat sendiri kan? sedangkan aku melaporkan ke kepolisian tidak bisa." ucap Haikal dengan menggerutu.


"Kenapa tidak bisa? kamu kan dari keluarga kaya?" tanya Anita yang penasaran.


"Dulu ayahku pernah mengalami kebangkrutan, dan papanya Lisa lah yang membantu usaha papa, hingga papa bisa bangkit kembali. Tapi entah kenapa tiba-tiba adikku dibuat seperti ini, aku sampai berpikir kalau jangan-jangan mereka tidak ikhlas membantu kami!" ucap Haikal yang mengepalkan jari-jari tangannya.

__ADS_1


"Haikal, kamu yang sabar ya! saya akan bantu kamu dan adik kamu sebisa saya. Jadi kamu jangan terbawa emosi terlebih dahulu, nanti kita selidiki apa maksud Lisa menabrakkan mobilnya pada Manda." ucap Anita yang membuat Haikal sedikit lega.


"Kalau begitu kamu setuju menggantikan adikku dalam lomba basket besok?" tanya Haikal dengan semangat.


"Iya, saya setuju!" jawab Anita dengan mantap.


"Oh, terima kasih....terima kasih Anita!" seru Haikal yang dengan gembiranya hampir saja memeluk Anita, tapi dengan cepat Anita mengelaknya.


"Gembira sih boleh saja, jangan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dong!" seru Anita sedikit menggerutu.


"He...he...he...! ma'af terbiasa sama Yuni sih!" ucap Haikal yang berterus terang untuk menutupi rasa malunya.


"Kapan kamu mengenalkan saya pada anggota tim basketnya Amanda?" tanya Anita yang menatap Haikal.


"Oiya, sekarang saja! kalian kan perlu latihan dulu untuk saling mengenal dan dapat bekerja sama dalam tim!" seru Haikal yang kemudian bangkit dari duduknya.


"Ok, ayo!" balas Anita dengan semangat.


Keduanya melangkahkan kaki meninggalkan ruang tunggu di depan ruang ICU itu, tapi sebelumnya Haikal menitipkan pesan pada perawat untuk lebih memberikan perhatian pada adiknya.


"Papa dan mama sibuk ke luar negeri, mengurusi perusahaan-perusahaan yang baru bergabung dengan perusahaan kami. Ya itulah kedua orang tuaku, sejak usaha kembali lancar, seperti tak ada waktu untuk kami." ucap Haikal yang kini menghentikan langkahnya saat sudah sampai di tempat parkir.


"Kamu naik motor bersama aku atau tetap naik mobil kamu?" tanya Haikal pada Anita yang menatap ke arah Anita dengan rasa penasaran.


"Ma'af Haikal, aku tetap ikut mobil keluargaku. Karena pesan papa dan mama ku kalau aku harus selalu bersama mang Ujang, aku masih baru beberapa hari disini jadi papa dan mama takut terjadi sesuatu padaku." jelas Anita.


"Oh, papa dan mama kamu sangat perhatian sekali sama kamu." ucap Haikal yang mengulas senyumnya dan nampak begitu mempesona.


"Alhamdulillah." balas Anita seraya membalas mengulas senyum Haikal.


"Baiklah nanti tolong sama mang Ujang untuk mengikuti aku ya!" seru Haikal.


"Iya, dan kita pisah disini ya!" ucap Anita seraya melambaikan tangannya.


"Iya!" ucap Haikal yang juga membalas lambaian tangan Anita.

__ADS_1


Keduanya kemudian melangkahkan kaki menuju ke kendaraan masing-masing.


Tak beberapa lama Haikal dengan naik sepeda motornya melaju meninggalkan area parkir rumah sakit dan diikuti oleh mobil yang dikemudikan mang Ujang dan Anita duduk di kursi belakang mobil mewah itu.


"Mang Ujang, kita ikuti sepeda motor yang dikendarai Haikal itu ya!" seru Anita seraya menunjuk ke arah Haikal.


"Kita mau kemana neng?" tanya mang Ujang yang penasaran.


"Tempat latihan basket, kebetulan Haikal menunjuk saya sebagai ganti adiknya yang sedang sakit karena kecelakaan." jawab Anita yang apa adanya.


"Jadi begitu, baiklah! Tapi nanti saya ikut neng Anita turun ya, saya khawatir kan takut ada apa-apa dengan neng Anita. Nanti saya yang di salahkan oleh tuan dan nyonya." pinta mang Ujang yang penuh harap.


"Iya mang, ikut saja juga nggak apa-apa. Nanti saya anggap mang Ujang suporter saya! he...he...he..!" ucap Anita dengan tertawa kecil.


Kedua kendaraan itu melaju menyusuri jalan raya yang kebetulan tak begitu macet, sehingga tak butuh waktu lama mereka telah sampai di depan sekolah menengah pertama dimana Amanda menimba ilmu.


Mobil yang dikemudikan mang Ujang itu menepi dan berhenti di samping sekolah, sementara sepeda motor Haikal masuk dan parkir di tempat parkir sekolah tersebut.


Anita dan mang Ujang keluar dari dalam mobil, tapi sebelumnya Anita memasukkan pakaian ganti ke dalam tas ransel yang akan dia bawa sebagai bekal untuk latihan basket nanti.


Keduanya melangkahkan kaki masuk ke halaman sekolah dan mendapati haikal yang telah menunggu mereka.


"Lho, mang Ujang ikutan juga?" tanya Haikal yang terkejut dengan keberadaan mang Ujang yang bersama Anita.


"Iya, diakan sopir merangkap bodyguard dan juga suporter ku. Apakah tak boleh kalau dia ikut bersamaku?" tanya Anita yang membuat Haikal bingung untuk menjawabnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2