Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 49


__ADS_3

"Pulang? kan memang sekarang kita mau pulang. Jam kuliah kan sudah selesai!" seru Anita seraya menyerempangkan tas-nya dan menatap Haikal dengan mengulas senyumnya.


"Bukan, jenguk Amanda. Amanda sudah siuman, nanti tim Bintang juga akan menjenguk Amanda yang sudah dipindahkan di ruang rawat pasien." ucap Haikal dengan mengulas senyumnya.


"A...Amanda sudah siuman?" tanya Anita yang memastikan pendengarannya.


"Iya, Alhamdulillah semalam sudah siuman dan nenek saat ini yang menungguinya." jawab Haikal dengan semangatnya.


"Alhamdulillah, aku ikut senang. Aku ingin tahu apa pendapat Amanda tentang aku yang menggantikannya dalam lomba kemarin!" ucap Anita yang menghela napasnya.


"Tunggu apa lagi, ayo kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Haikal yang menyerahkan helm pada Anita dan gadis itu menerima helm tersebut.


"Terima kasih." ucap Anita pada saat menerima helm sekaligus menganggukkan kepalanya.


Haikal menyalakan sepeda motornya dan Anita segera naik dibelakan Haikal. Tak berapa lama sepeda motor itu melaju perlahan keluar dari kampus dan melaju menyusuri jalan raya menuju ke rumah sakit umum.


Setelah melewati beberapa lampu lalu lintas dan juga tikungan, akhirnya mereka sampai juga di tempat parkir rumah sakit umum itu.


"Akhirnya sampai juga!" seru Anita yang turun dari sepeda motor dan melepaskan helmnya.


"Iya, ayo kita temui Amanda!" seru Haikal yang sudah meletakkan helmnya di sepeda motornya, demikian pula dengan helm yang dipakai Anita.


Kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke pintu masuk rumah sakit umum itu. Setelah melewati beberapa lorong jalan rumah sakit, akhirnya mereka sampai di depan pintu ruangan dimana Amanda dirawat di bangsal kelas satu.


"Assalamu'alaikum...!" ucap salam Haikal seraya membuka pintu ruangan dimana Amanda dirawat, dan nampaklah Amanda yang sudah duduk bersandar di dinding yang menempel pada tempat tidur.


Ada seorang wanita yang sudah tua namun masih cantik, dan berhijab duduk di kursi samping Amanda dan dia sedang menyuapi Amanda dengan telatennya.


"Wa'alaikumsalam...!" jawab Amanda dan juga wanita itu yang menoleh ke arah Haikal dan juga Anita.


"Nenek, Amanda! kenalkan ini Anita yang saya ceritakan semalam." ucap Haikal yang memperkenalkan Anita pada keluarganya.


"Selamat siang Nek, saya Anita." ucap Anita seraya mengulurkan tangannya pada wanita tua yang tadi menyuapi Amanda.


"Saya Darwati, neneknya Haikal dan juga Amanda, jadi saya adalah mamanya mama mereka ini! he...he...!" ucap nenek Darwati sembari mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Nit, hati-hati nenek galak! suka ngatur-ngatur orang dan kalau punya keinginan, harus dituruti!" bisik Haikal dan Anita menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Kamu ngomongin aku ya Kal? Dasar cucu durhaka! awas kalau ngomong yang jelek-jelek tentang nenek!" seru nenek Darwati yang tampak gemas melihat Haikal.


Karena pemuda itulah yang berani mengerjainya, namun walau begitu dia sangat menyukai kedua cucunya itu.


"Ah, enggak apa-apa kok Nen! Neneklah yang merawat kami saat kamu ditinggalkan oleh kedua orang tua kami, ya dari sering keluar kota dan negara. Neneklah tumpuan hidup kami dan hidup kami bersumber dari Haikal dan Amanda kafe, yang mana resep masakannya dan konsepnya nenek dulu yang membuatnya untuk membantu usaha mama." jelas Haikal seraya memeluk neneknya.


"Wah, nenek hebat sekali!" puji Anita seraya mengulas senyumnya.


"Ah, biasa saja, itu demi anak dan kedua cucu nenek! he...he....he....!" ucap nenek Darwati seraya terkekeh.


"Kak Anita juga hebat! Permainan basket kak Anita sangat bagus!" seru Amanda yang ikut menyahut dalam obrolan mereka.


"Eh, kamu tahu dari mana Amanda? permainan aku tak bagus kalau tak ada tim bintang juga!" ucap Anita yang juga merendah.


"Tadi anak-anak tim bintang kemari, dan mereka cerita dengan serunya saat permainan kalian melawan tim bulan. Amanda sangat berterima kasih pada kak Anita!" seru Amanda yang merentangkan tangannya tanda minta dipeluk oleh Anita, dan Anita yang paham maksud dari Amanda itu segera memeluk adik Haikal yang baru semalam sadar dari komanya.


"Kak Anita ingin jika Amanda sembuh dari sakitnya, kabar menangnya tim bintang bisa sebagai hadiah kesembuhan Amanda. Sehat selalu ya sayang!" ucap Anita seraya mengecup kening Amanda.


"Kak Haikal!" panggil Amanda yang menatap Haikal yang sedang berdiri disampingnya seraya mengotak-atik ponselnya.


"Ada apa Manda." jawab Haikal yang menghentikan melihat ponselnya.


Manda adalah panggilan yang sering Haikal ucapkan untuk memanggil adiknya.


"Kayaknya kak Anita cocok jadi pengganti kak Yuni yang sudah meninggal. Bukan begitu nek?" ucap sekaligus tanya Amanda pada Haikal dan neneknya seraya melirik ke arah Anita.


"Eh!" Anita sangat terkejut mendengar hal itu.


"Hm, kakak masih dalam situasi berduka Man! Kamu jangan mikir yang aneh-aneh dulu ya!" seru Haikla seraya menatap adiknya dan sesekali melirik ke arah Anita.


"Kita hanya sebatas teman aja, Amanda! lagi pula kak Anita masih baru di kota ini." ucap Anita seraya mengulas senyumnya dan tiba-tiba saja dirinya teringat akan pesan terakhir Yuni.


"Tapi apa yang dikatakan oleh Amanda nenek setuju! nenek juga merasa cocok sama kamu nak Anita. Jadilah pendamping cucuku Haikal, karena nenek akan sangat tenang jika cucuku Haikal bisa menikah dengan gadis seperti kamu ini!" ucap Nenek Darwati seraya memegang lengan Anita.

__ADS_1


"Tokk...tokk....tokk....!"


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan rawat Amanda itu dari luar.


"Assalamu'alaikum...!" ucap salam suara seorang laki-laki yang sangat dikenal oleh Anita, dan semuanya menoleh ke sumber suara seraya menjawab salam dari laki-laki itu.


"Wa'alaikumsalam..!"


"Hah, mas Damar!" panggil dalam hati Anita yang sangat terkejut saat melihat sesosok laki-laki dengan pakaian serba putih dan alat stestokop di kalungkan di lehernya denga seorang perawat dibelakangnya yang membawa kertas laporan tugasnya itu melangkahkan kaki menghampiri tempat tidur dimana Amanda masih duduk bersandar di atas tempat tidur itu.


"Anita!" panggil dalam hati dokter damar yang melihat Anita yang dipegang lengannya oleh nenek Amanda dan Haikal itu.


"Ma'af jika mengganggu, saya mau memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu." ucap dokter damar dengan sopan.


"Oh, iya silahkan dok!" seru Haikal dan kemudian dia, nenek Darwati dan Anita menyingkir sedikit menjauh dari posisi tempat tidur Amanda.


Dokter damar dan perawat sedang sibuk memeriksa Amanda, sementara itu disudut ruangan tangan kiri nenek Darwati memegang tangan kanan Anita.


Sedangkan tangan kanannya memmegang tangan kiri Haikal dengan menggunakan tangan kanannya oleh si nenek Darwati.


"Aku mau kalian jadian! ingat apa yang nenek inginkan ini janganlah kalian bantah ya!" seru nenek Darwati seraya mengaitkan punggung telapak tangan Haikal dengan Anita.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


...          ...

__ADS_1


__ADS_2