Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Terlambat


__ADS_3

Pukul enam lewat, El barus selesai mandi, dia buru-buru memakai seragam putih abu-abunya yang tergantung di balik pintu. Tidak biasanya dia bangun kesiangan. Biasanya kalau dia kesiangan, pasti bunda selalu membangunkannya. Tapi semalam dia ngerjain tugas sampai larut malam, padahal kebiasanya jam sembilan malam dia sudah harus tidur.


Bunda baru saja pulang dari rumah kakaknya, keponakan El, baru saja keluar dari rumah sakit, karena kena gejalan Demam Berdarah.


Mbok Mar, asisten rumah tangga di keluarga itu, juga ijin tidak masuk dua hari, karena tetangganya baru saja meninggal. Mbok Mar sudah ikut di keluarga itu sejak Bunga Maharani, kakak pertama masih bayi.


"Adek bangun jam berapa tadi? tanya bunda tampak ikut cemas. Sambil tangannya menyiapkan kotak makan untuk bekal putri bungsunya.


"Jam enam kurang sepuluh menit bun, semalam ngerjain tugas sampai jam satu lewat" jawab El sambil menalikan sepatu ketsnya.


"Sempat sarapan ga, nak? tanya bunda lagi, sambil menyodorkan susu yang sudah dibuatnya, ke tangan El. Lalu memasukkan kotak bekal ke dalam tas anaknya.


"Ga bun, udah kesiangan, takut telat, makasih bun" kata El sambil mengembalikan gelas kosong ke tangan bunda. Lalu dia mencium tangan bundanya, di balas ciuman di keningnya.


"Adek berangkat bun" El berlari keluar, setelah ojek online yang sudah di pesannya sudah sampai. Biasanya tiap pagi, El selalu naik angkot kalau berangkat sekolah. Tapi karena hari itu tidak memungkinkan, dan dia harus sampai ke sekolah lebih cepat. Naik angkot bagi El lebih irit, juga bisa berinteraksi dengan banyak orang. El adalah type orang yang selalu hemat, karena bunda selalu mengajarkan untuk menabung, kata bunda biar bisa beli sesuatu yang berguna dengan uang sendiri. Dan benar saja. Ketiga anak bunda semua pintar menyimpan uang.

__ADS_1


***


"Makasih ya bang" ucap El sambil menyerahkan uang dan helm ke tukang ojek online yang mengantarnya Dia berjalan cepat agar memasuki gerbang sekolah.


Teett... teett... teeeeeeeeettt


Suara bel berbunyi, tepat waktu El di tengah pintu gerbang.


"Huuufffttt.... pas banget". El menghembuskan nafas lega.


"Tumben banget, hampir telat sih say" kata Mita cemas melihat El yang setengah berlari.


"Kalo telat cepet di priksain ke bidan" sahut Cindy asal. di sambut ketiga sahabatnya mengacak-acak rambutnya sambil tertawa.


"Gue sendirian di rumah, telat tidur, jadi telat bangun deh" kata El sambil melangkah ke dalam kelas, di susul yang lain. Tidak lama bu Fany muncul, berjalan masuk kelas.

__ADS_1


"Anak-anak kumpulkan tugas kemarin, Edelweiss bantu ibu mengumpulkan tugas teman-temanmu" kata bu Fany tegas.


"Baik buk" ucap El sambil berdiri, setelah mengeluarkan tugas yang di kerjakan semalam. Dia berjalan ke semua meja teman-temannya. Sampai di meja Gionino cowok ganteng yang jadi idola banyak cewek di sekolah itu, tidak segera memberikan kertas tugas, malah justru Gio menggodanya dengan memutar kertas itu. Membuat El kewalahan, dan gemas dengan kelakuan cowok itu.


"Gi, cepetan keburu bu Fany marah" bisik El sambil menyatukan giginya tanda marah. Bukannya memberikan kertasnya malah dia menunjuk pipinya, seolah minta di cium El. El melotot sambil pura-pura melangkah meninggalkan Gio. Lalu Gio menahan El sambil tersenyum menggoda.


"Gitu aja ngambek, ntar ke kantin bareng" bisik Gio, kedengarannya bukan ajakan, tapi perintah. El pura-pura tidak mendengar lalu menyerahkan tugasnya kepada bu Fany.


"Sudah semua El?" tanya bu Fany dengan mata menyelidik sambil menaikkan kacamatanya.


"Sudah buk" jawab El belum beranjak dari depan gurunya.


"Baik terima kasih, silahkan kembali ke tempat dudukmu" perintah bu Fany.


"Baik buk, terima kasih kembali" jawab El, sambil melangkah menuju bangkunya.

__ADS_1


__ADS_2