
Abang menelan saliva nya, seolah tak percaya dengan apa yang pak Arya katakan.
"Ayo lakukan kalo kamu punya rencana untuk melamar El?" pak Arya memperjelas.
"Apa bedanya sekarang sama besok?" tanya pak Arya.
"Baik pak" jawab abang yakin, walaupun dia agak malu di lihat orang yang baru saja di kenal nya. Abang berlutut dengan satu kaki di tekuk di depan El.
"El... wanita pertama dan terakhir yang abang cintai... maukah El menikah dengan abang?" abang menarik jemari El membawa ke depan dadanya.
"El mau..." jawab El tersipu malu, abang mengecup jemari mungil El.
"Ini pakaikan ke jari El, semoga cukup" kata pak Arya menyerahkan kotak kecil beludru biru. Abang membelalakan matanya, tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Ayo ambil" perintah pak Arya lagi.
"I.. Iya pak..." jawab abang masih ragu, dia menerima kotak itu, membukanya memakaikan ke jari manis kiri El. Lalu kembali mengecup jemari El lagi. Semua keluarga ternganga melihat kebaikan pak Arya.
"Pak Arya... maaf... apa ini ga berlebihan" tanya abang
"Bima... ada yang mau saya sampaikan kepada mu dan juga keluarga ibu Ana" ucap pak Arya hati-hati.
"Saya dan keluarga sudah memutuskan untuk, meminta ijin mengangkat Bima sebagai anak kami, jujur sejak pertemuan pertama saya dengan Bima, saya benar-benar seperti menemukan putera saya yang telah meninggal" pak Arya menghentikan ceritanya, dan menyeka air matanya.
"Pak Arya.... ini merupakan kehormatan bagi saya dan keluarga" bunda yang ikut hanyut dalam cerita pak Arya menjawab.
"Nah... Setelah bunda mu mengijinkan, saya hanya mau bertanya ke Bima, apakah kamu menerima niat baik keluarga kami?" tanya pak Arya menatap abang.
__ADS_1
"Seperti kata bunda, ini merupakan kehormatan bagi saya pribadi dan keluarga kami pak Arya" jawab abang.
"Baik kalo begitu mulai sekarang panggil kami papa mama, kalo di kantor pas ada orang saja kita profesional, selain itu kamu boleh panggil papa, El sama Rani juga boleh panggil saya papa"
"Baik pa" kata mereka serempak.
"Naahh.. kalo gini kan nanti kalo melamar resmi El, papa akan jadi wali mu" kata pak Arya sambil berkelakar, semua tersenyum mendengar pak Arya.
"Dan... papa juga akan memberikan apartemen Leon untuk Bima, sejak sepeninggal Leon, kami mengosongkan tempat itu, karena tidak mau mengingat masa lalu pahit kami, selain itu Bima sama El tidak boleh selalu satu atap. Papa tau, bunda kalian mengajarkan hal yang baik kepada kalian. Tapi yang namanya manusia banyak godaan, jadi ada baiknya kalian berpisah. El tidak keberatan kan?" tutur pak Arya.
"Enggak pa" ucap El tersenyum.
"Bagaimana dengan bu Ana?" tanya pak Arya lagi.
__ADS_1
"Saya tidak mampu berkata-kata lagi atas kebaikan pak Arya, saya hanya bisa mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk keluarga pak Arya yang begitu baik kepada keluarga kami" kata bunda.
"Kita sudah menjadi keluarga bu Ana, tidak usah sungkan" kata pak Arya.