Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Salah paham


__ADS_3

Abang tenggelam sama lamunannya sendiri, tidak menyadari El sudah ada di belakangnya, sambil menempelkan telunjuknya ke arah mbak Ratu, meminta jangan memberi tahu ke abang.


"Siapa nih?" tanya abang saat El menutup mata abang. Abang meraba tangan El, dia mengeryitkan dahinya seolah mencari si empunya tangan.


"Adek!" tebak abang, yang membuat El memonyongkan bibirnya.


"Yaaahh.... ga seru! Cepet ketauan" ujar El manja, lalu memeluk leher abang dari belakang.


"Abis bau nya, ga pernah berubah... Asem!" goda abang, El cemberut sambil menggabungkan pipinya, yang membuat gemas abang dan mencubitnya.


"Aawww... sakit bang" El mencubit perut abang lalu ikut duduk di sebelahnya, sambil menyandarkan kepalanya di bahu abang. Mbak Ratu yang menatap mereka hanya tersenyum simpul.


"Kalian di sini" tiba-tiba Lila datang dari arah belakang mereka. Seperti biasa abang tetap cuek, mbak Ratu dan El menghela nafas berat.


Sebenarnya Lila kesal melihat El dan abang, apalagi sekarang abang malah mengelus rambut El, tapi demi misinya mendekati abang dia pura-pura bersikap manis.


Lila ikut bergabung dengan mereka, membuat El enggan pergi dari sisi abang.


***

__ADS_1


"Dek, nitip Axel, kakak mau ambil souvenir buat tamu" kata kak Rani dari dalam rumah. Walaupun Axel dengan suster nya, kak Rani tetap dekat dengan keluarganya.


"Iya kak... Axel sini duduk sama ate, sama om" panggil El, yang membuat Axel berlari ke arah mereka, di susul suster nya.


Hanya bertahan beberapa saat di pangkuan El, lalu Axel sudah tidak bisa diam, berlarian kesana kemari.


Walaupun El tidak suka dengan keadaan ini, El tetap mendekati Axel mengajak kembali duduk di teras samping. Tapi Axel menolak dan mau tidak mau El harus menjalankan perintah kakaknya.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Lila mendekati abang, dia duduk di bekas tempat duduk El tadi.


"Bim kamu setelah ini mau kerja dimana?" tanya Lila basa-basi.


"Sepertinya kita sepikiran, lalu rumah ini?" tanya Lila lagi.


"Belum kepikiran" abang sudah jengah dengan kata-kata Lila.


"Bim, ga bisa apa kamu sedikit bersikap lunak ke aku? Paling ga menghargai aku yang berusaha ngedeketin kamu dari dulu" kata Lila yang hampir menangis.


"La, maaf. Aku tidak pernah minta perhatianmu. Dari dulu aku sudah menghindar dari kamu. Sekali lagi maaf La" ucap abang sedikit emosi.

__ADS_1


"Bim, kamu ga pernah kasih aku alasan, setidaknya aku akan mundur dengar alasan kamu." nada Lila penuh penekanan, berharap abang tidak punya jawaban yang memuaskan.


"Aku ga mau menyakiti kamu dengan jawabanku" ujar abang makin kesal.


"Ga papa Bim, walau sakit tapi aku lega" ucap Lila lirih.


"Baik kalo kamu maksa" abang menghela nafas.


"Di hati ku sudah ada nama wanita lain, sudah sejak lama, bahkan sebelum kita bertemu" sambung abang dengan penuh keyakinan. Lila menahan air matanya yang hampir jatuh dengan pengakuan abang saat itu.


"Siapa Bim?" suara nya bergetar, tangannya menyentuh tangan abang, matanya terlihat memohon.


"Maaf, itu urusan pribadi ku, dan aku ga suka di campuri" ucap abang sambil melepaskan tangan Lila, dan meninggalkan nya. Lila mengusap air matanya mencoba menghilangkan rasa sakit di hatinya.


El yang tanpa sengaja mendengarkan ucapan abang sejak tadi tertegun, menelan ludahnya kasar.


"Abang mencintai seseorang sejak lama?" batin El pilu mendengar ucapan abang tadi.


"Siapa? Apa teman kuliahnya? Atau tetangga eyang putri?" El mencoba menerka-nerka, tapi jika di pikir-pikir tidak ada seseorang yang mencurigakan dalam pikiran sejak kemarin di hari pemakaman eyang. El berlari menuju kamarnya, tidak mau keluarganya tahu dia menangis.

__ADS_1


__ADS_2