
"Selamat malam El" ucap dokter yang masuk di ikuti suster di belakangnya. El belum berhenti menangis.
"Apa yang sakit El?" tanya dokter.
"Semua dok, seluruh tubuh saya sakit semua" ucap El.
"Wajar itu karena tubuh kamu abis kena benturan keras, kata suster kepala kamu sakit?" tanya dokter itu lagi.
"Sakit... ketika mencoba mengingat semua dok" kata El lirih.
"Jangan buat mikir keras dulu, mungkin kamu masih trauma dengan keadaan tadi. Karena sampai sekarang kondisi tubuh mu baik semua kok, tidak ada yang perlu di kuatirkan, ada keluhan lain lagi El?" ucap dokter itu sambil memeriksa keadaan El, dan dia menggeleng.
"Oke, sekarang buat istirahat dulu ya, saya permisi bu" pesan dokter, lalu meninggalkan.
"Mending adek sekarang istirahat ya, bunda mau pulang dulu sama kak Rani, besok pagi bunda kesini lagi. Biar abang yang jaga adek ya" kata bunda membelai rambut El.
"Adek ga usah di jaga bun, adek mending sendiri aja, kan ada suster jaga" El masih kesal dengan abang.
__ADS_1
"Tapi dek... kalo ada apa-apa nanti repot, suster kan ga bisa jaga kamu terus" bujuk bunda.
"Bun, adek ga mau di jaga dia" El menangis sambil menunjuk abang. Abang mendekat ke El, El membuang muka.
"Dek, maafin abang, abang salah ga bisa jaga adek, maafin abang ya" ucap abang menyesal.
"Bang, sebenarnya ini ada apa?" tanya kak Rani menginterogasi.
"Abang salah kak, abang menerima ajakan Lila makan siang, dan adek melihat abang dan Lila" abang tertunduk. Air mata El semakin deras, dia memegang kepalanya yang kesakitan.
"Sudah dek, jangan banyak pikiran, adek fokus kesembuhan adek dulu" kata bunda yang sedih melihat kondisi El.
"Bun, kenapa kaki adek bun? Kenapa? Kenapa bun...?"teriak El frustasi.
"Dek, adek tenang, tadi adek abis operasi, butuh pemulihan. Adek yang sabar ya.." bunda terisak saat memberi penjelasan.
"Kita semua mau jaga adek, karena kita semua sayang adek" sahut kak Rani.
__ADS_1
"Abang ga ada maksud nyakitin adek, itu semua tanpa di sengaja, abang sudah cerita semua" kata kak Rani lagi.
"Tapi apa dia tau? Seberapa sakitnya adek saat melihat dia bersama pacarnya itu di stasiun juga?" El mengeluarkan apa yang yang ada dia pendam di dalam hatinya dengan uraian air mata.
Abang tertegun dan sadar berarti selama ini, El salah paham dan menyangka abang dan Lila pacaran, bahkan El melihat abang di stasiun bersama Lila.
"Dek, abang ga pacaran sama Lila, abang hanya nemenin dia berkeliling kota, karena dia ga tau sama sekali kota ini. Hanya itu dek" abang meluruskan duduk masalahnya.
"Abang sayang sama adek, kamu satu-satunya yang sudah mengisi hati abang. Abang sayang kamu El" abang menggenggam tangan El lalu mengecupnya.
"Abang masih menunggu kamu menjawab iya, kamu ga tergantikan dengan siapapun" ucap abang tanpa melepas genggaman tangannya.
"Bunda sudah memberi restu untuk kalian sayang, jika memang kalian saling mencintai" bunda mengusap pipi El.
"El, mau jadi pacar abang?" tanya abang, El memejamkan matanya, air mata masih turun dengan derasnya.
"El... Jawab abang..." panggil abang lagi, menarik wajah El, agar menatapnya.
__ADS_1
"Jawab jujur" abang menatap lekat wajah El. El mengangguk menatap mata abang dalam. Kebahagiaan terpancar dalam wajah keluarga itu.