
"Bun, abang mau ngomong sebentar bisa?" kata abang dengan sorot mata memohon.
"Kenapa? Apa yang di katakan budhe tadi?" kata bunda lembut, sambil kembali duduk di ruang keluarga. Abang belum menjawab, lalu abang duduk di sebelah bunda.
"Itu salah satunya bunda" jawab abang setelah duduk di samping bunda, sambil menggenggam tangan bunda.
"Kalo masalah Lila, bunda ga maksa, kalo abang ga cinta mau gimana lagi?" ujar bunda dengan penuh kesabaran.
"Bun, abang sudah pernah bilang, kalo abang ga suka cewek agresif kaya Lila bun" kata abang dengan penuh penekanan.
"Ya sudah, ga masalah bang" bunda mengusap kepala abang.
"Tapi bun, abang mau ngomong sama bunda. Tapi.... Bunda jangan marah ya" abang pinta abang sedikit ragu. Bunda tersenyum menatap wajah abang.
__ADS_1
"Abang... Bunda ga akan marah sama abang, apa lagi kalo abang berkata jujur ke bunda" bunda tersenyum sambil menyentuh pipi abang.
"Bun, abang mau jujur, kalo abang..... jatuh cinta sama adek" abang menunduk menahan nafas, menunggu jawaban bunda.
"Bang.... apa tidak ada wanita lain yang abang suka?" bunda berusaha menutupi keterkejutannya. Abang menggeleng pelan
"Kenapa harus adik mu bang?" kata bunda hati-hati.
"Bunda, abang ga tau kapan cinta itu datang, yang jelas dari kecil abang pengen jagain dia, ga mau jika sampai dia menangis" tutur abang memberi pengertian.
"Tapi bun, abang sama adek kan ga sedarah bun" kata abang lagi.
"Abang ga rela ketika tanpa sengaja abang dengar dulu eyang melarang ayah bunda merawat adek, abang ga rela ketika dulu keluarga menjelekkan adek, tapi abang bersyukur ayah bunda tidak mendengarkan mereka yang menolak adek... bahkan abang paling sedih ketika eyang bilang ibunya adek seorang wanita penghibur" abang menunduk sedih.
__ADS_1
"Bang, sudah jangan di ingat itu, semua sudah berlalu, kita semua sudah bahagia" bunda menitikkan air mata di rangkulnya bahu abang.
"Tapi bunda inginnya kamu mencari orang lain, bukan adikmu" ari mata bunda makin deras mengalir. Abang terdiam, dan tidak mau berdebat lagi dengan bunda nya, dia akan mencari hari lain lagi untuk membujuk bunda agar merestui niat abang.
***
Sementara itu El, terbangun dari tidurnya dia merasa haus, karena biasanya sebelum tidur, biasanya dia harus minum segelas air putih, tapi tidak untuk malam ini. Dia lupa karena dia hanya mau cepat masuk kamarnya dan tidak mau keluarganya melihat dia habis menangis.
Dia keluarga kamarnya, berjalan menuju ke arah dapur, dia melewati beberapa kamar besar, tapi mendekati ruang keluarga, dia mendengar ada suara dari ruang keluarga, yaa suara bunda....
Dia berhenti berjalan lalu menangkap pembicaraan mereka, dan dia terperangah dan menutup mulutnya ketika abang mulai berbicara. El menyimak baik-baik kata-kata abang.
"*Tapi bun, abang sama adek kan ga sedarah bun"
__ADS_1
"Abang ga rela ketika tanpa sengaja abang dengar dulu eyang melarang ayah bunda merawat adek, abang ga rela ketika dulu keluarga menjelekkan adek, tapi abang bersyukur ayah bunda tidak mendengarkan mereka yang menolak adek... bahkan abang paling sedih ketika eyang bilang ibunya adek seorang wanita penghibur*"
El tidak sanggup lagi mendengarkan Apa yang mereka bicarakan, air mata nya mengalir deras. Dia berjalan cepat kembali ke kamarnya tanpa menimbulkan suara.