Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Kepergian abang


__ADS_3

Sudah seharian ini El tidak bertemu abang, dia tidak tahu jika pagi tadi abang sudah pergi ke rumah eyang untuk transaksi rumah dan mempersiapkan wisuda nya.


Sebenarnya El penasaran, tapi dia malas untuk bertanya, karena dia takut tidak mengendalikan dirinya, karena perasaannya saat ini sedang hancur.


Sore harinya bunda menutup ruang kerja nya, kedua karyawan nya sudah pulang, mbok Mar menghampiri bunda.


"Bu... maaf, saya mau bilang kalo dari pagi non El tidak makan sama sekali, pagi hanya keluar buat minum susu saja. Setelah itu masuk kamar ga keluar lagi. Saya sudah coba panggil untuk makan, tapi non El tidak mau, katanya masih kenyang" tutur mbok Mar panjang lebar. Bunda berpikir sejenak, apa yang terjadi.


"Apa ini ada hubungannya sama abang kemarin?" tebak bunda menerka nerka.


Tok.. Tok.. Tok...


"Dek, boleh bunda masuk?" ucap bunda lembut. El yang saat itu sedang melamun jadi tersentak mendengar ketukan pintu.


"Sebentar bunda" ucap El malas, lalu berdiri dan melangkah dengan gontai.


"Baru apa dek? Kok di kamar terus?" tanya bunda pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.


"Ga ngapa-apa bun. Cuma chatingan sama temen-temen" jawab El asal.


"Dek, kalo ada apa-apa cerita dong sama bunda" bunda mengusap lembut rambut El.

__ADS_1


"Ga ada bun, bunda tenang aja" El memasang wajah seceria mungkin, sebenarnya bunda tahu yang di lakukan El, tapi bunda tidak mau memaksa El. Dan membiarkan El cerita atas kemauannya sendiri.


"Setelah bunda mandi, temenin bunda makan yuuk" rayu bunda agar El mau makan.


"Iya bun..." jawab El ogah-ogahan, karena ga nafsu makan sedikit pun. Tapi dia ga mau bunda kecewa kalau dia tidak menuruti kemauan bunda.


***


"Lho kok makannya sedikit banget dek?" tanya bunda


"Tadi di kamar ngemil kok bun, makanya masih kenyang" jawab El beralasan.


"Tapi kan non El dari tadi pagi kan ga makan?" ujar mbok Mar mengingatkan


"El ngemil mbok, makanya ga laper" lagi-lagi El berbohong.


Setelah selesai, El mengambil piring-piring kotor berinisiatif untuk mencucinya. Karena ga mau terlihat galau di depan bunda


"Non, biar mbok aja" kata mbok Mar, mau merebut piring yang ada di tangan El.


"Mbok, beresin meja aja, biar El yang cuci piring nya" ucap El mempertahankan piring-piring nya sambil tersenyum ke arah mbok Mar.

__ADS_1


"Udah mbok, biar El aja, bagi-bagi tugas" ucap bunda menengahi.


"Iya deh non, non El menang" ucap mbok Mar menirukan El dan teman-temannya jika sedang bercanda.


"Ha... ha... ha... mbok Mar siapa yang ngajarin mbok" El tertawa lepas melupakan sejenak masalahnya. Bunda tersenyum menatap El, sudah kembali tertawa.


******


Sementara itu abang selama perjalanan bahkan sampai di desa pun, tidak pernah berhenti memikirkan penolakan El, dia justru berpikir apa Gio penyebabnya.


"Mungkin El sudah mencintai cowok itu" pikir abang galau.


"Dateng jam berapa Bim..." panggil bude Ratih masuk ke dalam rumah.


"Tadi siang bude, jam sepuluh lewat bude" kata abang, mencium tangan bude Ratih.


"Maaf ya, bude baru pulang dari kebun sayur, kebetulan tadi habis panen, langsung di ambil sama tengkulak dari kota. Oya, bunda mu ga ikut?" tanya bude Ratih lagi.


"Iya bude ga papa, sekaligus Bima bisa istirahar. Bunda ga bude, bunda sudah nyerahin semua ke Bima, karena kerjaan bunda banyak bude. Bunda cuma nitip salam, sama sedikit ada oleh-oleh" abang menunjukkan paper bag besar yang ada di meja.


"Ya udah kalo gitu, kita mulai aja ngomongin tentang rumah dulu" kata bude, lalu mereka terlibat pembicaraan serius.

__ADS_1


__ADS_2