
Hari ini hari ketiga, do peringatan meninggalnya eyang putri. Rumah, seperti biasa sudah di sibuk kan kegiatan masak-masak, beres-beres rumah. Semua terlibat, kecuali anak-anak yang sibuk bermain. Kadang sesekali ikut ngerecokin orang tua masing-masing, karena tidak kepikiran dengan saudara nya.
El ikut bantu-bantu di dapur, dia tampak sibuk, ga ikutan kakak-kakak sepupunya yang sesekali terdengar celotehan mereka yang ngerumpiin berita artis-artis yang ada di tivi.
Keluarga besar sudah tidak lengkap lagi, karena keluarga eyang Tantri, anak, cucu menantunya sudah pulang. Keluarga eyang Utomo yang masih hanya tinggal budhe Ratih dan budhe Ratna beserta anak cucunya karena mereka tinggal satu kota dengan eyang putri. Yang lain sudah pulang karena mereka paginya sudah harus bekerja dan sekolah kembali.
"El, kamu udah punya pacar belum" tanya mbak Ratu tiba-tiba, mbak Ratu anak bungsu budhe Ratih yang baru tahun kemarin di terima bekerja di perusahaan swasta di pusat kota itu.
"Belum mbak, kata bunda harus fokus kuliah dulu" jawab El sambil mengerutkan dahinya.
"Mau nungguin abang?" goda mbak Ratu lagi.
"Abang kan sudah hampir lulus kuliah, abang sudah ada yang ngantri" jawab El sambil tersenyum kecut.
"Abang mu kaya nya ga mau pacaran juga, dia mau cari kerjaan tetap dulu, trus nguliahin El dulu. Gitu bilangnya sama mbak" mbak Ratu memberi penjelasan, El sontak terkejut, tapi segera di tutupi dengan pura-pura sibuk.
__ADS_1
"Benarkah abang belum mau pacaran, secara dia ganteng, gagah, tinggi dengan sulit eksotik, mana mungkin ga ada cewek yang ngejar dia.... selain Lila" batin El.
"Seandainya saja aku bukan adik abang, pasti aku sudah ngejar-ngejar abang, tapi entah kenapa aku selalu ga suka abang deket sama cewek lain, apalagi cewek yang agresif ke abang" pikiran El berputar-putar.
"El, kok malah bengong" mbak Ratu menepuk bahu El yang membuat El tersentak.
"El baru inget-inget cewek ya ngejar-ngejar abang" ujar El mengalihkan pembicaraan.
"Lila maksudnya?" tebak mbak Ratu.
"Dia cantik, sopan, rajin bantuin di sini" kata mba Ratu seolah memancing emosi El.
"Tapi abang ga suka mbak" El menekan suaranya, mulai kesal.
"Kan bisa jadi 'Witing tresno lamaran soko kulino' cinta bisa tumbuh karena sering bertemu" kata-kata mbak Ratu membuat El semakin gerah.
__ADS_1
"Tapi kak Lila suka sama abang dari semester satu, sampe sekarang ga pernah dapat perhatian abang. Justru malah abang semakin kesal karena cewek itu agresif" El menjawab panjang karena makin kesal, dan pengen mengakhiri perdebatannya dengan mbak Ratu. Sebenarnya mbak Ratu sudah tau apa yang terjadi dengan abang, tapi dia bari ingin iseng ngerjain El.
"Kok El marah?" tanya mbak Ratu pura-pura sedih.
"Udah ah, El mau bantu kak Rani bikin kue" ucap El yang membuat mbak Ratu makin yakin dengan hati El.
***
Hari semakin sore, acara masih dua jam lagi di mulai. Tapi kerjaan sudah hampir selesai, sudah banyak yang santai sambil ngobrol.
Mbak Ratu sedang ngobrol dengan abang, di bangku taman belakang.
"Bim, kayanya dia ada rasa sama kamu, trus gimana cara menjelaskan kepadanya apa yang ga dia tau selama ini" tanya mbak Ratu ke abang.
"Bima coba ngomong sama bunda dulu mbak, selama ini Bima simpen sendiri, cuma mbak sama mas Satrio yang tau"
__ADS_1