
Setelah mengantar Lila kembali ke kantornya, tapi perasaan abang mengatakan dia harus kembali ke tempat kejadian kecelakaan tadi. Dia merogoh saku celananya, membuka password smartphone nya.
Abang : "Bun, adek kemana?"
Bunda : "Tadi bunda suruh, beli keperluan jahit, tapi kok belum nyampe rumah juga ya.... Eh... tapi kenapa abang tiba-tiba abang cari adek?"
Abang : "Ga papa bun, ya udah, abang coba cari ya bun"
Bunda : "Iya nak, ati-ati ya"
Abang berbohong, agar bunda ga khawatir, berarti sekarang abang yakin kalau yang kecelakaan tadi adalah El, tapi dia masih berharap itu bukan El.
Abang melajukan motornya ke tempat kejadian tadi, tapi sudah sepi, abang turun dari motor dan melepas helmnta, melihat ke sekitar tempat kejadian berharap ada orang yang dia bisa tanya tentang kejadian tadi. Abang mengacak rambutnya, frustasi.
Abang melihat ada tambal ban di seberang jalan, dan motor bunda ada di sana. Abang menyeberang berjalan ke arah tambal ban itu.
"Bang, ini motor yang kecelakaan tadi?" tanya abang sedih.
"Iya mas, anak perempuan usia SMA, motor ini di saya amankan, takut ada orang yang ga tanggung jawab bawa motor ini mas" kata tukang tambal ban itu yang sudah berbaik hati.
__ADS_1
"Dia adik saya bang, bisa saya tau, di bawa kemana korbannya?" kata abang panik.
"Biasanya di bawa ke rumah sakit terdekat mas, sini yang terdekat rumah sakit Medika Utama bang, abang lurus aja, kira-kira satu kilometer dari sini" ucapnya lagi dengan logat medok.
"Oke bang, nitip motornya dulu ya bang, sampe saya kesini bawa buktinya kalo itu motor bunda saya" kata abang lagi.
"Iya mas, saya jaga motor ini, oya ini nomer mobil yang nabrak adik mas, sama nomer telponnya" kata abang itu lega.
"Makasih ya bang" kata abang, berlari ke arah motornya, pergi menuju ke rumah sakit yang di tunjukkan tukang tambal ban tadi.
***
"Iya mas, ada paling ujung" kata suster jaga itu.
"Gimana keadaanya sus?" tanya abang dengan tangan mengepal.
"Belum sadar mas, dokter baru memeriksanya" kata suster itu lagi.
"Boleh saya kesana sus?" tanya abang.
__ADS_1
"Boleh mas, sekalian jika dokter nanti ada yang di sampaikan" kata abang.
"Makasih sus" abang berjalan cepat menuju ruang yang tunjukkan.
"El..." panggil abang mengeratkan rahangnya, marah kepada dirinya sendiri, kenapa El harus melihatnya dengan Lila dan salah paham.
"Mas keluarganya?" tanya dokter yang baru saja selesai memeriksa El.
"Saya abangnya dok, gimana keadaanya?" kata abang.
"Sampai sekarang pasien belum sadar, dia kehilangan banyak darah, kakinya patah, kami secepatnya akan mengadakan operasi, dan yang nabrak juga baik, sebelum saya memeriksanya, dia menemui saya, bertanggung jawab atas semua biaya, hanya saja ini tadi buru-buru kembali kerja, dan meninggalkan nomer telpon di ruang suster" kata dokter.
"Trima kasih dok" kata abang menangis.
"Mas yang sabar ya" kata dokter menepuk pundak abang yang terguncang, menatap adik kesayangannya.
"Dek... maafin abang... semua salah abang, adek jadi kaya gini, kenapa bukan abang saja yang sakit, kenapa harus kamu dek" abang mencium tangan adiknya berulang ulang.
"Abang ga rela adek sakit... bangun dek... bangun sayang..." kata abang lemah.
__ADS_1