
"Abang... ada apa ini kok adek basah kaya gini" tanya bunda dari dalam rumah melihat tubuh El basah kuyup,
"Ini ulah Lila bun" kata abang kesal.
"Ada apa dengan Lila?" bunda masih belum mengerti
"Dia cemburu buta melihat abang sama El pacaran, dia ngamuk di rumah makan, menjelek-jelekkan El, sama El di skak matt, trus malah dia nyiram El pake air minumnya" kata abang. Abang mendorong kursi roda El ke dalam rumah.
"Sayang kamu mandi sama bunda dulu ya, abang mau balik ke kantor lagi... bun abang balik ya" abang mengecup kening El, dan mencium pipi bunda.
"Iya sayang" El tersenyum memandang abang, bunda mengangguk pada abang.
"Ayo sayang bunda mandiin, kaya waktu adek masih kecil" bunda mendorong kursi roda menuju kamar El.
***
Enam bulan berlalu, El sudah lepas dari kursi roda, tapi dia masih pakai tongkat penyangga. Pak Arya masih sering menghubungi nya, kadang menitipkan sesuatu melalui abang. Hari sabtu abang pulang lebih awal.
__ADS_1
"Bun kita di undang makan malam ke rumah pak Arya, kata beliau anak sama cucunya datang semua, kebetulan memang ada acara, dan anak-anak pak Arya juga ingin kenal dengan keluarga kita" kata abang sesampainya di rumah.
"Adek buatin kue ya bun" kata El yang sejak tadi memperhatikan abang, langsung menyahut semangat.
"Iya dek, buatin kue terenak buat keluarga pak Arya" perintah bunda.
"Yakin El bisa? Emang udah ga sakit kakinya? tanya abang.
"Ga papa bang, kan pak Arya sudah baik dengan keluarga kita, jadi El mau berusaha" El tersenyum menatap abang.
Tidak lama mereka sudah di dapur, El dengan sigap mempersiapkan bahan-bahan yang ada, karena El sendiri suka membuat kue, jadi bunda selalu menyiapkan bahan di dapur. Abang memasangkan celemek untuk El dan untuknya sendiri.
"Abang ngapain nih?" tanya abang bingung mau ngapain aja.
"Tolong ayakin tepung, abis itu pecahin telur, di pisah kuning sama putihnya" El memerintah sambil tangannya dengan sigap mempersiapkan semua yang dia butuhkan.
"Siap nyonya Bima" goda abang, El tersipu mendengarnya.
__ADS_1
"Mbok bisa bantu apa nih non?" tanya mbok Mar yang tiba-tiba datang ke dapur mendengar keributan disana.
"Ga usah mbok, biar El sama abang aja, nanti mbok bagian cuci-cuci aja, sekarang mbok istirahat dulu deh" kata El lagi.
"Baik non" mbok Mar meninggalkan mereka.
"Tau aja, maksud abang lagi pengen berdua aja sama sayangku" pipi El sudah memerah mendengar abang yang menggodanya.
"Abang ihh..." El malu-malu mendengarnya, tapi dalam hatinya bahagia.
"Kenapa? Abang salah?" abang pura-pura polos, El melempar spatula plastik ke abang. Abang tertawa keras mendekat ke El, mencolek hidung El dengan tangan masih ada tepung.
"Abaaanng...." El pura-pura marah. Lalu abang mengecup pucuk kepala El. Bunda yang dari tadi mengintip mereka, ikut tersenyum bahagia dengan kemesraan anak-anaknya.
"Yah... seandainya ayah melihat ini semua, melihat kebahagiaan anak-anak kita... Pasti ayah sekarang sedang tersenyum melihat mereka"
Bunda menyeka air mata kebahagiaannya, berharap pada Tuhan, dengan restu bunda mereka hidup bahagia dalam menjalani bahtera pernikahan nanti.
__ADS_1