Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Pertemuan terakhir


__ADS_3

Di perjalanan mereka tidak banyak bicara, hanya Axel yang ngoceh, tanya banyak hal ke mama nya, bertanya tentang apa saja yang dia lihat. Hanya itu hiburan mereka, kurang lebih tiga jam perjalanan mereka, sampai di kota yang mereka tuju, masih beberapa kilometer lagi. Karena rumah eyang putri bukan di tengah kota, mereka nyaman dengan tinggal di tempat yang sepi, dan tidak bising.


"Ahh, rasanya hari ini perjalanan paling berat untuk kami, tidak pernah kami mengalami cobaan seberat ini, setiap liburan dan hari raya kami berkumpul, mendengar cerita eyang putri jaman muda, jaman berjuang" El menarik nafas berat, menghembuskannya kasar.


Semakin dekat dengan rumah eyang, semakin banyak kenangan bersama eyang yang El ingat. nasehat-nasehat eyang untuk cucu-cucunya.


"Eyang baik-baik di sana ya, eyang putri sudah bertemu dengan kakung dan ayah. Eyang pasti bahagia di sana" El menangis dalam hatinya, tanpa terasa pelupuk matanya sudah tergenang, dan terisak. Kak Rani membelai kepala El, dan ikut menitikkan air mata.


"Adek harus ikhlas, jangan sedih terus, eyang sudah bahagia, jangan buat eyang putri ikut sedih melihat adek sedih kaya gini. Kita hanya berpisah sementara, semua orang pasti mengalami" kak Rani mencium kening El.


"El cuma pengen mengenang eyang putri kak" jawab El menunduk dalam.

__ADS_1


"Dek, inget ga dulu, cucu-cucu eyang Utomo, mas Krisna, mas Dewa, mas Bima yang suka jahilin adek, karena adek paling kecil di antara kita. Abang belain adek, abang bilang ke eyang putri, trus mereka di kasih hukuman di suruh kerja bakti di rumah eyang" kak Rani mengingatkan El, betapa sayangnya eyang ke adiknya.


El mengingat kejadian itu tersenyum, sambil meneteskan, air mata terharu mengingat kejadian itu semua. Lalu tersadar ketika mereka sudah sampai di tujuan. Melihat bendera tanda perkabungan air mata El semakin deras.


Semua sudah turun dari mobil, kaki El lemas, di papah bang Jun, dari dalam rumah saudara-saudara dari eyang sudah menyambut dan memeluk mereka bergantian. Abang yang mengenakan baju putih dan celana hitam keluar dari dalam rumah. Memeluk bang Jun, kak Rani dan terakhir El yang masih di papah sepupu mereka.


"Adek....." hanya itu yang terdengar di telinga El. Abang memeluk nya dan semua gelap, El tidak ingat apa-apa. Hanya samar terdengar suara.


***


Lebih dari tiga puluh menit El baru siuman dari pingsan nya.

__ADS_1


"Eyaaaang....." teriakan El pilu, membuat orang yang hadir menitikkan air mata. Abang mendekat memeluk nya lagi.


"Eyang, baaang.... adek mau liat eyang...." teriak El.


"Iya, tapi adek ga boleh nangis, air mata nya ga boleh jatuh" abang memberikan sapu tangan handuk ke tangan El. El mengangguk sambil mengusap air matanya.


Abang memapah El mendekat ke peti jenazah, agar bisa melihat untuk yang terakhir kalinya. El menutup mulutnya menahan agar tidak menangis keras, dia teriak.


"El, ga boleh netes air matanya ya" orang-orang tua yang ada di situ mengingatkan. El mengangguk pelan, menghapus air matanya..


"Adek harus kuat" bisik abang sambil merapikan rambut El yang berantakan. Bunda yang sejak tadi ada di dekat peti jenazah memeluk El dengan penuh kasih.

__ADS_1


__ADS_2