
Bunda benar-benar tidak menyangka, kemana El?
Bunda melihat di sekeliling, tidak melihat ransel El, bunda membuka lemari, baju El tinggal beberapa saja. Lalu menatap lembaran kertas di atas meja kecil, bunda memegang kertas itu dengan gemetaran, air matanya kembali mengalir.
*Untuk bunda tersayang
Bunda...
Maaf sebelumnya, kalo adek tidak pamit langsung ke bunda...
Maaf, adek tidak bisa jadi anak yang baik...
Maaf adek belum bisa membalas semua jasa bunda...
Terima kasih sudah merawat adek dengan baik... Terimakasih untuk kasih sayang bunda selama ini...
Adek pergi bukan karena tidak sayang sama bunda...
Adek pergi karena adek sudah tau siapa 'Edelweiss sebenarnya...
Tolong jangan cari adek, jika Tuhan mengijinkan adek akan pulang, setelah ketemu dengan ibu kandung adek...
Adek mau mencarinya...
Dan meminta alasan, kenapa tega membuang adek...
__ADS_1
Apakah adek anak haram?
Apakah adek anak yang tidak di inginkan?
Adek cuma ingin penjelasan darinya... entah siapa dia...
Sekali lagi maaf bunda... Adek sayang kalian...
Bunda, kakak, dan abang
El*
"Eeeeeelllllll....." teriakan bunda mengagetkan seisi rumah, yang tinggal tersisa bunda, kak Rani, abang, Axel dan suster nya. Juga mbok Sum dan Iis anaknya.
Mereka mencari ke arah sumber suara, abang menemukan bunda di kamar El, lalu berlari mendekati bunda.
"Sus, ajak Axel mau keluar dulu ya! Is tolong ambilkan minum hangat buat bunda"perintah kak Rani, mengingat kondisi bunda. Mereka mengangguk lalu pergi keluar.
Abang membaca surat dari El, lalu memekakkan matanya, memberikan surat itu ke kak Rani. Kak Rani memeluk bunda yang histeris sejak tadi. Mbok Sum memijat kaki bunda, yang di selonjorkan di atas kasur El.
"Bunda tenang dulu, pasti adek ketemu bun" kak Rani membujuk bunda. Iis masuk membawa teh hangat untuk bunda.
"Minum dulu bun" kak Rani menyodorkan minuman ke mulut bunda, bunda menerimanya dan meneguk seperempat gelas.
"Dah mbok, bunda ga papa, mbok bisa kembali kerja" kata kak Rani.
__ADS_1
"Iya mbak, permisi" mbok Sum keluar di ikuti Iis yang menutup pintu kamar.
"Aaarrrrgghh... hp nya mati" abang mengepalkan tangannya.
"Adek pasti dengar semua pembicaraan bunda dengan abang semalam..." Bunda menghentikan ucapannya, sambil menyeka air matanya.
"Setelah bunda ngobrol sama abang, bunda melihat adek di kamar, dia terlihat habis menangis, tapi tidurnya semalam pulas sekali" lanjut bunda.
"Abang yang salah bun, kenapa abang ngomong secepat itu, waktunya kurang pas. Adek masih syok kehilangan eyang putri, di tambah kejadian ini" abang frustasi sambil mengacak rambut nya.
"Ga usah salah in diri sendiri bang, mungkin ini sudah waktunya adek tau siapa dia. Kakak yakin dia tidak pergi jauh, perkiraan kakak hanya ke teman-teman dekatnya, mengingat selama ini adek akrab hanya dengan mereka." Kak Rani menerka.
"Trus apa yang kita lakukan sekarang?"tanya abang.
"Kakak pulang akan dengan bunda" ujar kak Rani menatap abang dan bunda bergantian.
"Abang ikut" abang mengambil keputusan cepat.
"Abang ga ada kegiatan kampus?" tanya kak Rani.
"Hanya tinggal beberapa kali pertemuan, bisa tanya lewat hp" ucap abang.
"Ya udah.... Bunda kita makan pagi dulu, mampir makam eyang, trus langsung balik ya" kak Rano mengusap bahu bunda. Bunda menggeleng, menatap kosong.
"Bun, kita mau cari adek kan? Kalo bunda ga makan, nanti malah sakit ga bisa cari adek. Dan kita semua pun, ga bisa cari adek karena pasti akan fokus ke bunda" bujuk kak Rani.
__ADS_1
"Ayo makan dulu yuk bun" abang menambahi, lalu menggandeng tangan bunda.