Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Menangis


__ADS_3

Hari berganti malam, acara doa di mulai, El keluar, matanya yang sembab membuat kak Rani bertanya-tanya.


"Dek, adek abis nangis?" tanya kak Rani hati-hati, El menggeleng pelan sambil tertunduk.


"Adek sakit?" tanya kak Rani lagi. Karena tidak berpikir apa alasannya El menangis, akhirnya dia hanya mengangguk.


"Sakit apa?" tanya kak Rani lagi, mulai panik.


"Pusing, tapi udah baikan kok" jawab El melihat kepanikan kakaknya.


"Kakak cariin obat dulu" kak Rani berdiri dari tempat duduknya. El memegang tangan kak Rani mencegahnya pergi.


"Kan adek bilang sudah baikkan." El berbohong.


"Ya udah, kalo sakit jangan diem aja, bilang-bilang kakak atau bunda ya" kata kak Rani lagi. El mengangguk, agar tidak berkelanjutan. El takut yang lain akan mengintrogasinya, El berharap mereka tidak tahu apa yang dia bicarakan dengan kak Rani, untung yang lain sebagian ada yang di dalam rumah, ada yang di ruang tengah juga.

__ADS_1


Jam sembilan lewat acara sudah selesai, seperti kemarin bunda menyuruh abang mengantar Lila, El sebenarnya malas untuk ikut. Tapi abang memaksa dan menyeret tangan El masuk ke dalam mobil.


"Dek, kemarin adek semangat banget ikut abang, kenapa hari ini ga?" tanya abang saat berjalan menuju mobil.


"Adek ga papa!" jawab El ketus. Abang heran, karena ga biasanya El seperti itu. Tapi karena mereka mau mengantar Lila, abang hanya diam saja. Bahkan di mobil, mereka bertiga tidak ada yang bersuara. El malah pura-pura tidur untuk menghindari percakapan atau mungkin perdebatan di antara dia dan Lila.


***


"Makasih Bim, semoga kamu bahagia" Lila turun dan berjalan masuk kerumahnya dengan langkah tanpa semangat. Abang hanya mengangguk pelan.


"Dek, bilang ke abang adek kenapa?" kata abang setelah melajukan mobilnya.


"El!" nada bicara abang meninggi, El tahu kalau abang sudah memanggil namanya berarti abang marah.


"Adek ga papa" suara El hampir tak terdengar.

__ADS_1


"Dek, abang kenal adek sudah lama, dari adek masih bayi, adek ga akan kaya gini kalo ga ada sebabnya" kata-kata abang mulai melembut kembali.


"Beneran, ga papa, adek cuma pusing aja" jawab El kembali berbohong.


"Ya sudah, anggap saja abang percaya" kata abang putus asa, karena sifat keras kepala El, abang yakin dia ga akan cerita masalah apa yang sedang di hadapinya sekarang padanya.


El hanya menatap lampu-lampu jalan, tanpa mau menumpahkan masalahnya pada abang, ada perasaan takut, malu, marah, benci, kesal.


"Dulu, setiap libur panjang kita selalu kumpul, adek seringkali di buat menangis sama kakak-kakak kita. Adek selalu ngadu ke abang, kalo mereka jailin adek. Abang selalu buat adek diem, adek selalu abang bela, adek selalu curhat kejailan mereka..... Abang seneng, adek mau berbagi ke abang" abang menarik nafas berat.


"Tapi sekarang adek udah gede, adek mungkin sudah ada tempat curhat lain, adek mungkin sekarang sudah ga butuh perlindungan abang lagi, abang tau adek sekarang udah gede, kan udah mau kuliah" ucap abang sambil tersenyum ke arah El.


El menangis mendengar kata-kata abang, baginya ucapan abang membuatnya sedih, abang menghentikan mobilnya lalu menatap El.


"Heeey... kok malah nangis" abang menarik tangan El membawanya ke dalam pelukan abang, lalu di belainya rambut El.

__ADS_1


"Abang, masih abangnya adek kok. Abang masih sayang sama adek, sama kaya dulu" abang menenangkan El. El tidak mampu berkata-kata lagi, dia hanya merasakan kenyamanan di dekapan abang.


"Air matanya di hapus dulu, ntar bunda ngira abang jahatin adek, sampe bikin adek nangis" abang tersenyum lalu mengambil tissue dan menyeka air mata El.


__ADS_2