Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Ajakan Gio


__ADS_3

"Dek, jangan tinggalin kami lagi ya, bunda sedih adek pergi. Bunda ga peduli anak kandung atau anak angkat adek tetap anak bunda" kata bunda di dalam perjalanan pulang, bunda selalu memegang tangan El, seolah takut kehilangannya lagi.


"Iya bun, maafin adek" ucap El sedih, lalu menyandarkan kepalanya di bahu bunda.


"Bunda merawat adek dari bayi, sampai sekarang, tidak ada perbedaan antara kakak, abang ataupun adek, semua sama anak-anak bunda. Juga ayah yang dulu sangat menyayangi adek, bahkan dulu adek rewel setiap malam, selama satu minggu sebelum ayah pergi. Ketika ayah dinas ke luar kota adek selalu panas badannya, itulah kedekatan batin adek ke ayah. Jadi semua hanya status dek, yang penting hati kita" bunda terisak mengingat semua itu.


"Iya bun, adek janji ga akan pergi lagi, adek mau nurut kata bunda" El memeluk bunda. Selanjutnya mereka terdiam tanpa kata sampai di rumah.


***


"Ateeee... Axel kangen...." Axel berlari menyambut tantenya yang terlihat turun dari dalam mobil.


"Ate juga kangen sama Axel" El memeluk lalu mencium berulang ulang kedua pipi keponakan gembulnya itu.


"Ate masuk kamar dulu ya, mau mandi bau aceeem" lanjut El, Axel menutup hidung seolah beneran tercium bau badan tantenya. El mengacak rambut Axel sambil tertawa.


"Makan malem bunda siapin makanan kesukaan adek, harus di abisin ya dek" ujar bunda ketika El melangkah masuk rumah.


"Siap bun" ucap El mengangkat jempol nya.


Sampai di kamar El duduk di bangku meja belajarnya, dia menyalakan smartphone nya, puluhan panggilan dari abang, bunda, kak Rani. Dan ratusan pesan dari sahabatnya, lalu matanya tertuju pada pesan Gio, yang sudah dua hari tak di bukanya.

__ADS_1


Gio : "Hai El, kapan lo balik dari rumah eyang?"


"Kalo pulang kabarin gue ya"


"Boleh dong gue nagih janji kita jalan"


"El lo masih sibuk ya? Sampe belum sempet buka hp"


"Gue tunggu jawaban lo"


Gio terlihat online, El segera membalas pesan nya.


"Iya kapan-kapan gue bayar janji gue"


"Tapi please, jangan sekarang ya, gue masih capek"


Pesan terkirim, El lalu meletakkan smartphone nya di atas meja belajarnya, meraih tanduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi. Lima menit dia sudah keluar dari dalam kamar, dengan melilitkan handuk di tubuhnya, dia membuka lemari pakaian, mencari baju santai nya.


Drrt drrrttt...


Dia melihat nama Gio ada di layar smartphone nya.

__ADS_1


Gio : "Halo El, apa kabar? Kok hp lo susah banget di hubungi"


El : Iya, setiap hari ada acara doa, dan biasa kalo di kampung kan masak sendiri, apalagi kami kan keluarga besar, jadi semua serba nyiapin sendiri di bantu tetangga sekitar.


Gio : "Oh... kirain lo bosen dapet pesan dari gue"


El : "Ga lah, gue ga sejahat itu"


Gio : "Malem minggu gue jemput lo ya, kita nonton, ada film baru"


El : "Jadi nagih janji nih?"


Gio : "Bisa di bilang begitu" terdengar suara tawanya.


El : "Gue ijin sama bunda dulu... udah ya gue di panggil bunda... bye" kata El beralasan.


Gio : "Iya deh, gue tunggu kabar dari lo.. bye"


El ga minat banget pergi sama Gio tapi dia selalu memaksa, El bingung cara ngomongnya sama bunda, dia juga memikirkan perasaan abang kalau bertemu dengan abang.


Sambil memakai baju El berpikir keras, mungkin dia kasih kesempatan Gio sekali ini aja, karena sudah janji dan lain kali dia akan menolak secara halus, mungkin ini jalan satu-satunya pikir El.

__ADS_1


__ADS_2