
Malamnya, seperti biasa bunda dan El makan malam bersama mbok Mar.
"Dek, habis ini bunda mau ngobrol sama adek, boleh kan? Udah lama lho kita ga ngobrol bareng" kata bunda di sela makan malam mereka.
"Boleh dong bun" El mencoba tersenyum walaupun terlihat di paksakan.
"Habiskan makanan adek dulu" kata bunda meletakkan sendok dan garpunya. El mengangguk menyuapkan sendok terakhirnya.
"Sudah non, mbok aja yang beresin, ibu mau bicara sama non" kata mbok Mar segera bangkit berdiri melihat El selesai makan.
"Iya mbok, makasih" El pasrah, dalam hati bertanya-tanya, apa yang mau bunda bahas.
"Bikinin minuman seger ya mbok, kalo masih ada buah bolehlah buat cemilan nanti, mumpung udara lagi panas" kata bunda.
"Iya bu, mbok tadi bikin asinan buah, mbok siapkan dulu" kata mbok Mar sambil membawa piring kotor.
"Makasih mbok" ata bunda, lalu berdiri mengajak El ke ruang keluarga. Mbok Mar tersenyum mengangguk.
__ADS_1
"Sayang, bunda sebenernya ga mau ganggu adek, tapi bunda hanya kuatir dengan adek, sama sekali ga mau komunikasi dengan orang lain, ga mau keluar kamar, sudah ga pernah lagi ngobrol, curhat sama bunda. Kenapa?" tutur bubda panjang lebar. El terdiam, dia tertunduk dalam, bingung mau mulai dari mana.
"Dek, dulu setiap ada masalah adek selalu cerita sama bunda, tapi setelah pergi abang dulu, adek langsung berubah total. Jangan sembunyikan apapun dari bunda" bunda meraih tangan El, lalu mengelus nya, memberi support. El menghela nafas menyusun kata-kata yang tepat, agar tidak salah bicara.
"Bun... ehmm... tempo hari pas adek pergi sama abang, abang nembak adek" El melirik bunda melihat ekspresi bundanya, tapi bunda masih datar, karena sudah tahu apa yang di sampaikan El.
"Permisi bu, ini es sirop sama asinan buahnya" kata mbok Mar meletakkan dua gelas es sirop segar dan dua mangkuk asinan buah.
"Waah seger nih mbok, cocok sama udaranya, makasih ya mbok" kata bunda.
"Sama-sama bu, saya permisi" mbok Mar pamit.
"Adek tolak bun" El menahan air mata dalam dilemanya.
"Kenapa?" tanya bunda seolah menginterogasi, El tertegun, dengan pertanyaan bunda.
"Bu... bukannya dulu di rumah eyang, bunda sendiri yang bilang kalo bisa abang sama adek ga boleh pacaran? Bunda mau abang cari cewek lain, asal bukan adek" El kembali tertunduk menunggu bunda bicara.
__ADS_1
"Apa sebenernya yang adek rasakan ke abang?" kata bunda terang-terangan. El tersentak menatap bunda, yang sedang menatap lembut ke arahnya.
"Adek ga tau bun, tapi adek sedih ketika abang pergi tanpa pamit, dan sampai sekarang tidak menghubungi adek sama sekali" air mata El tumpah, dan buru-buru di seka nya.
"Adek inget sama kak Lila? Apa yang terjadi saat kak Lila sama abang?" pancing bunda lagi.
"Adek marah saat kak Lila genit mendekati abang bun, pura-pura ga bawa kendaraan tujuannya biar di anter pulang abang, adek sebel banget " ada api kemarahan dalam mata El. Bunda tersenyum, sudah bisa menyimpulkan.
"Itu artinya adek cinta sama abang" kata bunda menggoda. El terlihat grogi, dia memainkan jemarinya.
"Ga bun, adek mau memupusnya, adek ga mau kecewain bunda, adek ga mau bunda sedih" kata El hati-hati.
"Bunda ga pernah mau memendam kecewa dek, bunda mau adek bahagia, kalo memang sumber kebahagiaan adek itu abang" bunda tersenyum genit.
"Ma... maksud bunda" El tak percaya, dan minta penegasan dari bunda.
"Artinya bunda kasih restu buat abang sana adek" El ternganga, lalu di peluknya tubuh bunda, dia menangis.
__ADS_1
"Bunda ngomong sama abang waktu itu, karena ga tau apa yang adek rasakan ke abang, bunda hanya takut kalo nantinya justru akan merusak hubungan persaudaraan kalian" ucap bunda membelai rambut El.
"Makasih bun..." El tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.