Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Perhatian Gio


__ADS_3

Keesokan harinya El bangun dari tidurnya jam enam pagi, dia membuka smartphone yang tidak di bukanya dari pulang di antar Gio kemarin.


Ternyata banyak ucapan bela sungkawa dari teman-temannya. Di group kelas sampai chat lebih dari tiga ratus chat. Group geng empat sekawan, ketiga sahabatnya memberi semangat kepadanya. Banyak juga yang mengirimi pesan pribadi, dan sepertinya Gio yang paling banyak chattingnya.


Gio : "El udah berangkat?"


Gio : "Ati-ati di jalan ya."


Gio : "El kamu harus kuat ya"


Gio : "El jangan bersedih terus, ya"


Gio: "Edelweiss, jangan lupa makan"


Dan masih banyak lagi chat Gio untuk El, El merasa trenyuh atas perhatiannya, tapi bagaimana pun Gio bukan type nya.


El : "Kemarin gue berangkat jam satuan dari rumah, nunggu kakak gue jemput"


"Gue ga papa kok, kalo sedih maklum aja, kan gue cucu bontot. Tapi abang gue nemenin dan jagain gue terus kok."

__ADS_1


"Lagian banyak sodara yang ngehibur gue. Makasih buat perhatian lo"


Tidak menunggu lama Gio antusias membuka balasan El yang panjang. Gio tersenyum menatap layar smartphonenya sambil mengetik keyboard nya.


Gio : "Semoga sodara-sodara lo bisa membuat lupa kesedihan lo ya"


Gio memang sengaja tidak menyebut abang, karena sudah beberapa kali El menyebut abangnya dengan mata berbinar. Gio tidak menyukainya, walaupun Gio sendiri belum kenal dengan abangnya El.


El : "Pasti, dah ya gue mau bangun dulu, baru bangun tidur" di tambah dengan emot menutup wajah.


Gio : "Pantas baunya sampai sini, gue aja udah lari keliling komplek dua kali, masa anak gadis jam segini baru bangun" Gio meledek El. El hanya memberi stiker lidah menjulur.


***


Setelah bangun dari tempat tidur, El menuju dapur, melewati ruang makan ada kak Rani yang sedang menyuapi Axel, dan kakak-kakak sepupunya yang juga sama menyuapi anak-anaknya. Bunda di dapur masih menggunakan celemeknya, bersama budhe-budhe nya para ibu menyiapkan makan pagi.


Ayam goreng, ikan bakar, sayur sop, sambel, tahu, tempe goreng, perkedel. Semua menggugah selera El, lalu dia memeluk bunda dari belakang sambil memejamkan matanya.


"Duuh, jam segini baru bangun anak gadis, ayo belajar masak sama bunda mu" ucap budhe Ratna anak bungsu eyang Utomo. Lalu di sambut celoteh yang lainnya.

__ADS_1


"El bisa nya bantuin doa, sama bantuin makan" ujar El santai. Di sambut tawa yang lain, El mau melangkah masuk ke dalam, sambil menyambar sepotong tahu goreng.


"Dek, bawa tahu sama tempe goreng ke meja makan" bunda menunjuk piring tahu sama tempe goreng.


"Siap nyonya" kata El sambil agak membungkuk mirip assisten rumah tangga ketika di suruh majikannya. El memang anak yang mudah bergaul jadi banyak yang suka tingkahnya.


***


El membawa kedua piring berisi tahu dan tempe ke arah meja makan.


"Kok sepi kak? Kemana abang sama mas-mas?" tanya El penasaran, biasanya rumah itu selalu ramai, karena memang jumlah keluarga besar nya.


"Pada jalan-jalan dari tadi pagi" ucap kak Rani, sambil membawa sesendok makan nasi sayur air arah mulut Axel.


"Dek, bang Jun sama pak Amar nanti sore mau pulang duluan naik kereta, adek mau bareng atau masih tinggal di sini?" tanya kak Rani sambil menyodorkan air putih ke arah mulut Axel.


"Ga kak, adek tinggal aja, toh cuma absen, ga ada pelajaran lagi" jawab El.


"Ya udah berarti ntar kakak pesen dua tiket aja. El menyatukan jempol dan telunjuknya, memberi tanda oke.

__ADS_1


__ADS_2