
"Kita pulang aja yuk... gue kesel sama abang, masih juga ketemu dengan cewek yang ngejar-ngejar dia itu" kata El sepeninggal abang.
"Jangan gitu lah El... kasian abang lo, dan berjuang, liat tadi dia belain cinta kalian mati-matian kaya gitu, yang bikin cewek reseh itu mati kutu" kata Alya menenangkan El.
"Tapi gue kesel Ya..." kata El dengan badan yang basah kuyup, Debby mendorong kursi roda El menuju ke pintu, menunggu abang.
"El... Abang lo tuh keren banget, dia bisa tegas banget sama cewek ga jelas tadi, itu romantis banget tau El... gue pengen cowok yang belain pacarnya kaya abang lo" Alya senyum-senyum sendiri membayangkan ada cowok kaya abang tadi. El menghembuskan nafas kasar, tidak lama kemudian abang datang, mengangkat El ke bangku samping sopir, lalu melipat kursi roda nya memasukan ke dalam mobil.
"Kalian mau ikut ke rumah kami kan?" tanya abang ke teman-teman El.
"Ga kak, kita mau lanjut cari buku, ntar El kita kabarin aja bukunya, kasian dia kalo harus ikut kita" kata Rai yang cowok sendiri di antara mereka.
"Ya udah, makasih ya... nih kakak kasih nomor wa kakak, ntar hubungin kakak kalo dapet bukunya, uangnya kakak transfer ya" kata abang memberikan nomor nya ke Rai.
__ADS_1
"Siap kak" ucap Rai.
"Oke... kita duluan ya... sorry atas insiden tadi... makasih bantuannya untuk El" kata abang melambaikan tangannya ke teman-teman El.
"Sama-sama kak" mereka membalas lambaian abang.
"Duluan ya gaess... thanks ya... sampe ketemu besok" El melambai ke arah mereka, dan mobil yang mereka tumpangi meninggalkan rumah makan itu.
Dalam perjalanan El hanya diam menatap keluar jendela, abang tahu El masih kesal padanya.
"Kenapa sih, abang masih ketemu sama dia" El tak mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Dia tadi maksa abang" abang mencari kepercayaan El.
__ADS_1
"Maksa? Gimana bisa maksa kalo dengan senang hati abang datang ke cafe itu?" desak El, menyelidik.
"Sayaaang... percaya abang, abang udak tolak dia dengan banyak alasan, abang bilang ga mau karena abang bilang udah punya pacar, tapi dia maksa sebagai teman. Dia ke kantor abang, terpaksa abang layani maunya dia, tapi abang bilang ini yang terakhir makan sama dia..." Abang memohon kepercayaan El.
"Sayang... plisss... percaya dong sama abang. Abang janji bukan cuma sama El, tapi sama bunda dan kak Rani, terlebih abang sudah janji sama diri abang sendiri. Abang cuma sayang kamu... wanita satu-satunya yang abang cinta dan abang mau jaga sejak dari El masih bayi" imbuh abang, El tersentuh dan menitikkan air mata, menoleh ke arah pria yang dia cintai. Abang menarik tangan El, mengecup lembut, lalu meletakkan nya di dada, sambil terus fpkus ke jalan.
"Coba rasakan detak jantung abang, di sini hanya ada nama El.. tidak ada nama wanita lain... Tidak satu pun" abang meyakinkan El, dia mengusap air mata El, saat berhenti di lampu merah.
"El percaya kan sama abang?" tanya abang menatap dalam manik mata El. El mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih sayang... Abang maunya kita seperti ini, jika ada masalah kita komunikasikan, jangan langsung marah, apalagi diemin abang.. Abang ga bisa di gituin... Mau kan?" tanya abang lagi.
"Iya sayang" jawab El mesra.
__ADS_1
"Janji?" abang menegakkan jari kelingkingnya.
"El janji" El membuat abang yakin, El menautkan kelingkingnya ke kelingking abang, lalu pundaknya di tarik abang, di letakkan di bahunya, dan abang di mengecup pucuk kepala El