
Beberapa hari berlalu, El belum juga berbaikan sama abang, walaupun abang sering menggoda dia, tapi dengan cara apapun El tetap saja mengeraskan hati. Jujur dalam hatinya menginginkan suasana seperti dulu, tapi dia masih kesal dengan abang karena cemburunya.
Selama dua hari ini abang pergi dari rumah, dari pagi sampai sore hari. Begitupun pagi ini abang pergi dari rumah dengan motor barunya yang baru datang tiga hari lalu. Dan seperti kemarin hari ini pun El belum ketemu abang dari saat makan pagi, sampai saat makan siang ini pun abang belum pulang. Sebenarnya El ingin sekali tanya sama bunda, tapi El meninggikan egonya.
Kali ini El makan siang sama mbok Mar, karena bunda masih sibuk, setelah menyelesaikannya, bunda datang ke ruang makan.
"Bunda makan dulu bun" kata El melihat bunda mendekat.
"Iya dek, nanggung, bentar lagi selesai. Dek... adek sibuk ga? Bunda bisa minta tolong?" kata bunda melihat El sedang nonton tivi.
"Minta tolong apa bun?" tanya El.
__ADS_1
"Minta tolong beliin benang warna ini, sama beberapa yang bunda udah bunda udah tulis di kertas, bunda dapet orderan seragam batik, harus cepet di selesaiin" kata bunda sambil menunjukan contoh warna ke El, dan kertas kecil.
"Iya bun, adek ganti baju dulu, bunda makan sekarang ya, adek ga mau bunda forsir kerja, lupa makan" kata El, meninggalkan bunda menuju kamarnya.
"Iya sayang" kata bunda tersenyum melihat perhatian putri bungsu nya.
***
Setelah memasukkan segala keperluan bunda ke dalam jog motornya, El melajukan motornya ke jalan raya, dan beberapa kali berhenti karena lampu merah. Tapi di lampu merah ketiga, El seperti tersambar petir, melihat di depannya dua orang yang sangat dia kenal. Abang dan Lila, berboncengan dengan motor abang. Tanpa terasa air mata El menetes, dia benar-benar hancur saat itu. Dia menyimpulkan abang dan Lila sudah jadian, karena melihat kebersamaan mereka dua kali ini.
Sebenarnya El tidak mau percaya, tapi semua benar-benar nyata di depan matanya. El, marah, kecewa, sedih, hancur, dia benar-benar tidak habis pikir, kenapa abang secepat itu melupakannya.
__ADS_1
El melajukan motornya dengan kencang, tanpa di sadari oleh abang dan Lila, tapi karena abang kesal dengan pemotor yang ugal-ugalan, mau ga mau abang menoleh ke arah motor itu. Abang terkejut jika pemotor itu adalah El. Tapi abang tidak tahu harus berbuat apa.
El meninggalkan abang jauh, tanpa konsentrasi karena dia sangat kacau.
Duaaaarrr......
El tidak bisa mengendalikan motornya, dia tertabrak mobil dari sisi kanan, dia terpental beberapa meter. Dan semua gelap, El tidak ingat apapun.
Abang melewati kerumunan orang, abang bisa merasakan debaran jantungnya sendiri. Dia benar-benar khawatir takut jika itu adalah El.
"Ada kecelakaan ya? Jangan berhenti Bim, aku takut darah" kata Lila mengalihkan pandangan ke sisi kanan. Abang melewati kerumunan itu sambil berharap itu bukan El, tapi sedikit pun tak terlihat baik motor ataupun tubuh orang itu.
__ADS_1
Sejak pagi abang pergi untuk melamar ke beberapa kantor, tapi saat menjelang makan siang Lila menelponnya mengajak makan siang.