
"Bim... lo ga perhatiin gue" Lila menarik tangan abang, abang terkejut dan mengibaskan tangan Lila.
"Maaf La, gue harus pergi" kata abang berdiri meninggalkan Lila.
"Bim... kita belum makan... Bim...." Lila kecewa dan marah dengan El, karena yakin semua gara-gara dia. Abang berjalan menuju meja El dan teman-temannya.
"Tau El di sini, kita janjian makan siang bareng" ucap abang mengecup pucuk kepala El. El membelalakan matanya tidak menyangka bertemu abang disini, pipinya bersemu merah mendapat perlakuan istimewa abang. Bahkan teman-temannya ikut tersenyum melihat kemesraan mereka berdua.
"Abang..." El tersenyum menatap kekasihnya.
"Ohh ya... kenalin temen-temen El" ucap El, abang berkenlan dengan mereka satu persatu.
"Pacarnya El ya kak?" tanya Debby teman El.
"Iya... Abang juga pacar juga" kata abang menggoda El, dan mendapat suhu dan mesra dari El.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Debby penasaran.
"Ohh.. jadi karena ini lo ninggalin makan siang kita" suara Lila menggelegar dalam ruangan itu. Sontak semua yang di sekitar itu menoleh ke arah mereka.
"Jadi ini adik yang manja, selalu mengganggu abangnya, selalu minta di prioritaskan, tidak memberi kesempatan abangnya pacaran. Jadi maunya abangnya di jadiin budak cintanya?" Lila berteriak kesal dan menunjuk wajah El dengan jarinya.
"Lila cukup, lo ga tau apa-apa" bela abang.
"Bim... kenapa sih lo selalu belain dia? Dia cuma adik lo, lo juga butuh kebahagiaan lo sendiri, bukan di jadikan bucin dia... apa ini yang lo bilang lo udah punya pacar? atau ini cara lo ngindarin gue Bim?" emosi Lila makin meledak.
"Lo udah gila? Kalian mau tetep pacaran walaupun ada hubungan darah? Lo ga takut dosa?" kemarahan Lila sudah sampai ubun-ubun.
"Kakak ga tau apa-apa, makannya jangan asal bicara" kata El lagi, tangan kanan abang mengelus pundaknya, tangan kirinya menggenggam tangan El, untuk meredam kemarahan El.
"Gue tau... gue tau kalian berdua kakak adek, bahkan gue juga kenal keluarga lo" kata Lila ga mau kalah.
__ADS_1
"Kakak cuma kenal kami luarnya aja... Tolong jaga keseimbangan kakak semoga kakak ga syok... Gue sama abang bukan saudara kandung, kami hanya saudara angkat yang di pisahkan selama belasan tahun, dan sekarang kami saling jatuh cinta, dan sekarang kami sudah pacaran" El buat skak mat Lila, dan seperti yang El ucapkan, Lila benar-benar syok.
"Brengsek kalian" Lila meraih gelas di depan meja El, lalu menyiramkan isinya ke arah El, dan terlambat abang cegah.
"Lila... mulai sekarang jangan hubungin gue lagi... anggap saja kita ga pernah kenal... gue nyesel pernah punya temen kaya lo!" abang berapi-api melihat kecemburuan Lila.
"Bim..." Lila menangis.
"Dan satu lagi... lo harus bisa trima, gue sama El sudah pacaran, kita sudah dapet restu dari bunda dan kak Rani" kata abang tak memberi kesempatan Lila bicara. Lila pergi dengan kecewa, marah, dan benci.
"Sayang abang antar pulang ya?" kata abang.
"Ga usah, abang kembali kerja aja, El mau pulang sama temen-temen" El kecewa sama abang yang masih bertemu Lila.
"Plisss... Abang ambil mobil dulu, kantor abang di depan, abang dapet ijin dari pak Arya untuk antar jemput El kok.. Tolong jaga El dulu, aku ambil mobil bentar ya" setelah dapat persetujuan teman-teman El, abang berlari keluar rumah makan tersebut tak peduli El yang sedang ngambek.
__ADS_1