
Mama Della. membuka pintu kamar putrinya pelan, dan itu tidak di sadari El yang sedang berdiri, sambil menatap kosong ke arah luar jendela.
"El...." tutur mama Della lembut.
"Eh.. tante, El tidak dengar tante masuk" El terkejut dan berbalik ke arah Della dan mamanya.
"Apa yang kamu pikirkan El" mama Della mulai memancing nya.
"Eehhmmm... ga ada tante" jawab El ragu.
"El... tante sudah dengar semua dari Della" ucapan mama Della membuat El membendung air matanya.
"El... kalo tante boleh kasih saran, El ga perlu lari dari bunda. Karena yang tante liat, bunda mu orangnya baik, bijak, dan sepertinya bukan type orang yang suka membedakan orang lain. Apalagi anak-anaknya." sambung mama Della. El menunduk dalam, menahan air matanya jatuh.
"El.. tante yakin, bunda mu orang yang baik. beliau sayang sama El sama seperti anak-anak kandung beliau sendiri. Dan.... beliau sekarang pasti lagi sedih mencari El" semua yang di katakan mama Della di benarkan El dalam hatinya.
__ADS_1
El mendongak ke atas, masih mempertahankan air matanya turun, dan memberanikan diri menatap wajah mama Della. Dan air mata itu mengalir deras sudah tak terbendung lagi. Mama Della membawanya ke dalam pelukan nya.
"Tante ga keberatan El tinggal di sini untuk sementara, bahkan malah seneng Della ga kesepian lagi. Tapi El juga harus memposisikan diri, bagaimana jika El jadi bunda yang sayang sama putri angkatnya tapi putrinya malah meninggalkannya" kata mama Della sambil mengusap punggung El. Yang membuat El semakin merasa bersalah.
"Ya udah sekarang El istirahat dulu, tenangkan diri dulu, dan ingat kata-kata tante tadi.. BUNDA SAYANG SAMA EL" Mama Della melepaskan pelukannya, memegang dagu El.
"Iya tante makasih nasehatnya" El mencoba menaikkan sedikit bibirnya, memaksa tersenyum. Mama Della meninggalkan kamar itu, sambil menepuk bahu putrinya, seolah memintanya untuk memberi kekuatan kepada El.
***
"Iya kak, tapi bunda ga tenang sebelum ketemu adek" bunda terisak kembali.
"Sabar bun, pasti kita segera menemukan adek, pasti bun..." kata kak Rani lagi. Bunda mengangguk mengusap air matanya.
"Bang, sebaiknya tujuan kita kemana dulu?" tanya kak Rani menoleh ke arah abang.
__ADS_1
"Kakak tau rumah temen-temen deket nya adek?" Abang balik bertanya.
"Eehmm... lupa, inget wajahnya tapi lupa namanya... lama ga ketemu sama mereka" kak Rani mencoba mengingat namanya.
"Bunda ingat Meta... Mi... Eehh... Mita, kalo ga salah tetangga mbak Ririn" bunda mengingat ingat.
"Berarti nanti kita pulang dulu, kita pastikan ke mbak Ririn dulu, bang" perintah kak Rani.
"Iya kak" abang tetap fokus menyetir, mereka sudah masuk ke kota, masih sekitar dua puluh menit lagi sampai di rumah bunda. Bunda makin cemas, tidak sabar ingin segera bertemu dengan putri bungsu yang di rindukannya.
"El dimana kamu dek? Bunda ga mau El pergi, bunda sayang El... Ya Tuhan jangan biarkan dia pergi dari kami, Engkau tau bagaimana sayang nya kami dengan nya." Bunda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kak Rani memeluk bunda, lalu mencium tangannya, seolah memberi kekuatan pada bunda.
"Bunda tenang ya, kita sudah mau sampai, bentar lagi" kak Rani berharap bunda lebih tenang.
__ADS_1