Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
Pergi


__ADS_3

El menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, menelungkupkan wajahnya di atas bantal yang dia fungsikan untuk meredam tangisannya yang lumayan keras. Dan bantal itu sangat membantu El, karena buktinya tidak ada satupun orang yang mendengar suara El.


"Aku bukan anak kandung ayah bunda... Tapi kenapa mereka tidak memberi tau aku... aku anak seorang penghib...." Tangisannya kembali pecah, dia benar-benar kacau malam itu.


Lalu dia berpikir apa yang harus dia lakukan setelah dia mengetahui semuanya. Dia mengusap air matanya, menarik nafas dalam, dia memiringkan tubuhnya lalu mulai berpikir jernih.


Terdengar suara langkah kaki menuju ke kamarnya, El buru-buru mengusap air matanya lalu segera memejamkan matanya. Dia mengatur nafasnya agar terlihat natural, agar terlihat benar-benar dalam keadaan tidur.


Pintu kamarnya terbuka, ada langkah kaki mendekat lalu mengusap kepalanya, ada isakan kecil yang El yakini itu adalah bunda.


Bunda merapikan rambut El yang berantakan, lalu di cium nya kening El, agak lama. Setelah itu, bunda meninggalkan El di kamarnya sendiri.


***

__ADS_1


Sudah hampir jam satu pagi El sama sekali tidak merasakan kantuk, sumber air matanya sudah kering, dan tidak bisa keluar lagi.


Tiba-tiba dia punya keinginan untuk pergi dari rumah, dia kecewa atas ketidakjujuran keluarga nya.


Lalu El mengemasi beberapa baju ganti, selain itu dia tidak membawa apapun. Dia mulai menulis surat untuk bunda, dia mau mencurahkan sedikit isi hatinya. Sebenarnya dia juga sadar, keluarga nya memperlakukan dengan baik. Bunda tidak membedakan dalam mendidik anak-anak kandungnya dengan diri nya. Tapi rasa kecewa dan marahnya lebih besar, dia yakin, dia harus pergi dari mereka.


Terlebih dia tahu abang juga mencintai dia, tapi bunda melarang hubungan mereka. Walaupun ada kelegaan dalam hati El, karena dia dengan abang tidak memiliki hubungan darah. Tapi larangan bunda agar mereka tidak saling mencintai, sangat menyakiti hatinya.


***


Dan sebelum pergi, El menutupi guling nya dengan selimut, biar nanti jika ada orang yang masuk ke kamarnya, menyangka dia masih tidur.


Pukul dua dini hari El mengendap-endap keluar dari kamarnya, suasana masih sepi tidak ada satu orang yang tampak, pastinya mereka sudah kelelahan dengan dengan acara beberapa hari ini. El menggendong ransel di punggungnya.

__ADS_1


El berjalan keluar tanpa ada satu orang pun yang menyadarinya. Dia menembus dingin, dini hari ini. Tidak ada satu kendaraan pun yang lewat, dia berjalan cukup jauh, lalu tiba-tiba dari belakang ada suara mobil. Dia menengok sebuah mobil pick up yang membawa sayuran, dia menyetop dan mobil itu berhenti di samping El.


"Mau kemana mbak?" tanya sopirnya, nampak di sampingnya ada seorang ibu-ibu tua baru bangun tidur, beliau pakai kebaya, mungkin ibu ini pemilik sayuran yang mau di jual ke pasar.


"Pak, apa mobil ini lewat stasiun?" tanya El


"Sebenarnya ga lewat mbak, tapi nanti ga apa, bapak lewatkan di depan stasiun, dekat kok sama pasar yang kami tuju" jawab bapak itu lagi.


"Boleh saya numpang pak?" tanya El lagi untuk memastikan.


"Iya nak sini, duduk di samping ibu" kata ibu tadi sambil mendorong pintunya dari dalam.


"Makasih bu" El menyambutnya dengan sukacita. El mengangguk sopan, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah ibu itu. Lalu bapak sopir itu melajukan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2