Jatuh Cinta Dengan Abangku

Jatuh Cinta Dengan Abangku
El hilang


__ADS_3

El baru sadar, sesampai di kota, dia mau kemana, belum ada tujuan.


"Della" Hanya itu yang terlintas dalam pikiran El.


El menyalakan smartphone nya, lalu mengirim pesan ke Della.


El : "Del, gue mau ke rumah lo, numpang untuk beberapa hari. Nanti gue cerita masalahnya, ini gue di kereta, hp gue matiin, gue ga mau di ganggu dulu. Ini rahasia kita berdua, gue percaya lo" El kembali mematikan smartphone nya, dia menarik nafas dalam.


"Dalam hitungan jam, aku kehilangan semua, kebahagiaan bersama keluargaku, semoga mereka tidak menemukanku. Akan lebih baik buat semua" lamunan El pecah karena pengeras suara mengatakan kalau kereta segera masuk ke dalam stasiun.


"Selamat tinggal bunda, kakak, abang, Axel, El menyayangi kalian semua. Tapi ini yang terbaik, agar kita tidak saling menyakiti" El bangkit dari duduknya, lalu berdiri, menunggu penumpang kereta turun, sebelum dia naik.


Di dalam gerbong tidak banyak penumpangnya, mungkin karena bukan musim liburan, jadi ga banyak orang bepergian. El duduk di samping jendela, kebetulan sisi depan dan sampingnya kosong. Keberuntungan baginya bisa menyelonjorkan kakinya. Tidak memerlukan waktu lama El segera terlelap.


***

__ADS_1


Pukul lima pagi bunda terbangun dari tidurnya, hari ini mereka bersiap untuk pulang. Bunda masak untuk makan pagi, tapi sebelumnya di ingatnya kejadian semalam, apa yang di katakan abang.


Bunda melangkah ke kamar El, di lihat nya kamar itu masih gelap, posisi tidur El masih sama dengan semalam. Bunda mengurungkan niatnya untuk masuk, membiarkan El, karena di yakini El pasti kelelahan dengan acara beberapa hari ini.


"Bunda kenapa?" kak Rani muncul tepat saat bunda menutup pintu kamar El.


"Melihat adek, kayanya dia pulas banget tidurnya" kata bunda pelan, takut membangunkan El.


"Dia pasti lelah dengan emosi nya kemarin bun" ucap kak Rani sambil beriringan dengan bunda berjalan menuju dapur.


"Emosi?" Bunda mengulangi kata kak Rani.


"Adek cemburu sama abang bun" kata kak Rani lagi.


"Jadi adek mu juga menyimpan rasa itu ke abang?" tanya bunda yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.

__ADS_1


"Kakak rasa gitu bun" jawab kak Rani.


Tubuh bunda terasa lemas, air matanya menetes dan di letakkannya pisau dan sayurannya, lalu duduk di kursi dapur.


"Apa yang harus bunda lakukan kak?" tanya bunda sambil mengusap air matanya.


"Bunda yang terbaik buat kami semua, pasti bunda juga memberi keputusan yang terbaik buat kami semua" kak Rani memeluk tubuh bunda.


"Apa bunda harus merestui mereka?" bunda mulai terisak.


"Bunda berdoa dulu, pasti dapat keputusan yang terbaik bun" kak Rani menyeka air mata bunda.


***


Pukul tujuh pagi, hanya El yang belum tampak keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Kak, kita ke makam eyang dulu sebelum pulang. Bunda mau bangunkan adek dulu, tumben jam segini belum bangun" ucap bunda setelah selesai menyiapkan makan pagi.


"Dek, sudah siang, ayo bangun. Kita ke makam eyang sebelum pulang yuk" ujar bunda sambil membuka gorden dan membuka jendela kamar El. Melihat El tidak bergerak sama sekali, bunda mendekat ke ranjang El. Bunda menggoyangkan tubuh El, tapi ada sesuatu yang aneh, bunda membuka selimut, sontak terkejut.


__ADS_2