
Pukul enam, mereka sudah bersiap untuk pergi, tinggal menunggu kedatangan kak Rani dan keluarganya. Setelah membuat kue bolu, sama brownies matcha untuk oleh-oleh keluarga pak Arya, abang menyempatkan diri membelikan El gaun untuk bunda dan untuk El, di butik baju yang tak terlalu jauh dari rumahnya.
"Kamu cantik dengan baju itu El" ucap abang melihat El keluar dari kamarnya dengan tongkat penyangga.
"Berarti biasanya ga cantik?" tanya El merajuk.
"Yang abang mau, El cukup cantik hati. Biar cantik wajahnya cukup abang yang menikmati" abang merayu agar El tak keterusan ngembeknya. Dan El berhasil tersenyum manis dengan ucapan abang.
"Ateee...." teriak Axel dari luar rumah, setelah dia turun dari mobil orang tuanya.
"Axeeelll... ate kangen... cium ate dulu dong", El sedikit menunduk menyodorkan pipinya. Dan Axel tersenyum lalu mengecup kedua pipi tantenya. Abang yang melihat kelakuan mereka tersenyum, lalu mendekat ke El.
"El sayang banget sama Axel, gimana ntar kalo punya anak sendiri" bisik abang, yang membuat El tersipu, lalu mencubit mesra perut rata abang.
"Udah siap semua? tanya kak Rani di pintu.
"Udah kak, tunggu bunda ambil tas" kata El.
__ADS_1
"Sayang kamu baiknya masuk mobil dulu deh" kata abang memapah El perlahan.
"Mbok, ntar kunci nya di cabut aja ya, saya bawa kunci, biar mbok bisa tidurnya ga usah nunggu kita" kata bunda.
"Baik bu" ucap mbok Mar, mengantar mereka ke depan rumah.
Sepeninggal mereka, Gio yang tidak tahu El sudah jadian sama abang datang, dan memencet bel rumah.
"Yaaa... cari non El ya den?" tanya mbok Mar dari dalam pagar.
"Waduh den, non El sama keluarganya baru aja pergi ke undangan bos nya den Bima" jawab mbok Mar.
"Ohh ya sudah mbok, tolong sampaikan aja, Gio datang, makasih ya mbok, saya permisi" Gio pergi dengan perasaan kecewa.
"Baik den.. hati-hati di jalan" ucap mbok Mar yang menangkap kekecewaan Gio.
***
__ADS_1
Sementara itu, keluarga El tiba di sebuah rumah megah milik pak Arya, satpam rumah sudah terbiasa dengan abang, membukakan pagar tinggi. Abang terkadang di suruh pak Arya untuk mengambil atau mengantarkan sesuatu ke rumah, karena pak Arya lebih percaya kepada abang.
Mereka turun dari mobil, abang memapah El yang menggunakan tongkat penyangganya, berjalan menuju rumah besar itu.
"Selamat malam mas Bima... bapak sudah menunggu" kata satpam itu mengangguk hormat.
"Malam pak Udin... makasih" kata abang sopan.
"Selamat malam Bima... mari masuk..." Pak Arya menyambut keluarga El dengan hangat di depan pintu, menyalami mereka satu per satu.
Di dalam ruang tamu besar, yang sudah di sulap seperti acara pesta sederhana bagi orang-orang kaya, sudah ada istri, putra putri dan cucu pak Arya. Dan beliau memperkenalkan mereka satu persatu. Di sana ada dua orang bule yang pastinya adalah menantu pak Arya, yang berdiri berdampingan dengan pasangannya masing-masing.
"Nah.. anak-anak ini Bima, orang yang sering papa ceritakan, sudah enam bulan ini kerja sama papa, dan papa sudah lihat hasil kerjanya yang bagus di kantor kita. Dan sesegera mungkin pria ini akan menjadi kandidat papa untuk di promosikan naik jabatan" kata pak Arya penuh percaya diri. Keluarga El semua terkejut, karena mereka tidak menyangka akan hal itu.
"Pak Arya terlalu memuji, saya masih harus banyak belajar, saya masih belum tahu apa-apa soal bisnis" kata abang merendah.
"Nahh.. ini yang saya suka, orang kalo banyak ilmu suka merendah" kata pak Arya di sambut tawa semua yang ada. Lalu dua orang pelayan rumah yang berseragam keluar dengan membawa makanan ringan dan minuman.
__ADS_1