
Lila melangkah kearah pintu depan mobil, tapi dengan sigap El membuka lalu duduk di depan, Lila sangat kesal memasang muka masam lalu membuka pintu belakang. Abang yang melihat hanya geleng-geleng kepala, dan tersenyum ke arah El. Abang tahu El tidak mau perhatiannya terbagi. Begitupun bunda yang melihat kelakuan mereka dari kejauhan, hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lalu masuk ke dalam, setelah mobil itu mulai meninggalkannya.
"Abang kenapa senyum-senyum sendiri" tanya El setelah abang melajukan mobilnya, dia pura-pura bodoh, dan tersenyum penuh arti melihat kelakuan abang. Abang yang hanya mengelus kepala El, yang semakin membuat gusar Lila.
"El emang kamu belum punya pacar ya?" tanya Lila memecah keheningan, seolah mau mengulik tetang El.
"Kalo aku punya pacar, aku maunya yang kaya abang, baik, perhatian, menjaga aku. Jadi karena aku belum punya pacar, aku ga mau abang membagi nya sama orang lain" celoteh El yang membuat Lila makin geregetan, mengepalkan tangannya. Abang tersenyum lebar mendengar jawaban El.
"Mana boleh pacaran sama abangnya sendiri?" Lila mencoba mengusik El lagi.
"Kan aku bilang aku butuh perhatian abang, bukan pacaran sama abang, lagian selama ini abang sayang banget sama aku kok. Makanya kenapa sampe sekarang abang juga ga mau pacaran" jawab El ketus. Abang semakin tidak tahan menahan tawanya.
__ADS_1
"Tapi aku deket sama abang mu lho" Lila mencari cara untuk membuat El kesal sama dia.
"Oya? Kalo kakak deket sama abang, apa abang ngajak kakak dateng ke acara kami tadi? harusnya itu acara kan buat keluarga sama tetangga eyang aja" skak mat dari El untuk Lila. Wajah Lila merah padam, beruntung saat itu malam jadi tidak terlihat, kalau dia sedang menahan malu dan marah.
"Tapi bunda yang minta aku dateng" jawab Lila ngeles.
"Berarti yang sayang sama kakak bunda dong, bukan abang" jawab El santai, kali ini abang tertawa keras, semakin membuat Lila terbakar hatinya.
"Tapi restu orang tua itu sangat penting" Lila masih ga mau kalah.
Lila geram, dia mengepalkan tangannya yang mulai berkeringat. Dia benar-benar kesal, apalagi melihat El bersandar manja ke bahu abang, abang mengacak-acak rambut El. Untungnya sudah sampai di rumah Lila, lalu dia turun dari arah kanan, seolah sengaja mendekat ke abang.
__ADS_1
"Bim, makasih ya udah anter aku, sampe besok, see you.... Dadaah El" ucap Lila sambil melongok, ke jendela, sengaja memancing kemarahan El dengan menyentuh bahu kanan abang. Lalu melambaikan tangannya ke arah El, terlihat dari senyum liciknya. El melambaikan tangannya sambil memutar bola matanya.
***
"Nyebelin banget sih bang, berarti besok dia mau datang lagi... huufft..." ucap El kesal mengingat kelakuan wanita it.
"Biarin aja dek, toh abang ga nanggepin dia, abanh juga ga suka cewek agresif kaya dia. Bagaimanapun kita orang timur, etika nya cowok yang harus agresif ke cewek, bukan sebaliknya" abang terlihat kesal, dan mengungkapkan alasan kenapa abang tidak suka Lila. El tersenyum puas dengan jawaban abang.
"Tapi ngomong-ngomong adek bener, kalo cari cowok, yang kaya abang? Atau mau yang mirip abang?" goda abang yang membuat wajah El merah merona.
"Apaan sih, itu kan alasan adek ke kak Lila" jawab El ngeles.
__ADS_1
"Yakin?" Abang tidak berhenti menggodanya.
"Abang barang langka lho... hahahah...." kata-kata abang justru membuat El mencubit pinggang El, yang makin membuat abang tertawa lepas.